Menyadari makna kehidupan

[English version]

timthumb.php

Setidaknya sekali dalam hidup, kita pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan luhur kepada diri, seperti “Apa makna dari kehidupan?” atau “Kenapa saya ada di dunia?”

Kesemua pertanyaan ini sahih. Bahkan mereka dapat membantu mengarahkan hidup dan mendekatkan ke pusat keberadaan diri.

Beragam kitab suci serta ucapan dari kaum Bijak berulang kali mengindikasikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut, kerap secara terang-terangan. Namun kita bersikeras mengajukan pertanyaan dan menuntut jawaban. Kita butuh jawaban yang khusus diramu untuk pribadi kita. Kita merindukan tidak sekedar mendapatkan jawaban, namun juga merasakan atau bahkan mengalami jawaban tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan ini demikian memikat sehingga kita terkadang larut. Bisa jadi kita memiliki gambaran yang terlalu romantis akan potensi serta peran kita di dunia.

“Saya terlahir sebagai ABC.”

“Saya akan melakukan DEF.”

“Saya akan menjadi XYZ.”

Mungkin ada benarnya. Saya sama sekali tidak menafikan potensi yang ada. 
Namun cermati dari mana jawaban tersebut mengemuka. Perhatikan bahwa mereka cenderung mengacu ke masa depan: “akan”.

Pertanyaan ini sejatinya ditujukan kepada jiwa. Namun kita bertelekan semata pada pikiran untuk menemukan jawaban. Pertanyaan ini membutuhkan kejernihan batin. Namun kita secara terlalu dini membuahkan jawaban dari batin yang masih kisruh.

Kita demikian larut dengan bayangan akan menjadi apa kita pada masa depan sehingga kita lupa akan masa kini. Kita melakukan apa yang kita lakukan sekarang, demi mewujudkan aspirasi diri kita pada masa depan. Lagi-lagi, hal ini tidaklah salah atau buruk. Namun, perlu kita sadari bahwa ada kemungkinan kita menjadikan masa kini semata sebagai alat mencapai suatu cita, yaitu masa depan. Masa kini pun lantas tergerus nilainya.

Kita kehilangan peluang berharga untuk memahami, di sini dan saat ini juga. Dan sebenarnya, kalau mau jujur, bisa jadi kita melakukan hal ini lebih sering dari yang kita sadari atau kita akui. Kita jadikan masa kini sekedar alat untuk meraih cita masa depan.

Ketika kita beperjalanan menuju suatu tempat kegiatan, yang berputar dalam otak kita hanyalah saat kita tiba di tempat itu. Kita tidak benar-benar meletakkan perhatian terhadap segala peristiwa yang terjadi selama perjalanan kita, kecuali mungkin ketika ada orang yang secara lancang menyalip kita di jalan. Saat itu, tetiba kita beralih ke suasana kesadaran lain, atau sebenarnya ke suasana ketidaksadaran lain—tapi ini topik lain yang mungkin bisa kita bahas pada kesempatan lain.

Atau saat kita memasuki suatu rumah makan untuk menemui teman-teman. Yang kita pikirkan hanyalah saat kita berjumpa dan duduk bersama mereka. Apakah kita menyadari pelayan rumah makan yang membukakan pintu untuk kita, atau bahwa pintu tersebut telah terbuka untuk kita? Apa kita sempat memperhatikan lantai kayu yang kita injak sepanjang kita berjalan? Kemungkinan besar, tidak.

Jadi, ajakan yang diulurkan melalui artikel ini adalah untuk memangkas kerumitan segala hal pada masa depan yang sebenarnya masih belum pasti dan kembali ke kesederhanaan dalam mengada pada saat ini dan sekarang – di sini, kini.

Mari kita cermati tiga kata tersebut: mengada, sini, kini. Kata-kata ini merupakan petunjuk yang menggiring kita ke suatu makna yang lebih dalam. Walau kerap terucap, namun jarang kita mengizinkan diri untuk merasakan sensasi kata-kata tersebut saat kita mengucapkannya.

Bagaimana kalau kita coba sekarang? Ucapkan ketiga kata ini secara lebih lambat, tidak terlalu keras, berhenti sejenak setelah setiap kata, dan rasakan sensasi gaung kata tersebut di dalam diri Mengada. Sini. Kini. Coba beberapa kali. Mereka seolah mengupas hal-hal yang sejatinya tidak terlalu relevan untuk kondisi ini, mengarahkan kita ke suatu tempat jauh di dalam pusat sukma, dan menjejakkan kita secara lebih kokoh di bumi. Mengada. Sini. Kini.

Tiba-tiba alam terasa lebih sayup dan jernih. Mungkin kita akan lebih menyadari napas kita, atau sensasi di jari-jari kita, atau suara gemercik air, atau dedaunan yang mengayun terhembus angin.

Ingatan masa lalu bermunculan, diikuti aneka emosi dan ingatan lain. Beragam pikiran akan masa depan pun singgah, seiring dengan harapan, ketakutan, semangat, atau kekhawatiran. Sekali lagi, kita kembali ke kata-kata itu: mengada, sini, kini. Berbagai pikiran dan sensasi timbul dan, cepat atau lambat, surut. Kesemuanya merupakan bagian dari pengalaman hidup sebagai insan.

Ini merupakan suatu bentuk praktik kesadaran. Kita bisa saja memiliki bentuk praktik berbeda, dengan nama berbeda pula, seperti meditasi, zikr, atau eling.

Apapun bentuk praktik yang kita jalani, intinya adalah menyadari apa yang tengah kita lakukan, setiap saat. Sebisa mungkin, kita mengamati apa yang terjadi di dalam dan di luar diri – benar-benar jujur dalam mencermatinya, tanpa berupaya menjauhkan diri dari pengalaman itu, atau, sebaliknya, berusaha menggenggamnya. Izinkan segala sebagaimana adanya.


Tentu dibutuhkan penerapan atau latihan yang konsisten untuk ini. Perlu diakui, kemungkinan besar, kebanyakan dalam hidup, yang kita lakukan adalah sebaliknya: Alih-alih mengada di sini kini, pikiran kita melayang ke masa lalu atau masa depan.

Kita berkutat dengan segala kekalutan batin sehingga mengabaikan sekitar, atau sebaliknya, terlalu memperhatikan sekitar atau orang lain, sehingga situasi batin kita sendiri pun terlalaikan.

Kita demikian benci pada sesuatu sehingga ingin menyingkirkannya, atau terlalu melekat pada sesuatu atau seseorang yang kita gandrungi. Kita menggunakan istilah-istilah yang kita anggap lebih santun guna menutupi perasaan kita sebenarnya atau memakai beragam alasan yang sebenarnya tak masuk akal guna membenarkan perilaku kita. Lagi-lagi, kesemuanya merupakan bagian dari pengalaman sebagai manusia.

Apa yang ditawarkan di sini adalah cara mengada yang lain. Suatu cara yang terasa lebih sederhana, lebih lugas, dan lebih jujur. Bagi beberapa orang, cara ini terasa terlalu sederhana atau bahkan asing. Namun bila tawaran ini sedikit menyentuh atau menggelitik batin kita, mungkin layak dicoba, sekedar untuk melihat ke mana cara mengada ini bisa membawa kita dalam perjalanan hidup atau kecenderungan batin kita untuk memahami diri.

Lantas kalau kita kembali ke pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di awal artikel, bagaimana dengan makna kehidupan? Bila pertanyaan itu masih ada, maka izinkanlah ia untuk tetap ada. Pada saat yang sama, marilah kita benar-benar menghadirkan diri kita dalam kehidupan, di sini dan kini. Tanpa perlu menutupi. Tanpa perlu mencecoki. Tanpa perlu terburu-buru. Tanpa perlu menahan diri untuk maju.


Janganlah kita mengorbankan masa kini demi masa depan. Siapa tahu, bisa-bisa justru saat inilah yang akan membawa kita melewati segala kegalauan kita dan menghadirkan pemahaman batin yang demikian luas.


Saya akan akhiri artikel ini dengan suatu sapaan teman di media sosial yang terus tersimpan dalam hati saya: “Makna kehidupan akan segera terkuak, dan akan lebih sederhana dari yang kita kira.”


Selamat menikmati hari.

Tulisan ini pertama kali terbit di laman magdalene.co. Gambar diambil dari laman yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s