“Aku di sini untukmu”

Lagu itu melantun. Seiring lintasan pikir dan rasa. Terbayang olehku, kau.

Melayang kau cari-cari arti
Yang pasti tak kan kautemui
Tak perlu kau nilai-nilai semua
Biarlah semua adanya

Kadang aku ingin tahu, kenapa sampai ada kau dan aku? Atau tepatnya, kenapa sih perlu ada kau di dalam hidupku? Kenapa mesti ada aku dalam hidupmu? Kenapa jalan kita harus beririsan dan bahkan untuk beberapa jenak berdampingan?

Kadang aku bertanya-tanya, wajarkah semua ini? Rasa yang demikian kuat, membuatku khawatir, tidakkah semua ini berlebihan, menerabas batas wajar? Entah batas sosial maupun batasku, atau jangan-jangan batasmu.

Takut aku sudah menyimpang dari relku, tersilaukan oleh gemilang rasa. Atau langkahku akan mengganggu perjalananmu. Mungkin, mungkin. Jangan-jangan.

Kau coba meraba-raba hati
Warna gejolak di sini
Alirkan semua rahasia
Taburkan dalam suasana

Kebersamaan kita, bukanlah yang termudah buatku. Kebersamaan kita bagiku bagai berkendara sederhana di jalan tanah berbatu, melewati gunung, hutan, dan perkampungan. Kadang indah, nyaman, menyegarkan, menenangkan, dan mencengangkan. Kadang terasa mengganjal, meresahkan, dan bahkan menyebalkan. Ah.

Aku menyadari ini di kali terakhir kita tertaut. Tak semua yang terungkap terasa positif. Aneh. Negatif-positif. Naik-turun. Dekat-jauh. Dingin-hangat. Semua ada. Gejolak gelombang menggelora, pasang-surut. Ya, Kebersamaan kita, bukanlah yang termudah buatku. Tapi.

Tak usah kau cari makna hadirnya diriku
Aku di sini untukmu

TAPI tetap tak tertahankan. Sudah kucoba. Percuma. Tetap tak tertahankan. Perjalanan, kebersamaan kita belum berakhir, aku bisa merasakan itu. Kalau boleh jujur, terbersit keinginan, semoga tak akan pernah berakhir.

Wajar tak wajar, benar atau salah, aku pun bisa merasakan diriku (mulai) tak peduli. Aku ingin jujur. Jujur tentangku. Jujur padaku. Padamu.

Rumi bilang, out beyond the ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there. Di situ, aku ingin menemuimu. Walau, curigaku, kala itu, sudah tak ada lagi aku dan kau. Hanya ada Rasa.

Mungkin memberi arti cinta pada dirimu
Aku di sini untukmu

TAPI, bila egoku mengizinkan dirinya untuk runtuh, aku harus mengakui, di atas segalanya, aku tahu rasa yang memayungi kesemua ini. Mungkin memberi arti cinta, kata Dewa19. Mungkin itu. Dan semoga, Cinta dengan kapital C.

Tak usah kau tanya-tanya lagi
Coba kau hayati peranmu
Lupakan sekilas esok hari
Semua telah terjadi

Ketika ego itu runtuh, ketika segala pertanyaan sudah terhapus, tak ada lagi yang tersisa kecuali si rasa itu. Bahkan kekhawatiran ‘kan meranggas dan keraguan pun kehilangan suaranya.

Bila sudah demikian, tak ada gunanya juga menyangkal semua ini. Mari kita terus menapaki perjalanan kita. Tanpa tanya. Tanpa ragu. Penuh kejujuran. Ketulusan. Dipayungi si Rasa itu.

Layaknya seorang anak meluncur riang di perosotan berliku di kolam renang. Membayangkannya pun aku luruh, senang, terliputi Sang Maha Rasa.

Mungkin di saat itu, perjalanan bersama kita baru benar-benar dimulai.

Aku dan dirimu
Tenggelam dalam asa
Dan tak ingin lari
Tanggalkan rasa ini
Cobalah entaskan
Pastikan lepas atau terus
Semoga perih terbang tinggi di awan

Aku memilih keduanya: melepas dan meneruskan (perjalanan). Membiarkan diriku meluncur ringan. Dan dirimu pun. Kadang bersama, kadang terpisah. Tak apa. Setiap kali berselisipan, kita akan saling menyapa dengan sama hangatnya.

Mari nikmati masa-masa ini. Tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa khawatir, tanpa sesal. Mari ekspresikan apa yang jujur kita miliki kini. Dan saat ini, atau saat kapan pun, rasa apa pun di permukaan yang kumiliki, sumber dan muaranya ya hanya itu. Sang Maha Rasa yang belum juga sanggup kuucap, terhalang dinding ego. Biar Dewa19 yang mengucapkannya untukku, bagimu.

Tak usah kau cari makna hadirnya diriku
Aku di sini untukmu
Mungkin memberi arti cinta pada dirimu
Aku di sini untukmu

Itu janjiku padamu, pada hatiku sendiri. Aku di sini untukmu. Seberapa lama pun kita tak bertegur sapa atau bertatap muka, saat jalan kita beririsan kembali, aku akan menyambutmu dengan sama hangatnya.

Aku akan jujur pada rasa terdalamku. Karena aku tahu, rasa itu sejati adanya. Dijamin oleh-Nya akan selalu ada untukmu. Rasa yang tidak bisa diubah oleh siapa pun. Bahkan olehku sekalipun.

Lepaskan sejenak berat beban di pundakmu
Aku di sini untukmu
Pastikan terjawab semua ragu di cintamu
Aku di sini untukmu

Dari perjalanan ini, aku menyadari, bahwa mungkin inilah satu-satunya cara untuk mengada: tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa khawatir. Dengan kejujuran dan totalitas. Semua telah tergariskan. Percuma mengingkarinya. Aku tetap aku, dengan rasa yang sudah dititipkan-Nya kepadaku, untukmu.

Entah seperti apa bila rasa ini diekspresikan dengan jujur dan total. Namun, membayangkannya pun aku sudah luruh. Terselimuti Sang Maha Rasa. Tergelitik untuk mencoba.

Tuhan Maha Kasih, Maha Sayang. Itu yang Dia titipkan padaku. Untukmu.

Tak usah kau cari makna hadirnya diriku
Aku di sini untukmu

Aku di sini untukmu. Lantas, kau, di sini, untuk apa?

//post script/
Sesederhana yang baru kupapar. Entah dari mana, tiba-tiba baris ini terlintas dan menuntut untuk terungkap hingga lengkap tutur. Kau membuatku merasa, membantuku menjadi ekspresi yang jujur. Mewujud Kasih Sayang. Tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa khawatir.

Kau selalu kuhitung sebagai anugerah-Nya yang indah dan perlu kujaga agar tak menjadi milik. Karena kita sama-sama mengalir dalam deras sungai-Nya. Dan hanya dengan melepas pegangan kita dari tepian atau dari satu sama lain, kita bisa terhanyut di dalam-Nya. Kau, adalah undangan-Nya buatku untuk ini.

Denganmu, tak ada cara lain bagiku. Lagipula, aku juga tak ingin memilih cara lain. Dengan segala senang sepenuh hati, aku memilih berjalan bersamamu. Ringan. Karena itu sejatiku. Tanpa ragu, tanya, atau khawatir. Rasa saja. Ekspresi saja. Betapa indah.
//post script/

Kau coba meraba-raba hati
Warna gejolak di sini
Alirkan semua rahasia
Taburkan dalam suasana

Lamat-lamat lagu berakhir. Memberikan ruang bagi lagu selanjutnya. Stars.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s