Memandangi Ka’baah

Malam itu, aku duduk sendiri di depan Ka’baah. Tidak ada agenda atau niat, selain untuk berada di situ. Juga tidak membawa keluhan atau permintaan khusus. Atau doa apa pun bersamaku. Terpekur bukanlah kata yang tepat. Karena aku tidak termangu. Aku hadir. Dipenuhi Cinta (kepada)-Mu. Labbaik allahumma labbaik.

Tak ada adab atau prosesi yang ingin kuterapkan. Apakah diperlukan adab tertentu saat berhadapan dengan Kekasih? Mungkin ada, satu: menghadapkan diri sepenuhnya, menghamparkan diri seada-adanya aku. Hadir sepenuh jiwa dengan hati berbunga.

Seperti itu rasaku. Aku duduk apa adanya di lantai marmer putih sejuk pada kedalaman malam, tepat di hadapan Ka’baah. Kadang memandang Ka’baah, kadang memandang sekitar. Kadang memandang lantai dan menyentuhnya lembut. Kadang memandangi pejalan lain berlalu lalang. Kadang memejamkan mata, merasakan angin sejuk semilir segar yang turut berbincang, atau mendengarkan tuturan doa atau bincang sekitar. Kadang mengangguk ramah saat mata bertemu pandang dengan jiwa lain.

Tak ada pikiran atau emosi bergejolak kala itu. Bahkan tak ingat ada pikiran terlintas. Hening terselimuti nuansa-Mu. Penuh oleh Dzat-Mu. Senyum mengembang. Air mata menelusuri pipi. Sesekali memori melintas. Sesekali harapan menoreh. Semua mengalir alami, tak tertahankan, tak pula ditahan.

Aku duduk santai. Damai dan bahagia meluruh sekujur keberadaan. Damai yang bukan lawan dari resah. Bahagia yang bukan lawan dari sedih. Entah kenapa, suasana malam itu lengang. Kita bisa duduk bersama dengan tenang selama ingin kita. Seperti duduk di depan Kekasih yang juga sahabat terbaik. Berlaku dan bersikap sesuai arahan kalbu. Penerimaan sini kini yang paripurna.

Kau tidak menuntut apa-apa dariku. Hadirku yang merasakan hadir-Mu sudah lebih dari cukup. Karena Kau tahu hanya itu yang bisa kupersembahkan. Bahkan, inilah hal terluhur yang bisa kubawa kepada-Mu: Aku apa adanya. Aku seada-adaku. Yang senang dapat bersama-Mu.

Aku pun tak menuntut apa-apa dari-Mu. Hadir-Mu yang teresapi dalam hadirku sudah lebih dari cukup. Karena Kau tahu hanya itu sejatinya yang aku butuhkan. Bahkan, inilah keinginan tersuci yang bisa kupanjatkan kepada-Mu: Kau yang sejelas-jelasnya. Kau yang meliputi semua di dalamku dan sekitar. Yang senang dapat bersama-Ku.

Malam bergulir beberapa jam sahaja. Dan berlangsung selamanya.

Karena hingga kini pun dan sepanjang masa, setiap saat, aku hanya perlu mengarahkan hati, atau memejamkan mata, untuk bisa kembali duduk di depan Ka’baah, simbol religi kehadiran-Mu di dunia. Menghadapkan diri kepada-Mu. Bersama-Mu. Merelakan diri untuk ditimang oleh kedua tangan-Mu. Kokoh dan lembut. Maha Kasih. Maha Sayang. Maha Dengar. Maha Tahu.

Rasa itu. Keberadaan-Mu bersamaku. Senantiasa kurindu. Dan aku tahu — selalu kupunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s