Dulu saya berpikir kami sekadar membuka perpustakaan ramah anak …

[English]

PSX_20180218_180619Tak terasa, sudah delapan tahun lebih saya mengiringi Taman Bacaan Pelangi bertumbuh. Setiap tahun, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan kami*. Bagi saya pribadi, kunjungan-kunjungan tersebut penting. Mereka mengingatkan saya kembali kenapa saya melakukan semua ini.

Begitu halnya yang terjadi minggu lalu ke kota Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ini kali kedua saya hadir sebagai perwakilan TBP yang meresmikan pembukaan perpustakaan ramah anak. Bedanya, kali ini, saya (bersama tim) meresmikan 18 perpustakaan sekaligus dalam kurun waktu singkat tujuh hari.

Riuhnya acara-acara peresmian bisa dilihat di akun instagram @pelangibook. Kisahnya pun bisa kita tunggu dari postingan tim TBP yang berbasis di Ende – mereka lebih tahu detilnya.

Tetap saja, tidak akan ada gambar atau cerita apapun yang dapat benar-benar melukiskan dedikasi dan kerja keras semua pihak yang terlibat di balik layar – para kepala sekolah, pustakawan, guru, orang tua, anak-anak, mitra pemerintah, dan tentu saja teman-teman tim TBP yang berbasis di Ende.

Saya pun turut larut dalam keriaan dan keterharuan. Bila ditilik dari betapa meriahnya sambutan masyarakat, saya kerap takjub. Sekali saya berbisik ke rekan yang berdiri di sebelah pada saat acara peresmian, “Kita khan ‘cuma’ buka perpustakaan ya? Kenapa jadi seheboh ini?”

Pertanyaan yang semula saya lontarkan secara retorik ini kemudian menawarkan jawaban tersendiri selama perjalanan saya di Ende – layaknya bunga yang merekah secara perlahan.

“Heboh” karena ini lebih dari sekadar membangun perpustakaan

Seperti biasa, sebelum memberikan sapaan pada acara peresmian, saya siapkan apa yang ingin saya sampaikan. Alur sapaan yang kurang lebih sama saya utarakan pada setiap acara pembukaan. Salam kepada semua. Gembira bisa hadir. Kenapa kami melakukan ini. Sekilas tentang TBP. Proses yang kami lalui bersama hingga ke hari pembukaan. Apresiasi terhadap semua pihak. Harapan.

Demikian setiap kali sapaan ini saya ulangi. Hingga suatu pagi, saya berbincang dengan videographer yang merekam kegiatan TBP minggu lalu saat kami sarapan. Dia baru pertama kali datang ke Ende, dan baru pertama kali pula hadir di perpustakaan TBP.

Obrolan kami mengalir begitu saja. Saya berbagi tentang berbagai hal tentang TBP, apa yang kami lakukan, dan kenapa kami melakukannya. Pembicaraan yang saya anggap ringan itu ternyata mengendap di hati dan terus menemani saya. Pun menjadi topik sapaan saya pada peresmian perpustakaan sepanjang sisa perjalanan di Ende.

PSX_20180219_133259Sekilas memang benar, yang kami lakukan tampak sekadar membuka perpustakaan ramah anak secara fisik. Kami melakukan seleksi sekolah, mendukung penyediaan buku dan perabotan, membantu renovasi ruangan, memfasilitasi pelatihan bagi pustakawan dan guru, serta mendampingi proses persiapan dan awal penyelenggaraan perpustakaan.

Tapi sejatinya, yang kami niatkan lebih dalam dan lebih luas dari itu. Pembukaan perpustakaan hanyalah tampilan fisik; sebuah pewujudan dari tindakan yang lebih mendasar. Saya katakan pada teman videographer, yang TBP lakukan adalah membantu mewujudkan mimpi adik-adik kami, anak-anak kami – anak-anak di kawasan timur Indonesia.

Kita semua tentu ingin melihat adik-adik, anak-anak kita, hidup lebih baik dari kita. Seperti yang seorang teman saya pernah katakan kepada anak-anak didiknya, “Kamu boleh tetap menjual tahu seperti orang tua kamu. Tetapi kenapa tidak sekalian punya pabrik tahu dengan merek terkenal yang menjual ke seluruh Indonesia. Kamu boleh terus berkutat sebagai tukang ojek seperti orang tua kamu. Tapi sekalian saja punya bengkel motor, atau beberapa motor yang disewakan, atau bahkan penyewaan mobil.”

Cara kami di TBP untuk mendukung mimpi ini adalah dengan membuka perpustakaan ramah anak. Perpustakaan yang berisi bacaan-bacaan menarik, menyenangkan, dan membangkitkan imajinasi. Perpustakaan yang dilengkapi dengan berbagai kegiatan menyenangkan, seru, dan kreatif. Perpustakaan yang senantiasa membuat anak merasa aman, nyaman dan tetap menjadi anak-anak.

Karena kami yakin, melalui minat dan kebiasaan membaca yang lebih baik, anak-anak bisa lebih mudah memahami berbagai pelajaran sekolah dan pembelajaran hidup. Dengan membaca, anak akan lebih membuka cakrawala wawasannya. Anak akan lebih berani bermimpi – dan akan bermimpi lebih besar. Anak akan menjadi lebih percaya diri dalam melangkah untuk mewujudkan mimpi mereka.

Jadi, ya, kami di TBP bergerak untuk – atau tepatnya tergerak oleh – pewujudan mimpi generasi penerus bangsa di kawasan timur Indonesia.

Bukan tak ada minat, tapi akses rendah; bukan karena kurang, tapi karena potensi

PSX_20180219_133341Jawaban dari pertanyaan retorik “Kita khan ‘cuma’ buka perpustakaan ya? Kenapa jadi seheboh ini?” tidak berhenti di situ. Dia mengalir terus meliputi saya. Jawaban-jawaban ini seolah semakin menegaskan gambaran kenapa kami melakukan apa yang kami lakukan di TBP; dan meluruskan beberapa pemahaman yang mungkin selama ini kita miliki.

Minat baca rendah bukan karena memang karakter anak yang malas, tetapi karena akses ke buku berkualitas masih belum memadai. Mungkin teman-teman pernah melihat statistik yang menyatakan bahwa minat baca anak-anak Indonesia rendah. Saya kurang setuju dengan pernyataan itu. Seolah sudah menjadi karakter yang terpatri di jiwa anak-anak bahwa mereka benar-benar enggan atau malas membaca.

Apabila teman-teman berkesempatan mampir ke salah satu perpustakaan TBP, kita akan menyaksikan kebalikannya. Anak-anak begitu bersemangat membaca buku-bukunya – baik membaca sendiri, berdua, atau berkelompok; membaca lantang atau dalam hati; serta menggambar dari buku yang habis dia baca.

Dari situ, tumbuh keyakinan saya bahwa mungkin bukan minat baca anak-anak yang rendah. Lebih tepatnya, akses mereka kepada buku bacaan berkualitaslah yang masih kurang memadai. Seperti kata-kata yang pernah saya dengar, “Semua orang sejatinya adalah pembaca. Namun ada beberapa yang belum bertemu dengan buku yang tepat.”

TBP hadir di kawasan timur Indonesia bukan karena kami melihat kekurangan. Kami hadir karena kami melihat potensi, yaitu potensi anak-anak kawasan timur di Indonesia – khususnya, untuk rangkaian peristiwa minggu lalu, potensi anak-anak di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

TPSX_20180219_132847idak ada yang bisa lebih peka dalam menyadari hal ini daripada para guru dan orang tua sang anak-anak tersebut. Tak jarang ketika kami membuka sebuah perpustakaan, ada guru-guru dan orang tua yang menitikkan air mata haru melihat pemandangan anak-anak berkerumun di perpustakaan, tenggelam dalam buku mereka. Kami pun turut terharu.

Para guru dan orang tua ini paham apa yang telah berhasil mereka persembahkan bagi anak-anak mereka – sesuatu yang mereka dulu bahkan terbayang pun tidak. Mungkin mereka bahkan sekilas memiliki intuisi betapa anak mereka akan bisa berkembang – melebihi apa yang bisa kita capai bersama semasa hidup kita.

Dibukanya perpustakaan bukan merupakan puncak, melainkan baru sebuah permulaan. Salah seorang kepala sekolah mengatakan ini adalah puncak kerja keras kita selama enam bulan terakhir mempersiapkan perpustakaan ini. Betul. Memang terasa bahagia dan lega setelah berbulan-bulan semua pihak bekerja keras bahu-membahu menyiapkan segala sesuatu.

Pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa pembukaan perpustakaan bukanlah puncaknya. Bahkan, ini sekadar permulaan. Karena kerja sebenarnya baru dimulai pada saat kita meresmikan perpustakaan. Ketika kita sudah mulai membuka pintu perpustakaan untuk memenuhi kehausan anak-anak akan berbagai kisah yang bisa memperluas wawasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun mimpi mereka.

Salah seorang murid SD membacakan puisi dan mengatakan bahwa perpustakaan ini merupakan realisasi dari suatu mimpi mereka. Betul, satu mimpi – dari sekian banyak yang mimpi mereka. Pembukaan perpustakaan baru merupakan awal pewujudan mimpi-mimpi mereka. Pembukaan perpustakaan seperti bahan dan perangkat yang membantu anak-anak ini membangun landasan mimpi mereka.

Mereka punya mimpi, seperti halnya kami di TBP punya mimpi. Selangkah demi selangkah, kami izinkan mimpi kami bergulir seiring dengan bergulirnya mimpi anak-anak tersebut.

Tidak akan bisa bergerak kalau sendiri

Saya sadar betul bahwa TBP tidak akan mampu melakukan semua ini tanpa dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Izinkan saya untuk mengulang apa yang saya sampaikan pada akhir sapaan di sekolah terakhir yang saya kunjungi minggu lalu:
Puja, puji, dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan atas segala yang anugerah-Nya. Terima kasih saya haturkan kepada semua pihak terlibat – kepada orang tua, kepala sekolah, pustakawan, anak-anak, dinas, pemuka masyarakat, donatur, relawan, dan tim TBP – dari dasar hati saya yang terdalam atas kerja keras dan cintanya.

Dan kepada adik-adik saya di tim Taman Bacaan Pelangi – yang telah dengan senang hati tinggal di pelbagai pelosok kawasan timur Indonesia dan tak kenal lelah berupaya sepenuh jiwa dan raga untuk mewujudkan mimpi kita dan membantu anak-anak kawasan timur Indonesia mewujudkan mimpinya – tabik dan cinta untukmu.

PSX_20180214_112906

Artikel pertama ditulis untuk blog Taman Bacaan Pelangi.


*Saya mengacu ke perpustakaan-perpustakaan ini sebagai perpustakaan kami atau perpustakaan TBP – untuk mempermudah acuan saja. Karena sebenarnya perpustakaan ini adalah ‘milik’ bersama. Dana datang dari para donatur. Model perpustakaan merupakan buah pengalaman kami dan masukan dari mitra. Izin dan restu didapatkan dari pemerintah dan masyarakat setempat. Kebutuhan lahir dari hausnya anak-anak akan buku bacaan berkualitas. Renovasi ruang perpustakaan dilakukan bersama dengan para orang tua, pustakawan, guru, dan anak-anak. Acara peresmian merupakan upaya mandiri sekolah – guru, orang tua, dan anak-anak. Pengelolaan perpustakaan sehari-hari diselenggarakan oleh sekolah (utamanya perpustakaan dengan arahan dari kepala sekolah; ditambah guru-guru yang mengajarkan anak untuk membaca dan mengajak anak ke perpustakaan secara berkala).

Pengejewantahan pepatah berbahasa Inggris, “It takes a village to raise a child.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s