Pilihan

the-road-not-taken-1a[Gambar diambil dari sini.]

Saat-saat memilih, membuat keputusan, kiri atau kanan; maju, mundur, ke samping atau di tempat; ya atau tidak; A, B atau C; makan gado-gado atau sop kaki kambing; berjalan pagi atau leyeh-leyeh di tempat tidur; menyapa atau mendiamkan; adalah saat-saat menarik. Karena saat itu memberikan potret bagaimana kita pada detik itu.

Beberapa pilihan terasa otomatis hingga tak tersadari. Pilihan yang sudah tidak terasa sebagai pilihan. Entah itu karena sudah demikian tertanam di bawah sadar, atau karena kita sudah membiarkannya mengalir, mengada apa adanya.

Beberapa pilihan, terasa sebagai pilihan. Ada proses yang kita sadari. Baik melalui pikiran, atau mendengarkan diri. Menarik untuk menilik proses ini. Pikiran berkecamuk. Berbagai pertimbangan, yang melingkupi nama baik, ego, dampak bagi orang lain, reaksi pihak luar, keinginan diri, rasa di hati, dan sebagainya.

Banyak faktor eksternal, vis-a-vis proyeksi kita terhadap diri kita sendiri. Saya orangnya khan teguh memegang janji, apa kata orang kalau saya tiba-tiba berubah pikiran, seakan mengabaikan tanggung jawab, dan melakukan sesuatu untuk kesenangan diri?

Saya tidak ingin menyusahkan orang lain. Saya bahkan bertekad untuk membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Karena itu saya pilih A. Kalau saya pilih B, saya akan mengecewakan banyak orang. Demi apa?

Pergulatan itu kerap terjadi dalam benak saya. Saya bisa mendengar celetukan saling bersambut di kepala saya–yang terkadang lirih namun persisten, komentar, dan pemaparan ilmiah; percakapan internal atas nama logika, ego, hati, atau perwakilan diri lain yang sibuk berdiskusi membahas beragam opsi yang menjurus pada suatu keputusan.

Hari ini pun demikian. Tak berbeda dengan biasa. Pilihan-pilihan datang dan menuntut adanya suatu keputusan. Keputusan diambil, namun entah mengapa percakapan masih berlanjut. Resah muncul. Masih belum tuntas rupanya. Saya tahu, ada yang belum pas. Belum saya. Masygul. Ragu. Resah.

Apakah keputusan perlu diubah? Rasanya, jarang sekali hal ini terjadi. Perubahan keputusan pada tingkatan ini dengan alasan ini. Seperti mengelupas satu kedok yang sudah lama terpasang. Tentu ada luka, kedok sudah terlalu melekat. Menyingkap sisi wajah yang biasa tersembunyi dan berbeda.

Tapi, saya tahu saya tidak bisa tidak begitu. Perjalanan sudah sampai pada titik ketika jujur bukan merupakan opsi, melainkan keniscayaan. Mari bereksperimen. Keputusan pun diubah.

Hari ini saya memutuskan mendengarkan hati dan mengekspresikannya secara jujur. Hari ini saya memilih (untuk bersama) kamu. Persetan dengan konsistensi, integritas, dan nama baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s