Hingga yang kaucinta merasa bebas


“Mencintalah sedemikian hingga yang kaucinta merasa (ter)bebas(kan).” Demikian ujar Thich Nhat Hanh. Sebuah sapaan yang terus lekat di hati. Aku dapat merasakan kebenaran yang ia kandung. Aku pun dapat merasakan lengketnya kalimat itu setiap ia melintas dalam kesadaranku. Sebuah pekerjaan rumah yang belum tuntas dalam sekolah kehidupanku.

Tuhan Maha Baik. Tak jera Dia menyapaku dan memegangi tanganku. Kali ini, Dia hadirkan kau sebagai guru terbaikku untuk mata pelajaran itu. Denganmu, aku merasa kenyamanan, kebahagiaan, dan kemelekatan yang hingga kini masih kujuluki cinta. Berbeda dengan pelajaran sebelumnya, aku kini sadar bahwa sejatinya ini memang cinta, karena tidak ada yang tidak cinta dalam Jalan kita.

Hanya saja, cinta yang kumaknai belum terbersihkan dari bumbu rasa dan memori semu. Aku masih bisa merasakan sedihku bila tak bersamamu. Aku bisa merasa iri dan cemburuku bila ada yang lain yang membuatmu tampak (lebih) bahagia. Aku bahkan masih merasa jarak saat kita bersama. Betapapun aku nyaman bersamamu, tetap ada rasa tak berani terungkap, inferioritas akut, dan kekhawatiran atas segala “bagaimana kalau”.

Aku tahu. Kini aku tahu: Ini tidaklah salah. Aku tidak salah. Semua rasa ini tidak salah. Lega aku menyadari itu. Aku menerima bahwa semua ini masih ada dalam diriku. Bahkan aku terbuka pada kemungkinan bahwa rasa-rasa itu belum tentu benar. Mungkin saja mereka adalah label terhadap memori dan sensasi yang membuncah — gelembung sabun tipis yang menyelubungi udara di dalamnya, dan sebenarnya mudah pecah. Aku juga menerima, minimal pada level konsep, bahwa semua ini akan berubah, entah menjadi apa, entah melalui jalan apa, tapi pasti bermuara di Cinta.

Aku senang kau menjadi guruku dalam hal ini. Aku senang menjadi diriku bila bersamamu. Aku merasa diterima apa adaku. Jujur, aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi dalam landskap interiormu. Ingin tahu, tapi mana berani aku bertanya? Mana berani aku mengungkap landskap interiorku pun. Khawatir itu tadi. Hidup terasa rumit kalau sedang seperti ini.

Untung Semesta adalah kepala sekolah yang Maha Lihai. Dia izinkan dinamika untuk mengalir, melalui lembah, hutan, pegunungan, laut, dan wilayah hunian. Semua atas nama dan demi agar sejati-Nya diketahui benar, dikenal sebagai mata pelajaran utama itu: Cinta.

Kini, hal-hal yang tak esensial itu terasa mulai tergerus. Lucu memang proses ini, karena tak ada yang bisa aku lakukan. Bahkan, tak ada yang perlu kulakukan, kecuali menyadari, menerima dan merengkuhnya; percaya bahwa Semesta mengatur segala atas nama Cinta. Tidak selalu mudah. Setiap terbersit rasa yang menyempitkan ruang hati, kadang aku bisa lepas begitu saja. Kadang aku butuh waktu. Bahkan kadang aku butuh ruang dan privasi. Aku paham, ini bukan yang sejati. Lepas.

Kagumnya lagi, apapun yang muncul, seraya menyadari riak-riak tersebut, pada saat yang sama, aku dapat merasakan bahwa, di bawah semua itu, selalu ada Samudera yang melandasinya – tempat sejatinya kita berpulang dan mengada.

Aku berterima kasih kau telah ditetapkan sebagai guruku saat ini. Teman perjalanan. Cermin. Ringanmu. Cerdasmu. Lucumu. Seriusmu. Keunikanmu. Jarakmu. Kehadiranmu. Bijakmu. Lugumu. Populermu. Dalammu. Baikmu. Tulusmu. Luangmu. Sibukmu. Acuhmu. Tak Acuhmu. Sempurna.

Seiring mengalirnya tuangan kata dalam tulisan ini, aku tersadar bahwa keterkaitan kita adalah mikrokosmos dari makrokosmos keterkaitanku dengan kehidupan. Kaya akan faset-faset cerminan Kesempurnaan dan Cinta Kasih-NYa. Semua merupa tuntunan dan sapaan untuk mencinta dalam cinta, hingga Cinta bergerak meluas melingkupi Cinta yang intransitif dan non-personal. Hingga kita menjadi pancaran Cinta itu sendiri.

Tuhan memang selalu memberiku yang terbaik. Kini, Dia memberikanku: kau.

Bisikku: Semoga terus. Mari bermain. Menari suka cita, mengikuti irama Semesta. Bebas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s