Mungkin saya yang buta

zipper concept. black beyond the sky
Mungkin saya yang buta. Setiap kau mengeluhkan penampilanmu, saya tetap menatapmu penuh kagum. Setiap kau merasa gamang akan diri, saya memandangmu dengan penuh tanya, tak paham kenapa.

Mungkin saya yang tuli. Setiap kau mengungkap buruk harimu, saya tetap tenang-tenang saja. Setiap kau berbagi galau batinmu, saya pun tetap mendengarkanmu dengan senyum mengembang. Mengangguk-angguk di waktu yang salah; mengikuti irama tersendiri tak sesuai dengan ketukan ceritamu.

Mungkin saya yang bisu. Setiap kau bertanya pendapat saya, saya tetap diam terpekur. Setiap kau menghentikan ceritamu, memandangi  seakan mengharap tanggapan, saya menatap nanar, pada ruang kosong di hadapan, atau cangkir kopi di meja.

Mungkin saya yang bodoh. Setiap kau berceloteh panjang-lebar, saya tak pernah menangkap detailnya, tak memahami inti pembicaraan sesuai yang kau mau. Setiap kau mensinyalkan butuhmu, saya malah menjauh; seakan merasa perlu memberi ruang bagimu.

Mungkin saya yang keras kepala. Setiap kau menunjukkan babak belur dirimu, saya tetap bersikeras, kau baik-baik saja. Setiap kau mendiam dan menjarak, saya malah bersikeras hadir. 

Atau mungkin, saya tidak buta. Karena mata ini jelas melihat sempurna indahmu, melampaui segala batasan fisik yang mengelabui. Penampilanmu, di mata saya, sempurna. Keadaanmu, di penglihatan saya, menggelar indah-Nya.

Mungkin saya tidaklah tuli. Karena telinga ini terang mendengar potensi luar biasamu dan kerinduanmu yang demikian menyengat, melintas mengatasi segala emosi keseharian. Tuturmu, di telinga saya, merdu. Ceritamu, di pendengaran saya, memaparkan rindu akan Dia.

Mungkin saya bukannya bisu. Karena diamnya bibir ini merupakan ungkapan agung, satu-satunya tanggapan yang sesuai atas adamu, melebihi segala kata di dunia. Adamu, membuat saya gagu. Apa yang ingin terungkap, tak sepadan dengan kata apa pun yang ada di ujung lidah saya. Hadirmu, di indera perasa saya, cukuplah untuk merasa manis cecap-Nya.

Mungkin saya juga tak bodoh. Karena pikiran ini memahami betul makna di balik segala cerita dan sinyalmu–segala surat dan siratmu. Gelagatmu, di pikiran saya, sekedar mengungkap lika-liku perjalanan sang pencari sejati. Sang pencari yang juga dicari, oleh-Nya.

Mungkin saya sama sekali bukan keras kepala.
Karena hati ini jelas melembut dengan kehadiranmu, mengikuti alirmu dengan suka cita, menikmati alunan sejatimu yang kerap mulai mengintip. Malu-malu. Kerapuhanmu, di rasa saya, semakin menunjukkan kelembutan hati dan manusiamu. Mendekati wujud jujurmu. Ah, bila demikian, wajar bila saya tak bisa menjauh, bersikeras beredar di orbitmu. Tak bisa, kalaupun mau. Walau saya memang tak mau.

Mata ini, telinga ini, pikir ini, rasa ini, keakuan ini — merengkuh semua rasa dan indera, kemudian entah bagaimana melampauinya. Melihat, mendengar, memahami, merasakan, mengakui, mengagumi keindahan kehadiran sejati yang ada di balik semua ini.

Ketika dinding telah teruntuhkan. Olehmu.
5350742356_e67f9d3738_z

You must tear through all that to be utterly defenseless, because you must be defenseless to love and have affection. J. Krishnamurti.


Foto diambil dari sana dan sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s