“… sebagaimana Tuhan telah berbuat baik padamu”

Bersama seorang sahabat, beberapa waktu lalu saya membolak-balik terjemahan beberapa ayat Al-Quran dalam buku The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an oleh Camille Adams Helminski dari The Threshold Society. Teramat menghangatkan hati.

Sahabat saya mengungkap betapa kita butuh diingatkan akan keindahan dan kelembutan makna Al Qur’an. Betapa Al Qur’an benar-benar suatu sapaan Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang yang mampu menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri masing-masing kita.

Saya merasa belum layak menjadi penerjemah Al Qur’an. Namun tentu tak salah bagi tiap-tiap insan pembaca Qur’an yang merasa tersentuh dengan tanda-tanda (ayat) yang indah ini, untuk berbagi rasa.

Pagi ini saya membuka kembali buku tersebut. Jemari saya membuka halaman dengan ayat berikut:

Qarun was doubless among the people of Moses; but he acted insolently towards them; such were the treasures We had bestowed on him that their very keys would have been a burden to a body of strong men. Witness, his people said to him: “Don’t gloat, for God does not love those who take pride in riches.

But with that which God has bestowed on you seek the Home of the Hereafter, yet do not forget your portion in this world—do good as God has been good to you and do not seek to do harm in the land; for God does not love those who act harmfully.” [28:76-77]

 Dalam Bahasa Indonesia:

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, namun ia berlaku aniaya terhadap mereka; Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta sedemikian hingga bahkan kunci-kuncinya pun berat untuk dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu berbangga diri; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan kekayaannya.”

“Alih-alih, dengan apa yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu temukan tempatmu berpulang di akhirat, namun jangan kaulupakan bagianmu di dunia—berbuat baiklah sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kau berbuat kerusakan di bumi; Sesungguhnya Tuhan tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [28:76-77]

Saya tidak bisa bergerak dari kata-kata “berbuat baiklah sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepadamu.” Tuhan telah menganugerahkan saya demikian banyak—materi maupun non-materi. Ada kala saya tak sadar betapa banyak yang telah tercurahkan kepada saya. Kerap saya merasa kurang, kerap rasa khawatir akan kehilangan melanda. Kerap terlintas keyakinan semu “ini punya saya.” – kemelekatan keakuan yang sedemikian kuat hingga tak tersadari.

Menariknya, ayat ini mengajak untuk tidak berlama-lama berkubang dalam pemikiran yang dapat mengarah ke pusaran rasa bersalah ini. Cukup diakui – ya ada kemelekatan dan ketakutan. Dan ya, sadari pula keberlimpahan anugerah Tuhan yang Maha Baik. Sekarang, “berbuat baiklah sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepadamu.”

Kata ihsan yang lantas diterjemahkan menjadi “baik” dalam bahasa Indonesia memiliki makna perbuatan/kata/sikap yang tidak hanya baik (good), namun tepat (proper), sesuai dengan keadaan, sesuai dengan kebutuhan, dan santun.

Lantas muncul pertanyaan usil di benak, “Perbuatan baik apa yang harus saya lakukan?” Ingatan saya melayang ke cerita tetangga seorang teman yang membantunya memasak nasi bungkus untuk dibagikan ke mereka yang kurang mampu – sang tetangga tak punya uang untuk disumbangkan, namun punya tenaga untuk memasak, jadi itu yang ia berikan. Teringat cerita bapak yang bersepeda dari desa ke desa dengan perpustakaan keliling sederhananya.

Tentu saya – dan saya yakin, Anda – punya pula (banyak) hal yang bisa dibagi. Apa itu – saya hanya perlu melihat apa yang telah dititipkan Tuhan pada saya – tidak lebih namun tidak kurang. Apa itu – perhatikan sekitar untuk tahu apa yang dibutuhkan. Apa itu – dengarkan dengan cermat dari saat ke saat – karena dalam setiap saat terdapat tuntutan dan tuntunan berbeda.

Perbuatan baik yang tepat, sesuai keadaan, sesuai kebutuhan, dengan cara yang santun – diberikan secara ringan dan bahkan melebihi harapan. Sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepadamu.

Sapaan yang demikian lembut. Apapun yang dititipkan oleh Tuhan melewati Anda dan saya, tidak lebih, namun tidak pula kurang. Sehingga kita benar-benar mengada sebagai pewujudan Kasih dan Sayang-Nya di dunia — rahmat bagi semesta alam. Semoga Tuhan memberikan pendengaran bagi kita untuk mengetahuinya dan keringanan langkah dalam menjalani.

Terima kasih atas idenya. Semoga dapat berlanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s