Ditertawakan

qbp8rieBapak Ibu saya adalah orang Jawa. Sayangnya hingga kini saya belum bisa berbahasa Jawa dengan baik karena di rumah Bapak Ibu memutuskan untuk berbicara Bahasa Indonesia. Sudah lama saya ingin belajar. Saya sudah mulai sedikit-sedikit. Mencoba berbicara dan bertanya kepada Ibu atau saudara saya di rumah bagaimana mengatakan ini atau itu.

Suatu kali, saya menaruh tulisan di Facebook dalam Bahasa Jawa. Namanya belajar. Jadi ada yang belum sempurna. Alih-alih diberi masukan untuk perbaikan, beberapa respon menertawakan bahasa Jawa saya. Bahkan dikatakan sudahlah, kembali ke berbicara Bahasa Inggris saja sebagaimana biasa.

Sejenak saya tertegun. Ada rasa sakit ditertawakan seperti itu. Saya tanggapi, “Jangan ditertawakan donk. Bantu saya memperbaikinya”. Dengan baik hati, teman-teman membantu menyempurnakan kalimat yang saya tulis.

Kejadian ini telah lama berlalu. Yang menarik, rasa sakit yang sejenak muncul itu masih terasa di saya. Rupanya rasa sakit lama. Bukan semata karena Bahasa Jawa saya jauh dari sempurna. Tetapi karena rasa sakit akibat ditertawakan dan dicemooh secara umum, yang rupanya masih bersemayam dalam bawah sadar saya.

Saya lahir dengan kondisi sebagai albino. Saya tidak tahu seberapa banyak orang memahami rasanya menjadi seorang anak dengan penampilah fisik yang berbeda dibanding yang lain — bukan di luar negeri, tetapi di tempat yang saya sebut tanah air saya. Di tanah air saya, saya berpenampilan fisik yang mencolok berbeda, tanpa bisa disembunyikan.

Teman-teman semasa kecil mem-bully saya dengan berbagai kata dan canda. Saya dikerubuti dan dikata-katai. Begitu pula kalau saya jalan ke tempat keramaian, orang kerap menatap (Terima kasih kepada Ibu dan Kakak yang selalu mengenggam tangan saya). Beberapa anak pun kadang mengikuti saya. Baik secara bisik-bisik yang tetap terdengar maupun terang-terangan, mereka berceloteh dengan ringannya, “Bule! Bule! Bule Depok!” — itu kata-kata yang paling sering saya terima.

Saya belajar — bagaimana rasanya ditertawakan tanpa tahu kesalahan saya (kalaupun ada), tanpa tahu harus bagaimana, dan tanpa bisa apa-apa. Tidak enak sama sekali. Saya menjadi anak yang defensif dan agresif; Cenderung menyendiri dengan buku, mainan, dan cemilan. Atau memilih bermain hanya dengan keluarga dan tetangga yang tidak pernah mempermasalahkan kondisi saya.

Beruntung, saya dikaruniai keluarga yang menerima dan menyayangi saya apa adanya. Seiring waktu, saya mendapat lingkungan yang lebih menerima saya — kalaupun ada penilaian, sama sekali bukan berdasarkan warna kulit. Saya pun dilimpahi berkah kesadaran untuk semakin menyayangi dan menerima diri seutuhnya, yang lebih dari sekadar kondisi kulit; bahkan merayakan keunikan sebagai individu. Perbedaan bukanlah kelemahan, kerendahan, atau kekurangan, melainkan bentuk keragaman Sang Maha Kaya.

Namun, saya juga perlu menghargai dan mengakui perasaan saya: Rasa sakit hati ketika ditertawakan. Yang ternyata masih betah bercokol dalam diri. Berupa ketidakpercayaan diri pada penampilan fisik, serta kesensitifan bila saya atau orang lain ditertawakan, dihina, atau diolok-olok.

Penghargaan dan rasa hormat kepada manusia maupun makhluk lain menjadi topik penting dalam hidup saya. Saya bisa melihat rasa sedih itu di mata manusia atau makhluk lain ketika mereka diolok-olok. Mungkin tepatnya, saya mengenali kesedihan dan kemarahan itu; karena kesedihan dan kemarahan itu juga pernah dan masih saya rasakan.

Pagi ini saya kembali diingatkan akan topik ini, ketika sebuah strip karikatur menunjukkan betapa komentar olok-olok yang dianggap remeh dan lumrah bisa membahayakan, dalam arti, menyakiti orang lain. Betapa olok-olok, cara kita mencandai orang menunjukkan nilai yang secara implisit kita usung. Kata-kata yang kita ucapkan secara spontan menyuarakan apa yang ada di hati kita.

Bagi yang menerima olok-olok, seberapapun mereka ikut tertawa (kecut) atau hanya bisa terdiam, akan meninggalkan reaksi dalam mental mereka dan turut membentuk pribadi mereka pada masa depan.

Sayang memang, kebanyakan kita terbentuk untuk menelan semua yang disampaikan kepada kita — sehingga menjadi trauma dan rasa sakit yang kita simpan sendiri. Atau, sebaliknya, merespon secara agresif — menyerang balik dengan kata-kata yang sama pedasnya, bahkan disertai suara meninggi dan serangan fisik.

Apabila tidak disadari atau tidak berproses, hal ini bisa berkembang entah menjadi ketidakpercayaan diri, atau menjadi agresif, kepercayaan diri berlebihan yang semu dan bahkan pemberontak. Semua atas nama proteksi diri. Cara untuk mempertahankan keutuhan hidup.

Belum banyak orang yang terbiasa menyuarakan pendapat atau perasaan dengan baik — dengan jujur, jelas, dan santun. Permintaan saya untuk dibantu menyempurnakan Bahasa Jawa kepada teman-teman di Facebook merupakan latihan bagi saya — bahkan di situ pun saya belum mampu untuk dengan terus terang mengatakan: Saya merasa tersakiti dengan apa yang baru kamu ucapkan. Belum sampai sana.

Pernah sekali saya berlatih dengan Ibu. Ibu saya jago masak. Dia selalu menemukan cara jitu untuk memperbaiki suatu masakan; dimulai dengan pendapat apa yang kurang dari masakan yang ada sekarang. Jadi suatu saat, saya hendak membuat kue, Ibu ada di situ. Memori itu muncul: Pasti ibu saya akan berkomentar. Saya terdiam, bertanya kepada diri apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Saya berusaha jujur, apa yang muncul, saya ucapkan. Saya tatap matanya, “Ma, bagaimana pun hasilnya, tolong jangan dikomentari secara negatif ya. Nanti aku sedih.”

Semua ini adalah bagian dari perjalanan saya sebagai manusia. Dari sini, saya belajar untuk menerima diri. Saya belajar betapa sensitifnya perasaan bila dikerdilkan dan betapa dahsyatnya dampak pengkerdilan itu terhadap pribadi seseorang. Demikian sebaliknya. Betapa penerimaan dan penghargaan dapat melegakan seseorang sehingga bisa bertumbuh optimal.

Begitu besar dampak kata-kata yang terucap dari mulut kita, sekalipun dalam nada ringan dan bercanda, terhadap orang lain dan diri kita sendiri. Betapa mereka merupakan cerminan jiwa kita. Betapa penting kita belajar untuk mengenali rasa yang bergejolak dalam diri dan mengekspresikannya secara tepat, jelas, dan jujur tanpa niat menyakiti siapapun. Betapa baik bila kita bisa mengasah sensitivitas kita terhadap gelagat dan perasaan orang lain. Betapa bersyukur saya atas keluarga, sahabat-sahabat, dan rekan kerja saya.

Perjalanan seperti ini adalah perjalanan yang ingin saya bagi dengan teman-teman seperjalanan, atau siapa pun yang tertarik untuk mendengar dan berbincang. Perjalanan kita menjadi apa yang dimaknai sebagai insan. Semoga semakin lama semakin halus. Semakin lama semakin penuh kasih. Semakin lama semakin jujur dalam merasa dan berekspresi. Semakin lama semakin mengalir. Semakin lama semakin damai dan bahagia. Karena dari sini, muncullah potensi sejati manusia yang dahsyat. Insya Allah.

Gambar diambil dari sini. Karena buat saya, Daffy Duck merepresentasikan individualitas tanpa tedeng aling-aling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s