Hidup dan hayat

Suatu kali tulisan itu terlintas di depan saya. Saya lupa tepatnya kata-kata apa yang digunakan, namun kurang lebih tulisan itu mengatakan: “Kesedihan itu tidak perlu dihayati.” Sebuah saran agar tak tenggelam dan larut dalam kesedihan.

Kata “dihayati” menarik perhatian saya. Kata hayat merupakan sinonim dari kata hidup. Namun, ketika diberikan imbuhan me- atau di-, kedua kata tersebut memiliki dua nuansa yang beda di lidah saya. Kata menghayati terasa jauh lebih dalam, jauh lebih holistik, seakan dialami oleh seluruh indera dan rasa yang kita miliki. Demikianlah penghayatan.

Mungkin demikian sejatinya hidup. Dihayati.

Tampaknya kata hiduplah yang mulai kehilangan bobotnya di mata saya. Dianggap ringan, dalam arti tidak diapresiasi seperti layaknya. Memberikan hidup terhadap sesuatu, sesungguhnya memberikan ruh terhadap hal tersebut. Dalam pengertian ini, hidup kembali mendekati nuansa kata hayat. Kembali menjadi padanan kata yang sesuai.

Apakah kita merasa hidup dalam kehidupan ini? Apa maknanya merasa benar-benar hidup?

post script: Totalitas dalam mengarungi perjalanan hidup. Satu topik yang menarik perhatian saya di minggu ini. Mungkin di tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s