Mengingat untuk menyelaraskan diri


“When you have finished your prayer, remember God – standing, and sitting, and lying down; and when you are once again secure, observe your prayers. Truly, for all the faithful prayer is a sacred duty joined to particular times.” QS 4:103, dari The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan sembahyang(mu), ingatlah Tuhan di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu kembali merasa aman, maka dirikanlah sembahyang itu. Sesungguhnya, bagi orang-orang yang percaya dan merasa nyaman dengan Tuhan, sembahyang merupakan suatu ketetapan luhur yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.” QS 4:103

Shalat (sembahyang) dan zikr (mengingat). Dua kata yang senantiasa menggelitik keingintahuan saya. Saat dua kata tersebut muncul dalam satu ayat dan seperti bergantian, saya mencoba memaknai ayat tersebut bagi saya pada saat ini. Yang saya tahu, pesan yang terkandung di dalamnya teramatlah penting.

Ayat ini merupakan sapaan yang demikian kuat untuk senantiasa menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu kita pada setiap saat. Untuk mengizinkan diri agar senantiasa tergerakkan dari lubuk hati yang terpenuhi oleh Tuhan.

Pada saat-saat yang telah ditentukan, kita diajak untuk menghadapkan keberadaan secara menyeluruh kepada-Nya. Saat-saat sembahyang bagi mereka yang beriman – yang percaya dan merasa nyaman bersama Tuhan. Saat-saat menjalin dialog yang demikian dekat dengan-Nya dan tidak menyertakan yang lain. Saat kita menyelaraskan seluruh keberadaan dengan sejatinya diri, mengingatkan kita akan tujuan keberadaan insan di muka bumi. Lebur.

Kemudian, kembali kita diharap untuk menyebar ke segala penjuru, menjalankan fungsi masing-masing, dengan tetap mengingat-Nya. Menjadikan Tuhan sebagai poros penuntun kehidupan – apapun yang kita anggap sebagai Tuhan – dalam setiap keadaan. Sehingga semua yang kita lakukan pun selaras dengan itikad penciptaan manusia sebagai rahmat bagi semesta – pikiran, perkataan, dan perilaku yang santun, beritikad baik, dan bermanfaat bagi semua makhluk.

Hingga tiba saat untuk kembali berdialog secara khusus dengan-Nya. Sekali lagi kita menyelaraskan keberadaan dan mengingatkan diri akan kehadiran kita di sini. Dialog yang dilakukan pada saat-saat aman (yang berakar kata sama dengan ‘tenteram’ atau ‘tenang’ dalam bahasa Arab). Menggarisbawahi pentingnya suasana hening sebagai prasyarat terciptanya dialog. Sebagai ketetapan luhur: keniscayaan yang menegakkan kembali kesucian jiwa seorang insan.

Semua berlangsung bergantian, dinamis, dan terus-menerus. Layaknya proses bernapas: Ada saat menarik napas, ketika semua menjadi internal, dan ada saat menghembuskan napas, ketika semua menjadi eksternal. Keduanya diperlukan. Keduanya dilakukan secara bergantian. Yang tetap ada adalah napas itu sendiri, yang terproses utamanya di poros tengah tubuh, dan manfaatnya tersebar menggerakkan seluruh tubuh.

Setiap manusia yang telah nyaman dengan Tuhannya memiliki kebutuhan akan saat-saat seperti ini, apapun agama atau kepercayaan kita. Disadari ataupun tidak. Apapun yang kita sebut sebagai Tuhan dan bagaimanapun cara kita mendekatkan diri kepada-Nya — suatu hal yang hanya kita sendiri yang bisa menjawab apabila kita jujur pada diri.

Apapun jawaban kita, mudah untuk mengindikasi kebutuhan tersebut, atau menengarai kapan kita sudah mulai tercerabut dari poros. Saat emosi mulai bergejolak; saat kekhawatiran dan kesedihan melanda; saat kita mulai lengah atau lupa untuk bersikap santun dan mengasihi.

Datanglah sapaan seperti yang terkandung dalam ayat ini: sembahyanglah dan ingatlah Tuhan. Selaraskan diri dengan Semesta. Izinkan Semesta untuk menggerakkan diri kita pada setiap napas, kondisi dan tindakan.

Semakin lama, semakin terasah halus rasa dan ekspresi sikap yang terbentuk. Semakin lama, kerinduan untuk kembali semakin membuncah. Semakin kerap dan cepat pula kita kembali mengingat. Hingga suatu saat, semoga tak ada lagi celah kelengahan dalam hidup, dan terwujudlah kehidupan yang senantiasa tertuntun dan bermanfaat bagi semesta.

Ditulis pada malam Waisak, sebagai pengingat diri akan momentum kelahiran, pencerahan, dan kematian. Pada malam nifsu sya’ban — dua minggu sebelum Ramadhan — yang melambangkan proses pensucian. Setelah sebelumnya merayakan Isra’ Mi’raj Muhammad dan Kenaikan Isa Al-Masih: yang melambangkan kedekatan pada Tuhan. Satu proses tunggal. Insha Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s