Hingga yang kaucinta merasa bebas


“Mencintalah sedemikian hingga yang kaucinta merasa (ter)bebas(kan).” Demikian ujar Thich Nhat Hanh. Sebuah sapaan yang terus lekat di hati. Aku dapat merasakan kebenaran yang ia kandung. Aku pun dapat merasakan lengketnya kalimat itu setiap ia melintas dalam kesadaranku. Sebuah pekerjaan rumah yang belum tuntas dalam sekolah kehidupanku.
Continue reading

Mengingat untuk menyelaraskan diri


“When you have finished your prayer, remember God – standing, and sitting, and lying down; and when you are once again secure, observe your prayers. Truly, for all the faithful prayer is a sacred duty joined to particular times.” QS 4:103, dari The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan sembahyang(mu), ingatlah Tuhan di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu kembali merasa aman, maka dirikanlah sembahyang itu. Sesungguhnya, bagi orang-orang yang percaya dan merasa nyaman dengan Tuhan, sembahyang merupakan suatu ketetapan luhur yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.” QS 4:103

Shalat (sembahyang) dan zikr (mengingat). Dua kata yang senantiasa menggelitik keingintahuan saya. Saat dua kata tersebut muncul dalam satu ayat dan seperti bergantian, saya mencoba memaknai ayat tersebut bagi saya pada saat ini. Yang saya tahu, pesan yang terkandung di dalamnya teramatlah penting.

Ayat ini merupakan sapaan yang demikian kuat untuk senantiasa menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu kita pada setiap saat. Untuk mengizinkan diri agar senantiasa tergerakkan dari lubuk hati yang terpenuhi oleh Tuhan.
Continue reading

Percaya dan nyaman


Let there be no compulsion in matters of faith
God is the Protector of those who have faith, leading them out of the depths of darkness into the light.
[QS 2: 256, 257]

Tidak ada paksaan dalam beragama (din) […]
Allah Pelindung (waliyy) orang-orang yang beriman; Dia menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya […]
[QS 2:256,257]


Dua penggalan ayat ini seakan merupakan untaian cerita bagi saya. Pada ayat pertama, kata Arab yang digunakan adalah “Laa” yang bermakna “tidak ada” sebagai suatu keniscayaan. Benar-benar tidak ada. 

Sementara kata beragama dalam hal ini mengacu ke kata Arab “din” — agama dalam artian cara mengada, jalan hidup, prinsip-prinsip pribadi yang tertanam kuat dalam diri kita dan tercermin dalam pikiran, ucapan, perbuatan dan perilaku kita. 

Terlepas apa yang kita akui sebagai agama kita, apa yang sebenarnya kita yakini sebagai nilai landasan hidup senantiasa tercermin dalam keseharian secara alami dan otomatis. Berlaku dua arah — pikiran, ucapan, tindakan, dan perilaku keseharian kita merupakan cerminan apa yang sebenarnya kita yakini dalam hidup. 

Continue reading

Encore, Mbak Yun

IMG_3539-1

Some posts are worth posting in two languages, or more.

I would like to introduce a cousin of mine, Mbak Yun [Mbak means elder sister, a word we use to call someone (in this case a female someone) to show our respect). Mbak Yun comes from a simple family. She lives in Solo, Central Java, Indonesia.

To make ends meet, she and her husband do whatever they can. Going to the traditional wet market before dawn to buy vegetables whosale. Opening a small shop at their house to sell everyday things, including basic foods and gas for cooking.

Continue reading

Janji Tuhan

Kembali saya membuka buku terjemahan beberapa ayat Al Quran dari Camille Helminski. Kali ini buku terbuka pada halaman bertuliskan ayat berikut:

The promise of God – never does God deviate from His promise;
but most people don’t understand.
They know only the external in the life of this world;
don’t they ever reflect within their own mind?
Only for just ends and for a determined time did God create the heavens and the earth and all between them;
Yet there are truly many among human kind who deny the meeting with their Sustainer!
Do they not travel through the earth and see what was the end of those before them?
They were superior to them in strength;
They tilled the soil and populated it more extensively than these have done;
There came to them their messengers with clear signs.
It was not God who wronged them but they who wronged their own souls.
[QS 30:6-9]

Continue reading

“… sebagaimana Tuhan telah berbuat baik padamu”

Bersama seorang sahabat, beberapa waktu lalu saya membolak-balik terjemahan beberapa ayat Al-Quran dalam buku The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an oleh Camille Adams Helminski dari The Threshold Society. Teramat menghangatkan hati.

Sahabat saya mengungkap betapa kita butuh diingatkan akan keindahan dan kelembutan makna Al Qur’an. Betapa Al Qur’an benar-benar suatu sapaan Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang yang mampu menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri masing-masing kita.

Saya merasa belum layak menjadi penerjemah Al Qur’an. Namun tentu tak salah bagi tiap-tiap insan pembaca Qur’an yang merasa tersentuh dengan tanda-tanda (ayat) yang indah ini, untuk berbagi rasa.

Pagi ini saya membuka kembali buku tersebut. Jemari saya membuka halaman dengan ayat berikut:

Qarun was doubless among the people of Moses; but he acted insolently towards them; such were the treasures We had bestowed on him that their very keys would have been a burden to a body of strong men. Witness, his people said to him: “Don’t gloat, for God does not love those who take pride in riches.

But with that which God has bestowed on you seek the Home of the Hereafter, yet do not forget your portion in this world—do good as God has been good to you and do not seek to do harm in the land; for God does not love those who act harmfully.” [28:76-77]

Continue reading