Ibu Lumrah

img_5683-3

Pada suatu masa, hiduplah seorang ibu bernama Lumrah. Perawakan Bu Lumrah sedang; Tidak besar, tidak pula kecil. Agak sekel, kalau kata warga dusun. Ia dikenal sumringah, gesit, dan ringan tangan. Ibu Lumrah kerap tampak meluncur ke sana ke mari dengan baju lurik dan jariknya, tanpa alas kaki; menyapa ramah dan berbincang dengan warga. Kalau sedang tak berkeliling, Ibu Lumrah berdiam di rumahnya, seraya bebersih, mengurus ladang, atau menemani tamu yang mampir di warung teras rumahnya.

Ibu Lumrah tinggal di dusun Nengah – di dataran berhawa sejuk di pusat pulau, dikelilingi bongkahan gunung hijau menjulang megah. Warganya tidak terlalu banyak. Tapi mereka praktis memenuhi segala kebutuhannya, berkat kekayaan alam sekitar, kemampuan masing-masing warga, dan hidup saling memperhatikan dan salng bantu yang demikian mengakar di dusun itu.

***

Sebagai putri tunggal, Ibu Lumrah menerima kelimpahan kasih sayang dari kedua orangtua semenjak kecil. Sibu — demikian Ibu Lumrah memanggil ibundanya — adalah perempuan santun, ramah, dan bersahaja. Banyak yang senang berteman dengannya. Walau kalau dipikir, tidak banyak yang tahu tentang hal-hal pribadinya.

Sibu hampir tidak pernah meninggalkan desa semenjak kecil. Hingga dewasa dan berputri Lumrah pun, Sibu lebih banyak berkegiatan di rumah. Ia tampak damai dengan itu. Merawat rumah dan ladang; memasak penganan lezat (Lumrah suka!); meramu minuman atau jejamuan yang sering dibagikan ke para tetangga atau tamu. Favoritnya adalah mengerjakan segala hal itu sambil ditemani putri semata wayangnya.

Sibu juga seorang pembatik. Seberapa piawai Sibu dalam membatik, Lumrah cilik tidak terlalu paham. Yang pasti, selalu saja ada orang yang datang ke rumah minta dibuatkan batik. Mereka rela menunggu berbulan-bulan purnama hingga pesanannya jadi. Sibu kerap mengajak Lumrah cilik membantunya atau sekadar duduk menemani Sibu membatik.

Lumrah cilik senang-senang saja. Entah kenapa, berada di sekitar Sibu selalu menyenangkan. Bermanja-manja di pangkuan Sibu sambil mendengarkan tuturan tentang kenapa motif batik yang ini seperti ini dan itu seperti itu, seperti didongengkan cerita paling mencengangkan di dunia. Tak ada batik dengan cerita yang sama.

Setiap tamu pun akan dijamu oleh Sibu dengan penuh kehangatan. Mereka akan berbincang lama. Entah apa yang mereka bincangkan, Mungkin mereka senang dengan Sibu karena Sibu sabar mendengar celotehan mereka. Atau karena Sibu tukang masak andal. Tidak ada kunjungan yang tidak dilengkapi dengan penganan lezat.

Lumrah bertindak sebagai sous-chef. Lebih baik jadi sous-chef ketimbang harus duduk menemani tamu. Kalau makanan sudah siap, dan mereka terus berbincang, Lumrah kecil lekas jenuh. Orang dewasa kalau bicara suka panjang dan rumit. Lumrah tidak pernah mengerti kenapa mesti begitu. Ia memilih untuk berlari-larian di sekitaran desa.

***

Romo (Bapaknya Lumrah) sangat berbeda dengan Sibu. Romo suka bepergian untuk bertualang — outdoor person kalau istilah orang sekarang. Kalau bepergian tidak terlalu jauh — seminggu dua minggu, Lumrah suka diajak. Wah, senang bukan main. Zaman itu, tidak terlalu banyak anak perempuan yang diajak berkeliling oleh bapaknya. Lumrah dan Romo adalah pengecualian.

Bertemu beragam orang baru dan lama, mendulang berbagai pengalaman selama perjalanan yang sering tak terduga, bercengkerama dengan alam, mendengarkan tuturan Romo tentang petualangan-petualangan ajaibnya — Lumrah selalu menantikan saat berikutnya ia akan beperjalanan.

Romo juga suka bertemu dengan macam-macam orang, untuk duduk dan berbincang lama. Kadang setelahnya, ia membawa semacam gulungan daun kering bertuliskan aksara. Untuk bekal kamu, itu selalu yang Romo bilang. Lumrah sih iya-iya saja. Tak terlalu ambil pusing.

Romo kalau sedang di dusun akan bertani di ladang mungil di belakang rumah atau berprakarya membuat perabot, ukiran lain, dan mainan untuk putrinya tersayang. Ya, Lumrah kecil sering punya mainan unik karya romonya yang tidak dimiliki anak lain di dusun.

Sering orang datang ke rumah juga untuk berbincang dengan Romo. Beliau memang ramah dan suka ngobrol. Hidup terasa penuh main-main dan ringan bersamanya. Menjelang senja, kalau sedang sepi tamu, sekeluarga bertiga berkumpul. Romo pun mengeluarkan daun kering — beliau menyebutnya lontar — dan mulai membacakan, sambil ditambahkan bumbu-bumbu yang menggelitik. Tak bosan Lumrah dan Sibu menyimaknya.

***

Semua ini membentuk Ibu Lumrah sebagamana ia saat dewasa. Sibu dan Romo sudah tak ada; Berbaring tenang di peristirahatannya yang terakhir. Rumah dan ladang mungil kini dirawat oleh Ibu Lumrah. Beberapa batik dan gulungan lontar menjadi peninggalan Sibu dan Romo — obat kangen yang ia rawat penuh kasih.

Sesekali, pagi sebelum berkegiatan atau malam sebelum tidur, Ibu Lumrah menggelar batiknya untuk diangin-angini, atau membuka salah satu lontar sebagai dongeng pengantar tidur, atau pembuka hari. Ya, Sibu dan Romo tetap mendampinginya sepanjang masa.

Rumah Ibu Lumrah terletak di penghujung desa yang mengarah ke puncak bukit. Ladang mungil di belakang rumah masih tetap terpelihara dengan baik. Sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, dan beberapa tanaman herba melengkapinya. Bagian teras rumah sudah dialihfungsikan menjadi warung — penganan dusun dan minuman penyengar tradisional resep Sibu.

Orang kerap datang dengan kondisi atau keluhan tertentu. Lumrah, walau tidak pernah nyantri secara resmi, dengan naluriah menyiapkan jejamuan sesuai kebutuhan. Namun ia belum bisa menjadi Sibu atau Bapak. Belum cukup sabar mendengarkan cerita orang. Begitu cerita sudah terasa agak panjang atau terlalu serius baginya, Ibu Lumrah selalu mengalihkan, berusaha membuat semua ringan.

***

Bila orang berjalan terus ke luar desa melewati rumah Ibu Lumrah ke atas bukit, sekitar sepertiga hari, mereka akan menemukan candi tempat sembahyang. Banyak pendatang yang melewati desa untuk menyambangi candi itu. Macam-macam alasannya. Ada yang datang untuk bertemu empu atau pandita, atau sekedar memberi hormat pada Sang Hyang.

Sebelum meninggalkan desa, biasanya para pendatang mampir di warung Ibu Lumrah. Sekadar meluruskan kaki, mengisi perut yang keroncongan, atau sekadar ingin mengobrol.

Kadang-kadang, tanpa alasan yang jelas, Ibu Lumrah menemani beberapa pendatang untuk berjalan menuju candi. Berbekal penganan khas Ibu Lumrah untuk si pejalan dan pandita candi. Para pandita tampak akrab dan hormat pada Ibu Lumrah. Beberapa bahkan terlihat segan. Itu kata orang. Ibu Lumrah sendiri tidak ambil pusing tentang itu.

***

Warung Ibu Lumrah tidak pernah sepi. Kalau bukan pendatang, warga, anak-anak atau remaja suka mengumpul kala sore. Untuk mengutak-atik berbagai mainan lucu khas Romo, mendengarkan cerita-cerita luar biasa petualangan Ibu Lumrah atau membaca lontar.

Menjelang senja, kumpul-kumpul pun bubar. Rumah kembali senyap. Ibu Lumrah lantas memulai prosesi menuju tidurnya. Merapikan rumah. Menyalakan penerang. Kadang menggelar batik, atau membaca lontar. Senyap, kecuali saat Pakne sedang di rumah.

Pakne hadir sekitar tiga purnama setelah Romo tiada. Sibu berpulang sebelum itu. Pakne pertama lewat sebagai pendatang. Ia mampir di warung dan Ibu Lumrah pun mengantarnya ke candi. Entah bagaimana, sejak itu, mereka tak terpisahkan; bahagia tak terkirakan.

Tak terpisahkan kecuali kalau Pakne sedang berkelana, sebagaimana ia sebelum bertemu Ibu Lumrah. Ibu Lumrah tampak tenang-tenang saja. Mungkin terbiasa dengan dinamika Sibu dan Romo. Warga desa pun menerima Pakne dengan tangan terbuka. Seperti Ibu Lumrah, Pakne juga mudah berteman, ringan tangan, punya banyak cerita seru dan rasa humor yang menggelitik.

Waktu berjalan. Suatu hari, Pakne pamit pergi seperti sebelumnya. Dua purnama berlalu, belum nampak kehadirannya kembali. Ibu Lumrah merasakan sesuatu yang berbeda. Sorenya, saat Ibu Lumrah sedang menyiangi kebun, angin berhembus lembut. Ibu Lumrah menegakkan badan, memiringkan kepala, dan memejamkan mata. Ia paham. Tahap baru kehidupannya dimulai.

***

Sejak itu, Ibu Lumrah sedikit berubah. Ia tetap ramah dan ringan tangan. Tetap membuka warung dan rumahnya bagi warga dan pendatang. Namun ia kini lebih tenang. Seperti Sibunya sekarang, bisik-bisik warga dusun.

Ibu Lumrah pun lebih membuka diri untuk mengobrol serius dengan pendatang maupun warga. Beberapa anak/remaja jadi lebih sering dan lebih lama di nongkrong di rumahnya. Ibu Lumrah mengajarkan mereka semua ilmu warisan Sibu dan Romo. Tiga anak muda bahkan mulai membantunya merawat kebun, memasak, dan menjaga warung.

Waktu terus berlalu. Suatu pagi, Ibu Lumrah terjaga dan merasakan sesuatu berbeda. Ia paham. Masa kembali berubah. Persiapan pun ia mulai, walau kegundahan sempat terbersit. Ibu Lumrah membenahi ladangnya lebih detil dari biasa. Bebersih rumah lebih teliti. Sambil terus membuka warung dan menyediakan diri untuk berbincang dengan warga dan pendatang. Tak ada yang memperhatikan kecuali tiga anak muda tersebut.

***

Dini hari suatu bulan gelap, Ibu Lumrah bangun dan bersiap. Ia mulai berjalan keluar. Di ambang pintu, ia membalikkan badan, menatap rumah dan ladangnya. Senyumnya mengembang lembut. Perlahan ia menutup mata, hening, sebagai ucapan syukur dan terima kasih tak terkira.

Ibu Lumrah melangkah keluar, menutup pintu, dan berjalan menuju candi tanpa terlihat seorang warga pun. Tak ada yang pernah mendengar lagi kabarnya. Menurut pandita, Ibu Lumrah tidak pernah sampai di candi pagi itu.

Beberapa hari berlalu, masih belum ada kabar. Warga mulai resah. Tapi tidak tiga warga muda dusun yang membantu Ibu Lumrah. Mereka membuka rumah Ibu Lumrah. Jendela juga. Agar udara mengalir bebas. Semua dalam kondisi paripurna. Mainan tertata rapi. Ada tiga tumpukan batik dan lontar. Masing-masing pemuda mengambil seperangkat tanpa banyak bicara, sebagai bentuk penghormatan mereka. Satu lantas menuju kebun. Satu bebersih rumah. Satu mulai memasak, membuka warung. Siap menyambut pendatang yang lewat.

***

Sesungguhnya Ibu Lumrah hidup pada masa dunia sekitarnya gonjang-ganjing. Walau tidak pernah menyentuh dusun Nengah, kegegeran terus berlanjut. Kemelut menyebar, hawa keresahan mencapai dusun — terhanyut oleh bayu dan mewarnai pendatang yang lewat.

Bhakti belum terselesaikan. Mungkin suatu masa nanti, Ibu Lumrah akan kembali. Menuntaskan yang masih menggantung. Kali lain, ia akan memulai lebih awal. Tanpa keraguan ataupun pengelakan. Berbagi secara lebih total. Menemani hingga tuntas.

Gusti Pangeran yang mengatur. Yang Maha Tahu.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s