Percaya dan nyaman


Let there be no compulsion in matters of faith
God is the Protector of those who have faith, leading them out of the depths of darkness into the light.
[QS 2: 256, 257]

Tidak ada paksaan dalam beragama (din) […]
Allah Pelindung (waliyy) orang-orang yang beriman; Dia menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya […]
[QS 2:256,257]


Dua penggalan ayat ini seakan merupakan untaian cerita bagi saya. Pada ayat pertama, kata Arab yang digunakan adalah “Laa” yang bermakna “tidak ada” sebagai suatu keniscayaan. Benar-benar tidak ada. 

Sementara kata beragama dalam hal ini mengacu ke kata Arab “din” — agama dalam artian cara mengada, jalan hidup, prinsip-prinsip pribadi yang tertanam kuat dalam diri kita dan tercermin dalam pikiran, ucapan, perbuatan dan perilaku kita. 

Terlepas apa yang kita akui sebagai agama kita, apa yang sebenarnya kita yakini sebagai nilai landasan hidup senantiasa tercermin dalam keseharian secara alami dan otomatis. Berlaku dua arah — pikiran, ucapan, tindakan, dan perilaku keseharian kita merupakan cerminan apa yang sebenarnya kita yakini dalam hidup. 

Kalau demikian, benar bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Setiap orang dengan kondisinya masing-masing. Tidak ada yang bisa dipaksakan atau memaksa. Bahkan diri kita sendiri pun tidak bisa memaksa. 

Seandainya terdapat konflik bathin dalam diri (Misal: kok saya masih pemarah sementara saya khan inginnya jadi orang yang sabar”), maka langkah pertama dalam perbaikan diri adalah kontemplasi secara jujur (Misal: mengakui oh ya masih ada marah dalam diri saya”) dan mengakui ini sebagai kondisi yang ada sekarang tanpa perlu menghakimi atau menyalahkan diri sendiri (Misal: “payah banget deh saya masih marah-marah gini.”).

Penggalan ayat kedua pun terasa sebagai saran peningkatan diri: berimanlah. Miliki rasa percaya — benar-benar percaya — pada Tuhan atau apapun yang kita anggap sebagai suatu kebenaran hakiki atau kekuatan Maha di semesta. Teman saya pernah mengatakan: iman lebih dari sekedar percaya. Iman juga merupakan rasa nyaman dengan Tuhan. Merasa nyaman setelah memilih (hadir bersama) Tuhan.

Bayangan yang paling mendekati bagi saya adalah layaknya seorang anak yang demikian percaya pada ibunya. Ketika anak sedang bermain, selama Ibunya tampak oleh dia, ada di sekitar, dia merasa aman dan terus bermain. Apabila berjalan di tempat yang dia tidak nyaman, dia akan memegang tangan ibunya erat. Apabila Ibu datang dari pergi, dia akan menyambutnya. Apabila dia sakit, dia percaya apapun yang Ibu minta dia lakukan (ke dokter, tidur, diselimuti, makan obat, dsb). 

Ketika saya tengah mengkontemplasi ayat ini, terutama penggalan ayat kedua, tetiba seorang teman bertutur tentang dua orang temannya — satu memiliki pegangan berupa agama, sementara yang lain tampak tidak berpegang pada suatu (kekuatan yang lebih agung dari dirinya) apa pun. Saat diterpa pengalaman hidup yang mengguncangkan, orang pertama bisa berjalan lebih nyaman — saat gelisah muncul, dia kembali kepada Tuhannya melalui ritual-ritual yang nyaman baginya. Sementara yang lain tetap dalam kondisi yang lebih tidak nyaman.

Tersenyum saya dihadirkan cerita ini — benar adanya. Ketika kita memiliki rasa percaya dan nyaman kepada Tuhan/Semesta, maka Dia akan menempatkan dirinya sebagai Pelindung kita (kata waliyy memiliki makna kedekatan, melindungi, mengambil alih tanggung-jawab/urusan) dan menuntun dari kegelapan ke terang. Dari ketidakjelasan ke kejelasan. Dari ketidaktahuan ke pengetahuan. Bagi mereka yang memiliki rasa percaya dan nyaman dengan-Nya.

Apabila rasa percaya dan nyaman itu tidak hadir, bukannya Tuhan lantas tidak menuntun, tapi kitanya yang tidak percaya. Seperti halnya kalau kita tidak percaya dengan orang lain, bawaannya lantas selalu khawatir, curiga, ragu-ragu, dan mempertanyakan. Kalau hal ini terjadi, bagaimana mereka (atau Dia) bisa menuntun kita? 

Untungnya, Tuhan tidak pernah berputus asa terhadap kita dan memiliki kesabaran dan kasih tak berbatas. Kapan pun mulai tumbuh kesadaran, kepercayaan, kenyamanan dan keinginan kita atas tuntunan-Nya, Dia akan hadir. Insya Allah.

Langkah pertama seperti yang disarankan oleh ayat-ayat ini, adalah menilik ke dalam secara jujur memahami kondisi kita sekarang, tanpa menghakimi atau menyalahkan siapa-siapa, dan mulai menumbuhkan rasa percaya dan nyaman kepada Tuhan (apapun yang kita sebut sebagai Tuhan) dan berjalan sesuai tuntunan-Nya. 

Saya teringat suatu kejadian. Saat itu saya hendak menuang teh untuk teman saya. Kebetulan teman lain sedang menuang teh dari teko yang sama, sehingga saya perlu menunggu. Dia bertanya, “Mau menuang teh ya?” “Iya,” jawab saya sambil terus menatap ke teh yang keluar dari teko — tampaknya sudah sedikit, cukup gak ya. Teman saya sepertinya merasakan keresahan saya. Dia berujar sambil terus menuang teh, “Have faith. I do.” 

Suatu kejadian kecil yang menunjukkan bahwa saya masih perlu terus belajar untuk memupuk rasa percaya dan nyaman. Bahwa semua sejatinya baik-baik saja. Bahwa porsi saya telah diatur dan pasti cukup sesuai kebutuhan. Bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam keseharian, hingga hal sekecil apapun, sebagai Pelindung bagi mereka yang beriman, menuntun dari kegelapan menuju terang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s