“Pasti cina ya?”

Badan saya mengkeret setiap kali mendengar ungkapan itu. Terasa sakit di hati. Rasa serupa juga melanda ketika kata-kata di atas muncul sebagai ide judul tulisan beberapa hari lalu. Saya bukan orang yang konfrontatif. Tidak suka mencetuskan hal-hal yang kontroversial. Namun, kata-kata tersebut menetap di benak, berkeras untuk terekspresikan.

Baru-baru ini Indonesia diingatkan oleh peristiwa bulan Mei 1998. Di media sosial, ramai dengan tagar #menolaklupa. Mengingatkan kita akan suatu periode gelap saat rasa marah dan frustasi kolektif bangsa ditumpahkan kepada satu etnis tertentu. Layaknya pucuk gunung es di tengah laut, periode luapan marah yang singkat itu mencerminkan perjalanan yang jauh lebih panjang. Bara dalam sekam bangsa yang mungkin hingga kini pun belum padam sepenuhnya.

Percik bara itu kadang menyeruak ke permukaan. Kecil-kecil, tapi tampil sekelebat, sekedar mengingatkan kalau ia masih eksis. Sewaktu-waktu, naudzu billahi minzalik, bisa meledak menggelegar. Di kalangan sekitar saya pun, kerap ada celetukan selewatan,“iya, perusahaan atau toko itu ….. yang punya cina sih.” Saya sering mengerenyitkan alis mendengarnya. Emosi. Kenapa juga mesti bilang itu cina. Apa hubungannya?

Satu dua bulan lalu, ketika saya main ke rumah seorang kerabat. Anak kerabat yang masih remaja tengah disambangi teman-temannya. Satu-satu temannya menyalami kami. Penuh kebersahajaan dan kesantunan. Ketika mereka berlalu, salah satu di antara kami bertanya dengan ringan, “Teman-temannya cina ya?” Saya terhenyak beberapa saat, terasa sakit, dan mengatakan, “Indonesia. Mereka orang Indonesia.”

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, dan sering diucapkan secara berbisik atau di kalangan yang dianggap aman, merupakan indikasi dari sesuatu yang lebih esensial dalam diri kita. Apakah sesuatu itu, saya tidak berani berspekulasi. Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman hidup berbeda. Dengan demikian, alasan yang berbeda pula.

Walau saya percaya dengan apa yang disebut dengan ke(tidak)sadaran kolektif. Sesuatu yang kecil ini mengindikasikan sesuatu yang lebih besar dan esensial dalam diri kita, pribadi maupun secara kolektif – itu saja yang perlu disampaikan. Semoga tidak terabaikan dan tidak dianggap remeh oleh masing-masing kita.

Yang menarik, reaksi saya tampaknya tidak akan sehebat itu bila yang dikomentari adalah dari etnis, suku atau negara lain. Kenapa saya pribadi demikian lebih sensitif dengan kata ‘cina.’ Mungkin karena kata itu—dalam konteks tertentu—di diri saya sarat dengan makna dan sejarah, yang beberapa bersifat pribadi dan tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Kata itu dan konotasinya mengingatkan saya kepada diri saya sendiri. Saya terlahir dan besar sebagai seorang albino di tengah masyarakat yang mayoritas berkulit sawo matang. Jadi saya paham sakitnya dianggap berbeda, diperolok, dianggap rendah, dan kadang dikucilkan hanya karena sesuatu yang bersifat, dalam hal ini, superfisial dan tidak bisa saya apa-apakan.

Saya beruntung Tuhan memberikan saya keluarga, teman-teman dan lingkungan yang cukup baik dan menerima saya apa adanya dengan penuh cinta. Perjalanan dan pembelajaran hidup juga sangat membantu. Tetap saja, ada hal-hal yang bahkan cinta mereka pun tidak bisa melindungi saya dari rasa sakit itu.

Saya diperjalankan sehingga bisa melihat diri saya lebih dari sekedar warna kulit saya. Sampai agak berlebihan, sehingga sekarang saya perlu mundur sedikit, untuk kembali menilik perbedaan fisik yang saya miliki ini, mengalaminya, melihat dengan jujur apa dampaknya pada diri saya, menerimanya, dan mencintai diri saya apa adanya.

Sejarah Indonesia tahun 1998 berikut kejadian-kejadian kecil di lingkungan saya semua merupakan pengingat untuk kembali. Rasa sakit yang saya rasakan setiap mendengar celetukan tidak sensitif itu menunjukkan bahwa rasa sakit dalam diri saya masih belum tuntas. Apalagi teman-teman saya yang diri atau keluarga/kerabatnya terlibat langsung dalam peristiwa Mei 1998 tersebut.

Saya masih berjalan. Bangsa kita pun demikian. Semoga kita semakin memperhatikan apa yang terekspresikan dari dalam diri kita—baik melalui tindakan, ucapan atau bahkan pikiran, dan mau menilik ke dalam apa yang mencetuskannya. Semoga kita menjadi lebih santun yang bukan sekedar basa-basi. Semoga kita kembali ke sejatinya manusia yang bernama Cinta Kasih.

Semoga semua hidup berbahagia.

post script: Dan hujan pun mendadak turun deras berikut geledek sesegera saya mem-posting ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s