Monthly Archives: July 2013

“Dalam doaku”

Dalam Doaku
(A poem by Sapardi Djoko Damono, 1989)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang diatas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun disana, berjingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Payung

people-under-umbrellas-788199

Tadi pagi, sebelum keluar rumah, saya memandangi payung yang ada di dalam tas.

Saya melongok keluar jendela dan berpikir dengan yakinnya, “Ah, mungkin hari ini tak perlu payung. Langit demikian biru.” Payung pun saya taruh rapi di atas selimut terlipat di atas tempat tidur di kamar saya.

Tentu saja lantas Jakarta siang dan sorenya diguyur hujan deras. Sok tau sih.