Kembali ke akar: Menyoal ketahanan pangan

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan tayangan video singkat tentang perkembangan dunia — tentang alam dan teknologi. Silih berganti pemandangan alam pegunungan, laut, hewan, tanaman, diselingi dengan berbagai perkembangan teknologi serta pembangunan yang dilakukan oleh manusia. Intervensi manusia dalam video itu mengusik saya.

Rasanya semua bergerak harmonis, kecuali apa yang dibangun oleh manusia. Gedung atau fasilitas yang dibangun terasa tidak pada tempatnya. Pesawat jet yang melintas terasa bising dan berpolusi. Terlintas di benak saya, betapa kita lupa bagaimana mengalir selaras dengan alam. Betapa kita terbuai hingga tak sadar betapa jauhnya kita telah menyimpang.

Hari ini saya kembali tersadarkan betapa kita telah bergeser dari kebijaksanaan yang ditawarkan oleh alam. Tadi siang, saya berbincang tentang ketahanan pangan.

Bayangkan sebuah hidup yang penuh dengan kesederhanaan. Di bayangan saya, seperti orang-orang terdahulu yang hidup di perdesaan.

Hidup bertani — tanpa teori, hanya menerapkan apa yang telah diajarkan oleh alam. Menanam dan menuai apa yang tumbuh di sekitarnya. Mengikuti musim. Memahami apa yang bisa dikonsumsi, apa yang tak aman bagi tubuh. Mengambil tidak lebih dari yang diperlukan. Kalaupun mengumpulkan lebih, ditaruh dalam lumbung bersama secukupnya untuk menghadapi musim kering/gagal panen. Saat kekurangan, maka konsumsi dipersedikit, banyak yang berpuasa, sehingga kembali merasa cukup. Memperlakukan alam, tanaman, dan hewan dengan penuh rasa hormat. Semua dilakukan secukupnya. Tak berlebihan.

Pembicaraan bergeser ke kehidupan sekarang. Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara agraris dan maritim kini mengimpor demikian banyak produk pertanian, hingga ke komoditas dasar seperti beras dan kedelai. Produk berkualitas terbaik diekspor, sementara banyak kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. Beras dijadikan bahan pokok bagi seluruh penjuru negeri, mengabaikan bahan makanan pokok yang secara tradisi sudah dikonsumsi di daerah tertentu.

Pikiran ini dibanjiri oleh berbagai informasi entah dari mana. Jangankan bicara makanan luar negeri — barat, Jepang, Korea, China yang menjadi favorit di belahan lain dunia (termasuk kesukaan saya) sehingga mengakibatkan impor bahan-bahan yang hanya ada di luar negeri untuk memenuhi keinginan akan makanan ini. Bagaimana otak saya bisa mengasosiasikan jeruk sebagai sumber utama vitamin C, sementara kebanyakan jus jeruk yang ada di pasar (dan banyak varian jeruk segar pun) berasal dari luar negeri, dan saya lupa kalau jambu pun sebenarnya bisa menjadi sumber vitamin C? Kalau dipikir-pikir, luar biasa betapa kita demikian menggemari roti dan bakmi yang berbahan dasar gandum tanpa ada secuil gandum pun tertanam di nusantara.

Kita bangga bila makanan yang tadinya hanya untuk kalangan atau daerah tertentu kini dapat dinikmati semua kalangan. Ikan salmon yang dijadikan sushi memang enak. Mungkin ada alasan, kenapa dulu hanya Jepang yang dapat mengkonsumsinya; atau negara-negara di Atlantik Utara. Teringat saya video dokumenter yang memperlihatkan penangkapan ikan salmon di Alaska. Sekian banyak ikan salmon diraup dalam sekali tangkap menggunakan jaring kapal besar. Sebegitu banyakkah salmon yang kita butuhkan? Ada yang mengganggu saya dari pemandangan ini.

Atas nama selera dan pemenuhan keinginan, makanan pun diusahakan untuk diperbanyak memenuhi tong keinginan yang semakin lama semakin besar. Rekayasa genetika dilakukan. Penyuntikan hormon dilaksanakan. Hutan diterabas, untuk ditanam pepohonan yang dianggap lebih menghasilkan.

Produk pertanian, hewan, termasuk perikanan diimpor, tanpa mempertimbangkan sebenarnya produk setempat pun ada yang memiliki nutrisi setara yang mungkin lebih pas untuk kondisi tubuh ini.

Lebih sederhana lagi. Saya jadi terbayang rumah. Kadang makanan sudah ada di rumah, kalaupun belum siap, tinggal dimasak. Alhamdulillah. Tapi pikiran usil ini kadang tetap menginginkan yang lain: telepon dan pesan apa ya enakan? Makan di rumah makan sebelah tampaknya menarik.

Bagaimana diri ini bisa demikian terbentuk untuk menyukai sesuatu yang jauh hingga melupakan yang dekat? Bagaimana saya bisa demikian terpolakan untuk mengutamakan keinginan dan mengupayakan segala cara untuk memenuhinya? Saya lupa untuk bertanya: sebenarnya apa yang saya butuhkan, bukan sekedar yang saya inginkan? Seberapa semua ini bisa bertahan tanpa rubuh?

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah perkebunan permaculture di Imogiri, Yogyakarta. Pemilik perkebunan bercerita tentang betapa kita sebenarnya bisa hidup dari apa yang kita dan tetangga kita tanam. Tentang bagaimana bercocok tanam yang bertata-krama — dengan memperhatikan tanaman endemik daerah tersebut, hewan yang biasa ada, serta tanah dan musim daerah tersebut.

Saya ingat kata-katanya. Kita terbentuk untuk tergantung pada uang. Tanpa uang, kita merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Bila kita kembali ke kebijakan leluhur, kita akan paham betapa alam sekitar bisa memberikan rezeki yang melimpah ruah untuk memenuhi kebutuhan kita. Namun kita perlu paham bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Tanpa itu, alam dapat terasa kejam. Benar juga, saya pikir. Kalau saya ditaruh di tengah hutan, saya tidak tahu mana yang bisa saya makan, mana yang beracun. Begitu banyak sumberdaya, namun saya tak bisa apa-apa.

Saya menulis tanpa tujuan apa pun. Saya harap kita tidak menyalahkan siapa-siapa, apalagi menghujam. Saya lelah mendengar semua kecaman itu. Tak ada gunanya.

Saya sekedar menyadari betapa saya sudah bergerak demikian jauh dari kesadaran akan apa yang sebenarnya saya butuhkan. Betapa alam sekitar saya sudah menyediakan semua yang saya butuhkan secara melimpah ruah. Saya perlu lebih mendengarkan dan memahaminya. Sehingga saya bisa mengalir selaras dengannya.

Mungkin sudah saatnya pulang kampung. Membuka mata, membuka telinga, membuka hati. Untuk kembali ke akar dan bertumbuh darinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s