Anggukan kepada Semesta

imagesRasa itu datang lagi. Kali ini, aku memutuskan untuk duduk diam bersamanya. Untuk mendengar sedikit lebih lama. Seperti semua hal lain, rasa itu pun bergerak. Menguak cerita lain dari apa yang selama ini sekedar beriak di permukaan.

Entah apa tepatnya, sesuatu dalam diriku turut bergerak. Ia (atau aku?) terasa mulai menerima kenyataan. Bahwa aku tidaklah sama denganmu. Bahwa membandingkan diriku dengan dirimu, atau berupaya untuk menyetarakan diri dengan dirimu, seberapapun aku mengagumimu, adalah hal absurd dan percuma.

Aku berbeda dengan dirimu. Fungsiku di dunia berbeda dengan fungsimu. Kita terkadang berjalan berdampingan, namun masing-masing berlajur beda. Mungkin karena irisan jalan ini terasa sering dan familiar, maka aku merasa kita sama. Tapi kini tidak lagi. Aku berbeda dengan dirimu, dari kapanpun dan sampai kapanpun juga. Walau cita kita satu. Walau sejatinya kita satu dan merupakan kesatuan.

Seiring dengan ini, ada ruang tercipta dalam diri. Menyeruak entah dari mana. Memberi kesempatan untuk sesuatu yang lain untuk mengemuka. Dan mengemukalah ia. Bagian dariku yang kemudian melangkah maju.

Aku yang lebih jujur. Yang hadir dengan apa adanya diri. Dan apa adanya diriku — seperti halnya apa adanya dirimu dan setiap insan atau bahkan makhluk di semesta — adalah sesuatu yang agung dan indah. Jalal dan Jamal.

Tempatku telah jelas. Tidak seglamor kebanyakan insan dan bahkan terasa sedikit nisbi, namun sama pentingnya dengan setiap makhluk yang ada. Sempurna untukku — sekarang aku tahu itu.

Aku telah memberikan anggukan setuju dengan segenap hati kepada Hidup. Kepada Semesta. Kepada yang Maha Agung dan Maha Indah. Kini Semesta menyajikan tarian dan musiknya yang indah dan lincah, kadang bertempo cepat, kadang lambat, kadang di tangga nada mayor, kadang minor.

Koreksi: Semesta telah lama menyajikan tarian ini. Kini aku semakin bisa mendengarnya. Mengetukkan jariku dan menggerakkan tubuhku mengikuti iramanya. Yang Dia minta — kembali — hanyalah anggukan setuju dariku; kelenturan diri sehingga dapat gemulai tergerakkan oleh irama-Nya.

Dan aku mengangguk setuju. Lagi dan lagi, kepada setiap ketukan-Nya. Senyum dari nurani terkembang. Kini aku siap berdampingan denganmu, tanpa terlarut satu dengan lain, dan dengan ciri warna indah kita masing-masing. Mari mainkan.

Gambar dari: http://bit.ly/1r6j54r

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s