Kala kabar lebih dari sekedar “baik”

Aku teringat saat-saat tegur sapa kita lebih dari sekedar dua-tiga baris di perangkatku. Ketika apa kabar seakan senantiasa membuka pintu bagi muatan hati yang demikian sesak, menunggu tak sabar terbebas. Ketika sapaan bagaimana harimu menggelindingkan bola salju dari puncak gunung tinggi, bergulir membesar ke larut malam hingga rembulan pun mulai lelap.

Teringat. Memori. Yang kini tak lagi. Entah kenapa. Sedih, sebenarnya. Dan bingung, bertanya kepada diri salahku di mana. Aku merindu saat-saat itu. Karena–kau tak tahu ini–bola salju itu hanya tergulir oleh sapamu dan bukan yang lain. Tak perlu bertanya kenapa, percuma, aku pun tak tahu. Begitulah adanya. Karena pintu jarang sekali terbuka, hingga muatan hati pun sesak terbungkam dalam ruang terkunci.

Entah kenapa. Dan masih banyak entah kenapa yang lain.

Entah kenapa aku merasa beragam ini. Sedih. Tak Puas. Rindu. Tak tahu mesti bilang apa. Karena di lain pihak, aku tahu perjalanan ini bergulir layak bola salju itu, tak pernah sama dari satu titik waktu ke titik lain. Kadang begini, kadang begitu. Begini, begitu, dan aku yakin: aku dan kamu tetap sama. Tepatnya, kamu bagiku tetap sama, tak tergantikan, tak terubah, pada dasarnya.

Pada dasarnya, sapaan yang sesekali dan semakin singkat ini tak melulu bermakna jurang melebar. Mungkin, ini lapisan lain, yang lebih dalam. Ketika rasa dekat itu sudah ada di hati. Ketika kata tak sebegitu diperlukan untuk menyambung rasa. Tetap terasa hangat bila sesekali kita bersama. Jadi, semua baik-baik saja. Sekedar lika-liku perjalanan, dengan benang merah tetap terutas kokoh. Ataukah, argumen seperti ini sekedar tipu-tipu bagi diri sendiri?

Sekedar penghibur karena sedih tetap saja mencuat, tiap kali terlintas balasan singkatmu, atau heningmu, atau balasan yang tak memenuhi ingin. Rindu akan masa lalu. Cemburu, karena curigaku, ada hal-hal lain yang lebih memenuhi waktumu, hal lain yang lebih membangkitkan semangatmu, atau mengurai tawamu. Aku ingin jadi itu.

Aku ingin kamu jadi itu (lagi). Seperti dulu. Tapi, aku tak mau kau menjadi itu lagi karena aku. Aku tak mau kamu menjadi itu lagi karena aku mau kamu begitu. Mauku, kamu tetap menjadi maumu. Apa pun itu. Biarlah aku berproses dengan segala rasaku ini. Toh aku tahu, kau akan tetap sama bagiku. Tak tergantikan.

Apa pun itu. Karena curigaku, itulah jujurmu. Itulah adamu tanpa basa-basi, mengungkap situasi batin yang mungkin kau harap aku merasa. Tahap selanjutnya dalam kebersamaan. Keterterimaan tingkat tinggi, mengikuti naik turun gelombang samudera hidup. Bersama, karena memang ingin. Tulus. Jujur. Tanpa basa-basi. Tanpa banyak ucap. Penuh kasih dan kekaguman. Dan rekah senyum yang menyeruak tulus dari hati terdalam. Senyum sebagai ekspresi dekap sayang.

Ketulusan yang juga kurasa dari banyak orang dekatku yang lain. Mereka yang entah bagaimana kok bisa cukup buatku hanya dengan balasan “baik”-nya terhadap apa kabarku. “Baik” mereka sudah bisa membuatku tersenyum. Terasa cukup. Membawa rasa hangat dan mengingatkan akan dekatku dengan mereka.

Ah, mereka. Ada-ada saja pikiranku dengan beribu rasionalisasinya, berusaha untuk menghiburku. Aku tidak sedang menulis tentang mereka. Atau tentang rasio. Aku tengah berceloteh tentangmu. Dan rasa.
i-miss-you
Tentangmu. Misteriku; tertabiri gengsi, malu dan, ugh, butuh. Tiba aku pada kesimpulan sementara: Iya, aku senang kok bila apa kabarku kau tanggapi dengan “baik”. Syukur kamu dalam keadaan baik. Syukur karena tanggapan singkatmu itu menandakan kau masih ada di sana, dan semoga mengingatkanmu bahwa aku masih di sini.

Tapi, kalau boleh, khusus darimu, aku ingin: lebih.


Foto dipinjam dari sini.

One thought on “Kala kabar lebih dari sekedar “baik”

  1. Eva Post author

    Tentunya, lantas ini pun muncul di layarku:
    “Why We Shout In Anger”

    A Hindu saint who was visiting river Ganges to take bath found a group of family members on the banks, shouting in anger at each other. He turned to his disciples smiled’n asked.

    ‘Why do people shout in anger shout at each other?’

    Disciples thought for a while, one of them said,’Because we lose our calm, we shout.’

    ‘But, why should you shout when the other person is just next to you? You can as well tell him what you have to say in a soft manner.’asked the saint

    Disciples gave some other answers but none satisfied the other disciples.
    Finally the saint explained, .

    ‘When two people are angry at each other, their hearts distance a lot. To cover that distance they must shout to be able to hear each other. The angrier they are, the stronger they will have to shout to hear each other to cover that great distance.

    What happens when two people fall in love? They don’t shout at each other but talk softly, Because their hearts are very close. The distance between them is either nonexistent or very small…’

    The saint continued,’When they love each other even more, what happens? They do not speak, only whisper’n they get even closer to each other in their love. Finally they even need not whisper, they only look at each other’n that’s all. That is how close two people are when they love each other.’

    He looked at his disciples and said.

    ‘So when you argue do not let your hearts get distant, Do not say words that distance each other more, Or else there will come a day when the distance is so great that you will not find the path to return.’

    *love* Thank you.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s