Invite: Ibn Arabi Study Week

Dear friends,

We are very pleased to share with you that Beshara SEA will be conducting a nine-day Ibn ‘Arabi’s Fusus Study Retreat on December 3-11, 2016.

The study will be of selected passages from “The Wisdom of Spirituality in the word of Jacob”, a chapter from Ibn ‘Arabi’s Fusus al Hikam book.

Avi Abadi, who has been a student of the work of Muhyiddin Ibn ‘Arabi for many years and is currently based in the UK, will facilitate the course.

The course is a residential retreat, starting on Saturday morning (Dec 3, 10AM) and running until after lunch on the following Sunday (Dec 11, 2PM). The timetable will incorporate meditation, study, conversation, devotional practice, private contemplation and service.

The course will take place near Jakarta (Details of the venue to be advised on later dates). The fee is Rp 4 million, including accommodation and all meals.

This retreat course is opened to all who wish to attend it.

Applicants who are not familiar with Ibn Arabi’s terminology and central themes of the Fusus al Hikam, however, need to be advised that the ideas that will be presented and discussed on the course will be demanding.

As Ibn ‘Arabi wrote, “Retreat brings knowledge of the world” — this Beshara course, in the spirit of active and intentional retreat, aims to open a space for real knowledge to emerge through all dimensions of the retreat, be it focused study, devotional practice, private contemplation or service. All of these dimensions are held in equal regard as each is a direct way to be of service to Reality, to our fellow human beings and to the world.

We look forward to welcoming you to this valuable course. Please feel free to contact us at beshara.sea@gmail.com should you have further questions or would like to participate.

Sincerely,

Beshara SEA

 

About The Fusus al Hikam

This seminal work by Ibn ‘Arabi, dating from the 13th century, describes the meaning of universal human spirituality through the medium of 27 prophetic figures, from Adam through Abraham, Moses and others to Jesus and Mohammed. Ibn ‘Arabi’s aim is to show how each of these luminary figures exemplified a particular wisdom available to mankind; a harmonious vision of reality which integrates differences without destroying them. Themes that arise range from explorations of uniqueness, fate and destiny, the place of worship and devotion, praise and service and the role of mankind. To read this book is to encounter the full scope of what it means to be truly human.

 

 

 

 

 

Ibu Lumrah

img_5683-3

Pada suatu masa, hiduplah seorang ibu bernama Lumrah. Perawakan Bu Lumrah sedang; Tidak besar, tidak pula kecil. Agak sekel, kalau kata warga dusun. Ia dikenal sumringah, gesit, dan ringan tangan. Ibu Lumrah kerap tampak meluncur ke sana ke mari dengan baju lurik dan jariknya, tanpa alas kaki; menyapa ramah dan berbincang dengan warga. Kalau sedang tak berkeliling, Ibu Lumrah berdiam di rumahnya, seraya bebersih, mengurus ladang, atau menemani tamu yang mampir di warung teras rumahnya.

Ibu Lumrah tinggal di dusun Nengah – di dataran berhawa sejuk di pusat pulau, dikelilingi bongkahan gunung hijau menjulang megah. Warganya tidak terlalu banyak. Tapi mereka praktis memenuhi segala kebutuhannya, berkat kekayaan alam sekitar, kemampuan masing-masing warga, dan hidup saling memperhatikan dan salng bantu yang demikian mengakar di dusun itu. Continue reading

Dengan hati

3323f6c2-426a-4e82-8567-2f8796bf6f44

Foto: Pagelaran Matah Ati, Solo, 2012

Mereka yang hidup dengan hati adalah orang-orang terkaya di dunia. Bukan karena mereka punya lebih, tapi karena mereka sadar apa yang mereka miliki. Karunia tak terkira jumlah dan kadarnya, hadir semata sebagai hadiah dari Sang Maha Kasih, Maha Sayang. Sesederhana napas — hadir bukan dari kemampuan diri, namun bwana alit bwana agung yang tak henti bekerja sama mengalirkan prana ke dalam dan luar diri.

Continue reading

Content

The traffic was rather easy that morning. I was on my way to buy some food to bring home. I stopped at the red light. The car on my right stopped, too, despite being on the lane for those who want to make a U-turn. The cars behind it honked repeatedly. It would not buldge. Another ordinary weekend morning in town.

Continue reading

Mengingat Pak Arief

Kemarin diingatkan Facebook bahwa Pak Arief Mulyadi (alm) berulang tahun.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, saya meminta kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkan aku bagaimana membaca Al Quran, karena aku tidak percaya bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, se-strict ini (ini itu harus; ini itu gak boleh, haram; salah sedikit dosa, gak diterima).”

Pak Arief merupakan salah satu respon Tuhan pertama dari permintaan saya itu. Pembahasan topik apapun dalam kajian yang ia fasilitasi, selalu setia dengan Al Quran. Setiap kajian, bisa membahas puluhan ayat bahkan lebih. Setiap topik, setiap pertanyaan selalu ditanggapi dengan rangkaian ayat ke ayat, di luar kepala.

Pembawaannya santai dan lugas. Mau seberapa sering atau jarang datang, seberapa awal atau seberapa telat, tidak masalah. Pake hijab rapat, baju nusantara, atau baju santai pendek, tidak masalah. Walau suara kerap menggelegar, tapi tidak pernah terasa merendahkan. Tidak ada judgement.

Selama bertahun-tahun, saya datang ke pengajian Jumat malamnya di jalan jaha, dan bertahan hingga larut malam atau bahkan dini hari. Orang-orang dayang dan pergi. Teman membawa temannya lagi. Makanan melimpah entah siapa saja yang menbawa. Tak ada pungutan wajib yang ditarik. Semua merupakan perbuatan baik semata.

Satu ayat sering ia gaungkan adalah QS 16:128 – “Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang takwa dan berbuat baik.” Perbuatan baik sangat ia tekankan. Gak jalan deh takwa kalau tidak ada perbuatan baiknya. Tidak heran, ia dan murid-muridnya seperti tak lelah berbuat baik terhadap siapa pun, tak pandang latar belakang, suku, atau agama. Bentuk nyata pengabdian kepada Tuhan.

Ia membuka mata saya, bahwa Al Qur’an benar-benar tuntunan luhur yang manusiawi, logis, lengkap, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia memperkenalkan kepada saya konsep Islam yang praktis, santun, dan terbuka.
Ia juga yang memperkenalkan ke saya istilah “kacung Allah”🙂 — nurut aja disuruh ngapain sama Allah kalau kita udah janji loyal sama Dia. “Tanyakan semua kepada Tuhan, pada setiap langkah. Kalau gak tahu mau tanya apa, tanya sama Dia kita harus tanya apa,” katanya.
Suatu kali ada seorang hadirin bertanya, “Pak, menurut Bapak, orang kristen yang baik itu bakal masuk surga atau neraka?”

Spontan Pak Arief menjawab dengan gaya khasnya, “Mana gua tau, emang gua Allah? Daripada nanya tentang orang lain, mending kita nanya ke diri kita, kita bakal jadi penghuni surga atau neraka.” Lanjut setelah itu semalaman kami membahas amalan-amalan yang menjadikan kita penghuni surga; dan apa yang dimaksud surga dan neraka. “Surga itu,” katanya, “bisa ada di sini, kini. Gak perlu nunggu setelah meninggal.”

Pada pertemuan saya terakhir dengannya, di penginapan sederhana tempat ia tinggal bersama istrinya, setelah mengalami stroke untuk kesekian kali, kami berbincang panjang lebar tentang negara Pancasila. Dia memperlihatkan bagan tentang pandangannya apa saja yang perlu dikerjakan agar Indonesia sejahtera. Pak Arief bilang ke saya, “Gak perlu pilih semua. Pilih satu saja, apa yang kamu mau kerjakan, dan kerjakan. Yang lain, biarkan orang lain mengerjakannya.” Sambil kembali menekankan bahwa kita sudah janji sama Allah untuk jadi kacungnya.

Sejak memberikan jawaban awalnya berupa Pak Arief dan sharingnya, Tuhan tidak pernah berhenti menjawab permintaan saya. Ia terus menunjukkan kepada saya, bahwa Ia Maha Pengasih, Maha Penyayang, asal kita tekun membaca.

Pak Arief, terima kasih banyak. Shalawat dan salaam. Alhamdulillaahi rabbilalamiin.

A different response

11188365_10152863772782379_8191483937118982225_n

 

Alone time is often revealing. There was one particular time when I spent days being with nothing but myself. Well, with nothing but myself and my memories, that is. Along with all the emotions that latched on to them.

The memories must have been aware that I was listening. For they came barging like flood into my consciousness. Continue reading