Monthly Archives: June 2015

Hingga yang kaucinta merasa bebas


“Mencintalah sedemikian hingga yang kaucinta merasa (ter)bebas(kan).” Demikian ujar Thich Nhat Hanh. Sebuah sapaan yang terus lekat di hati. Aku dapat merasakan kebenaran yang ia kandung. Aku pun dapat merasakan lengketnya kalimat itu setiap ia melintas dalam kesadaranku. Sebuah pekerjaan rumah yang belum tuntas dalam sekolah kehidupanku.
Continue reading

Advertisements

Mengingat untuk menyelaraskan diri


“When you have finished your prayer, remember God – standing, and sitting, and lying down; and when you are once again secure, observe your prayers. Truly, for all the faithful prayer is a sacred duty joined to particular times.” QS 4:103, dari The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan sembahyang(mu), ingatlah Tuhan di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu kembali merasa aman, maka dirikanlah sembahyang itu. Sesungguhnya, bagi orang-orang yang percaya dan merasa nyaman dengan Tuhan, sembahyang merupakan suatu ketetapan luhur yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.” QS 4:103

Shalat (sembahyang) dan zikr (mengingat). Dua kata yang senantiasa menggelitik keingintahuan saya. Saat dua kata tersebut muncul dalam satu ayat dan seperti bergantian, saya mencoba memaknai ayat tersebut bagi saya pada saat ini. Yang saya tahu, pesan yang terkandung di dalamnya teramatlah penting.

Ayat ini merupakan sapaan yang demikian kuat untuk senantiasa menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu kita pada setiap saat. Untuk mengizinkan diri agar senantiasa tergerakkan dari lubuk hati yang terpenuhi oleh Tuhan.
Continue reading