Tuhan, terima kasih untuk …

Dear Tuhan,

Aku sebenarnya berterima kasih atas hidupku. Demikian banyak kemudahan dan keberlimpahan yang tak hentinya Kau tuangkan dalam hidup ini.

Namun, saat ini, aku mau spesifik. Aku ingin berterima kasih atas tiga hari terakhir yang Kau hidangkan untukku, dan, ge-erku, hanya untukku.

Aku berterima kasih atas tiga hari yang kulewati bersama sekelompok manusia luar biasa.

Mereka itu, masih sangat muda dan berasa dari keluarga serta latar belakang yang demikian sederhana. Namun kedua hal tersebut bukan halangan sama sekali.

Selama bersama mereka, yang kudengar hanyalah rasa syukur dan tekad untuk terus bermanfaat bagi diri sendiri dan semakin banyak makhluk-Mu di semesta alam. Menjadi rahmatan lil alamin. Kesederhanaan dan mudanya usia bukan halangan, tetapi modal yang semakin melengkapi ini semua.

Pasukan-Mu yang bersenjata pamungkas kasih sayang-Mu yang telah  Kautanamkan kuat di dalam hati mereka. Luar biasa.

Aku berterima kasih telah diberi kesempatan untuk menyaksikan semua ini. Menyaksikan dalam arti melihat; menyaksikan dalam arti menjadi saksi.

Aku berterima kasih karena Kau taruh aku dalam lingkungan-Mu. Lingkungan yang demikian kental akan keindahan dan begitu kuat terwarnai dengan segala Nama indah-Mu. Semoga membasahi dan mewarnai seluruh keberadaanku selamanya.

Aku berterima kasih karena telah diizinkan untuk mencicipi bagaimana diterima, dihargai, bahkan disambut, sebagai diriku apa adanya. Telah diingatkan atas keluguan dan kepolosan yang demikian membebaskan.

Aku berterima karena telah Kau beri kesempatan untuk merasakan bila sekelompok individu telah bertransformasi menjadi layaknya sebuah organisme tunggal,  bergerak bersama secara alamiah, otomatis, dan suka rela dengan demikian harmonis dan saling mengasihi.

Aku berterima kasih atas segala obrolan ringan dan serius, celotehan spontan, canda lucu yang tetap santun, tawa lepas dan segala kejutan menyenangkan yang menghangatkan hati dan menyunggingkan senyum.

Aku berterima kasih karena telah ditaruh dalam posisi tidak tahu dan berserah diri. Dibimbing untuk diam dan mendengarkan dengan senang hati.

Dalam ketidaktahuan, keberserahan diri, diam, dan mendengarkanku, aku menyadari ketidakberdayaanku dan menyadari keberadaan serta pertolongan-Mu setiap saat hingga ke hal-hal sekecilnya. Bisik-Mu, tangan-Mu, sapa-Mu, senyum-Mu, ridha-Mu, daya-Mu – itu semua Kau. Bukan aku.

Aku tergerak oleh dan karena-Mu. Aku suka itu. Hasilnya jauh luar biasa ketimbang bila kubergerak sendiri sesuai dengan pengetahuanku yang terbatas ini.

Aku berterima kasih karena telah diingatkan akan kasih sayang-Mu yang demikian indah dan kedekatan-Mu yang lebih dekat dari urat nadiku.

Aku berterima kasih karena Kau telah memberitahu aku dengan sejelas-jelasnya apa preferensiku. Dan preferensiku, adalah Kau. Aku merasa nyaman bersama-Mu. Kemudian, tak cukup itu, Kau pun memberiku teman-teman seperjalanan yang satu irama, satu frekuensi, satu arah keberadaan, dan satu preferensi: Kau.

Aku berterima kasih karena telah diberi kesadaran bahwa aku telah berada di kapal-Mu, aman dan selamat

Seperti Rumi bilang, In the ark of Noah, stop swimming. Aku sudah di kapal-Mu. Kini aku bisa bersikap sebagai orang yang telah aman. Telah nyaman dengan-Mu dan tempat yang telah Kau tentukan untukku. Layaknya seorang anak yang menyadari dan merasakan cinta tanpa syarat dari orangtuanya, aku kini bebas berkembang menjadi diriku sendiri.

Aku berterima kasih karena selama tiga hari ini, Kau tidak menyisakan apa-apa dalam keberadaanku, kecuali kepasrahan (secara suka rela dan senang hati), kerelaan untuk mengikuti irama-Mu, diamku, rasa syukur, serta rasa takjubku akan-Mu. Bahagia.

Dalam tiga hari ini, Kau tidak menunjukkan apa-apa kepada-Ku kecuali kebesaran-Mu, kemurahhatian-Mu, kasih-sayang-Mu, ketelitian-Mu, kedekatan-Mu, keluwesan-Mu, keringanan-Mu, dan kelembutan-Mu.

Terima kasih karena aku dapat menikmati dan merasa lancar dalam perjalananku berangkat ke tempat itu, dan perjalananku pulang dari tempat itu.

Terima kasih karena sesampaiku di rumah dengan aman selamat, aku menemui rumahku dalam keadaan utuh terjaga, dan keluargaku dalam keadaaan sehat, aman, dan saling menyayangi.

Jadi, Tuhan, aku berterima kasih. Untuk tiga hari ini. Untuk hidupku. Untuk perjalanan yang telah kulewati. Dan untuk masa depanku.

Semoga rasa ini terus tertanam kuat dan lestari dalam hati. Semoga rasa ini bisa menggerakkanku sesuai kodrat yang telah Kau tetapkan untukku. Semoga rasa ini bisa teradiasi ke lingkunganku dan semesta alam.

Catatan: Tiga hari terakhir, saya diberi kesempatan untuk mengikuti program ‘retreat’ yang bertema Hidup sebagai Wujud Rasa Syukur, dilengkapi dengan sesi-sesi pengenalan diri dan pemahaman Al Qur’an bersama teman-teman dari Rumah Kait/BSB Alang-Alang Plus – sebuah gerakan pendidikan dan pelatihan keterampilan gratis bagi keluarga sederhana (terutama kaum ibu dan anak-anak). 

2 thoughts on “Tuhan, terima kasih untuk …

  1. ittaputri (@arhiedstaputri)

    dear mbak eva….semalem waktu baca balasan mention darimu..aku langsung buka blogmu
    dan pagi ini..ditengah meja makan keluarga aku ngk kuat nahan air mata inikeluar…terutama untuk tulisan yang ini mbak…..
    terima kasih untuk pertemuan singkat dipekalongan dan tulisan-tulisan ini……

    Reply
    1. Eva Post author

      Sama-sama, aku pun senang ketemu teman-teman yang akrab dan semangat untuk membangun diri dan daerahnya. Semoga semangatnya terus berlanjut. Terima kasih aku jadi kembali membaca tulisan ini dan kembali teharu :’)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s