Si Encik, guru saya

Pembicaraan dengan encik pemilik/kasir Bakmi Boy Mayestik. Di meja kasir kayu sederhana, dengan lembaran pesanan bakmi bercoretan pensil.

**Kok gak pake plang di depan rumah makannya sih, Cik?

Cik: Kita emang gak pernah pasang plang dari awal. Bahkan nama Bakmi Boy aja bukan buatan kita. Pelanggan-pelanggan kita aja yang njulukin bakmi boy bakmi boy.

**Kenapa Bakmi Boy?

Cik: Gak tau juga. Mungkin karena yang kerja di sini banyak yang boy (laki-laki, red). Pas waktu pindah ke sini (dari depan pasar tahun 80an ke belakang pasar, red), tukang-tukang parkir pada ngasih petunjuk dengan nyebut nama Bakmi Boy. Akhirnya kita pake aja nama itu.

(Digunakannya hanya di lembar pesanan. Cetakan biasa, hitam putih, tanpa logo. Sementara, tidak ada plang di dalam/luar rumah makan. Bungkusan makanan pun hanya bungkus kertas coklat yang biasa dipakai tukang sate/gado-gado, tanpa merek).

** Jam berapa buka? Sampe jam?

Cik: Jam 10. Sampe resminya sih jam 6 sore. Tapi kalo udah abis, ya kita tutup.

Seorang pria setengah baya mendekati meja kasir. “Empat?” Katanya singkat. Tanpa ba bi bu. Saya mengiyakan. Ia pun memberikan bungkusan mie dan secarik kertas bertulisan tangan pesanan saya, serta coretan harga seadanya di sampingnya.

Saya bayar, berdiri, “ma kasih ya cik.”

“Ya, sama-sama,” dengan ramah bersahajanya yang tak dibuat-buat.

Si Cik, guru saya di Hari Guru Nasional. Beliau dan Eckhart Tolle. Dan mungkin jutaan lain yang tidak saya sadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s