Senja menunggu

Sunset Oct 2013

Semua rencana hari telah tertata rapi di benakku. Hingga ke menit dan jamnya. Namun, mereka bilang, tak ada rencana sempurna. Demikian dengan hari ini. Kereta kita menuju ke Barat tak kunjung tiba. Resahku tampak, tentunya.

“Tenang saja,” celetukmu santai. “Kita dalam rengkuhan Dewata. Senja akan menunggu kita.”

Sapamu sejenak menyadarkanku. Aku merasakan kegelisahanku. Keinginan akan sempurnanya hari kita, selalu yang terbaik untukmu. Kereta itu merusak rencanaku. “Rencanaku”, yang tampaknya berbeda dengan rencana-Nya.

Aku menatap jauh tanpa fokus. Menghela napas panjang. Merasakan keresahan tanpa kuasa meredakannya. Gelisah masih terus ada, biarlah. Kulangkahkan kaki mengikuti bayangmu, mencari sekedar tempat berteduh, sambil mengisi waktu yang berjalan lambat.

Satu jam, dua jam, dua setengah jam. Kereta pun tiba. Akhirnya. Menuju Barat kita melaju. Laju yang tak selaju kuinginkan. ugh, tetap gelisah. Tetap ingin sempurna. Tahu tak bisa apa-apa lagi. Duduk di sisimu menikmati perjalanan ini.

Kereta membawa kita sejauh ia bisa. Kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tak ada lagi yang menghalangi pandangan mata dari menatap cakrawala barat. Surya telah berada sedikit di atas batas laut. Langit cerah menyemburatkan berupa rona senja. Awan menyingkir memberikan ruang bagi alam untuk menghadirkan salah satu pagelaran indahnya.

Seakan tahu akan hadirnya kita, surya mulai merendah, merendah, merendah, hingga menyentuh batas cakrawala. Tengelam, tenggelam, tenggelam hingga tak lagi tampak. Mata dan seluruh keberadaan ini menghadap dan tak teralihkan. Berlangsung cepat, tapi tetap lengkap.

Sempurna.

Aku menoleh kepadamu, tersenyum, “Kamu benar. Senja telah menunggu kita.”

Harusnya aku tahu. Katamu senantiasa bermakna dan bernuansa keniscayaan bagiku. Tapi aku juga tahu, senja tak selalu menunggu. Menunggunya senja merupa anggukan semesta, atas apa yang tengah berlangsung saat itu. Entah apa.

Mungkin, kamu lebih tahu daripada aku. Apa pun itu, aku berterima kasih.

One thought on “Senja menunggu

  1. ineeddini

    “Menunggunya senja merupa anggukan semesta, atas apa yang tengah berlangsung saat itu. ”

    ada yang luar biasa melankolis tentang senja, warnanya rupa-rupa, dan durasinya hanya sesaat saja🙂
    -perempuan berhati senja-

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s