Mbak Yun

  Saya ingin memperkenalkan sepupu saya Mbak Yun. Dia berasal dari keluarga sederhana, tinggal di Solo, Jawa Tengah. 

Untuk hidup, dia dan suaminya melakukan berbagai kegiatan yang mereka bisa. Ke pasar sejak dini hari untuk kulakan sayuran. Membuka warung di depan rumahnya untuk menjual sembako dan gas. 

Baru-baru ini, Mbak Yun mulai merintis usaha catering – memasak lauk tradisional (timlo, tumpang, nasi liwet, dsb) pesanan orang yang sedang ada selametan di rumahnya. Belum bisa untuk kawinan karena belum ada perangkat makan dan masak yang memadai. 

Untuk usaha catering tersebut, dia mempekerjakan tetangga-tetangganya yang juga berpenghidupan sederhana. Mereka membantu belanja, masak, dan mengantar makanan. Sebagai upah, mereka menerima sebagian masakan untuk dibawa pulang ke keluarga masing-masing, dan sedikit uang. “Masakan lebih berharga buat mereka, karena berarti hari itu keluarga mereka bisa makan berkecukupan,” ujarnya.

Mbak Yun berputra lima orang (satu meninggal dalam kandungan). Anak sulungnya autis – hiperaktif. Ketika anak itu masih kecil, dia dan suaminya setiap minggu membawa sang anak ke Yogya naik bus untuk mendapat penanganan dokter ahli di sana. 

Kini sang anak berusia 21 tahun, mendapat beasiswa dan diterima tanpa ujian masuk di salah satu sekolah tinggi komputer di Solo dan berhobi seni. Ketika sang anak ingin membeli komputer (setelah yang sebelumnya rusak), sang anak berkeliling jualan sate tahu hingga bisa membayar cicilan komputernya. 

Mbak Yun sering diundang sekolah-sekolah untuk berbagi dan menyemangati para orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Selain mengurus tiga anaknya, dia ketitipan seorang keponakan piatu yang bapaknya bekerja di Jakarta.

Kalau saya berkunjung ke rumahnya — ia tinggal bersama ibu mertua dan keluarga suaminya, dia dan saudara-saudaranya selalu menyiapkan berbagai cemilan untuk disantap (dan membungkusnya untuk dibawa pulang). 

Kemarin, dia juga menghidangkan timlo lebihan masakan cateringnya. Saya tanya, bolehkah saya foto dengan timlonya? “Oh boleh, boleh. Siapa tahu ada yang mau memesan..” selorohnya jenaka.

Mbak Yun juga adalah Ketua RT di lingkungannya. Wajahnya senantiasa dihiasi senyum dengan raut optimis. Gelagat tubuhnya sigap, efisien, dan siap melayani. Tidak terlalu banyak basa-basi (mana sempat..), namun tetap santun dan selalu logis.

Salah seorang guru kehidupan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s