Ternyata saya masih berdagang dengan Tuhan

coins on scales

Sebagai seseorang yang merasa menapaki perjalanan spiritualnya atau gemar mempelajari topik-topik berkenaan dengan agama, spiritualisme, dan hidup (menurutku sih ini sinonim-ed), saya kadang berselisipan jalan dengan pernyataan “berniaga atau berdagang dengan Tuhan.”

Ada beragam intensi atau motif orang menjalankan agama. Termasuk di antaranya takut akan hukuman Tuhan, takut masuk neraka, ingin mendapat pahala, ingin masuk surga, ingin mendekatkan diri pada Tuhan, ingin menunjukkan rasa cinta pada Tuhan, ingin mengekspresikan kasih-sayang Tuhan, dan masih banyak lagi.

Beberapa tulisan—maaf saya tidak bisa menaruh referensi di sini, mungkin bisa di-google—mengatakan orang-orang yang mencari keselamatan, takut masuk surga, ingin mendapatkan pahala, seakan melakukan transaksi atau perniagaan dengan Tuhan.

Saya lakukan apa yang Kauperintahkan, tapi mohon saya dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Apa yang terjadi bila surga dan neraka dihilangkan? Apakah saya masih melakukan ini demi Kau, atau lantas tak saya lakukan karena saya tak merasa ada manfaat atau konsekuensinya buat saya?

Pada satu titik, saya pikir saya sudah memutuskan untuk menghentikan perniagaan ini. Saya tidak terlalu tertarik dengan isu surga atau neraka; iming-iming hadiah dari Tuhan bila saya melakukan. Saya pikir, saya ingin melakukan semua ini karena Tuhan, walau apa makna kata “karena Tuhan” saya pun belum paham sempurna.

Tadi pagi, melalui perbincangan saya dengan seorang teman seperjalanan, saya menyadari sesuatu: ternyata saya masih berdagang dengan Tuhan. Hanya mungkin cara transaksi dan mata uangnya berbeda.

Kami sedang berbincang tentang keberserahan diri, tentang penerimaan (acceptance)—menerima segala apa adanya. Ah, setelah dipikir-pikir, ketika saya mengatakan menerima sesuatu apa adanya, ternyata di belakang frase itu, saya masih secara diam-diam menambahkan “supaya”, “dengan harapan”.

Saya mencoba menerima situasi saya (yang kurang menyenangkan) sambil diam-diam mengharapkan agar situasi ini berubah menjadi lebih menyenangkan. Saya menerima kerisauan dan kemarahan yang tengah melanda saya supaya setelah si risau atau si marah ini merasa diakui, maka mereka pun akan berlalu, dan saya menjadi tenang. Saya mencoba menerimamu, supaya kau pun bisa menerima saya.

donald-rusty-camouflage-artPandai sekali ego saya ini. Dia mengetahui bahwa saya memiliki keinginan dan ketertarikan untuk melepas perdagangan ini, beralih ke penerimaan apa adanya. Jadi ego saya mengatakan, baiklah kalau itu yang kau mau.

Ia pun mengubah kamuflasenya, tampilannya. Ego pun menerima apa yang terjadi. Yang menerima, ternyata masih ego.

Dan agenda rahasia yang dia bawa diam-diam, tadi pagi terdengar oleh saya. Saya menerima x, supaya nantinya berubah jadi non-x. Saat berada pada satu situasi, saya menyadari. Saya yang menyadari. Saat saya yang menyadari, ternyata itu masih pikiran saya yang bilang kalau ia menyadari.

Menariknya, pikiran tidak memiliki kecenderungan untuk menyadari, karena bukan tugas dan perilakunya. Jadi ketika saya (yang) menyadari, saya tidaklah benar-benar menyadari.

Ribet. Semoga suatu saat pikiran menyadari keribetan ini dan berhenti walau sejenak. Mengizinkan sesuatu yang lain untuk muncul dan mengada. Sebuah ajakan baru pun muncul, yang akhir-akhir ini sangat kuat: Sebuah tingkat penerimaan dan keberserahan diri yang baru. Tulisan berikutnya. Semoga.

Foto diambil dari sini dan sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s