Tuhan mungkin gemas. Dia lantas memberikan jawaban-Nya: Kamu

Entah sudah berapa lama aku ingin menulis ini. Aku merasa tidak tahu bagaimana menulisnya. Bahkan ketika aku menulis kalimat ini pun aku tidak tahu apa yang kumaksud tentang “ini” – apa yang mesti dan akan kutulis. Aku hanya tahu bahwa aku menuliskan ini kepadamu.

Kubiarkan tulisan ini bergulir.

Baru menulis paragraf di atas pun air mataku sudah mulai merembes. Aku tidak menyangka tulisan ini begitu penting untuk diriku. Ya, kuizinkan tulisan ini untuk menggelinding. Jemari untuk menjadi perpanjangan segala aksara yang mencuat di kalbu. Walau aku masih belum tahu apa. Mari kita ketahui bersama.

Ada beberapa komentar yang ‘sering’ orang tujukan padaku. Salah satunya kudengar tepat sebelum aku memulai perjalanan denganmu. “Chill. Relax.” Lupa kata tepatnya, tapi seperti itulah – saran agar aku lebih santai dan lebih menikmati segala yang ada. Saran untukku lebih bersenang-senang.

Bukan pertama kali aku mendengar kata-kata itu. Begitupun dengan pernyataan bahwa aku terlalu serius dan pikiranku sangat rumit. Walau pernah aku mengernyitkan alis – bukannya pikiran dan hidup mereka lebih rumit dari pikiran dan hidupku? Heran.

Aku tidak benar-benar paham apa yang mereka sampaikan. Karena kebiasaan, aku tersenyum dan mengangguk. Tetap, ujaran mereka membekas di hati. Yang berarti kata-kata itu menyentuh sesuatu yang sensitif dalam diriku. Mungkin ada pergolakan. Mungkin ada protes. Ada denial. Atau mungkin ada pengakuan dan mulai ada kepercayaan dalam diri bahwa aku memang seperti itu dan tidak bisa berubah, padahal aku ingin. Keraguan dan konflik pun muncul dalam hati. Sedih melanda.

Tuhan mungkin gemas. Dia lantas memberikan jawaban-Nya: Kamu.

WhatsApp Image 2018-03-04 at 23.12.35Melalui kamu, aku tersadar:

Bahwa sama sekali tidak ada yang perlu aku lakukan. Tidak ada yang mesti aku ubah. Aku baik-baik saja dan bahkan lebih dari itu. Kebahagiaan, keceriaan, kesantaian, dan ketenangan itu sudah ada dalam diri. Cinta itu niscaya dan omnipresent. Hadir dalam berbagai rupa dan tak perlu definisi lebih lanjut.

Bersamamu, aku dengan sendirinya meluruh. Kita berbincang tentang berbagai hal. Dari hal super serius hingga hal-hal receh yang bikin risih untuk diungkap ke yang lain. Aku bisa seserius atau sesantai yang kumau. Aku dengan ringan terbahak, bersikap konyol, atau kadang menitikkan air mata. Bahkan aku bisa berdiam – dan kamu akan melihat itu; sedikit bergeser memberiku ruang. Aku diterima apa adaku; bahkan dikagumi dan disayang.

Apa yang kuungkap, kamu mendengar penuh perhatian. Pandanganmu terasa hangat dan kadang usil. Kamu menanggapi tulus – tanpa merendahkan, tanpa rasa kasihan, dan hampir tanpa judgement.

Kalau pun terasa judgement, kita paham itu dari diri kita masing-masing. Kita masih terwarnai berbagai keyakinan, sudut pandang, dan pengalaman hidup yang subjektif dan sementara. Itu pun tidak mengapa. Acapkali kita menertawai diri sendiri – hal-hal absurd yang sudah menempel lekat dan terlalu kocak untuk dianggap serius.

Semua ini berlaku dua arah. Kamu padaku, begitu pun aku padamu.

Perbincangan berlanjut. Kita merambah berbagai lokasi. Kita berdiam di beragam tempat. Bergantian melakukan segala sesuatu. Mengalir alami tanpa komando. Seakan tahu siapa melakukan kapan. Mengizinkan satu sama lain berbuat baik. Melakukannya dengan senang hati. Sedikit sekali keluar kata permisi atau maaf — karena memang tidak perlu. Perlahan aku mulai paham untaian kata tersohor dari film lawas Love Story: “Love means never happen to say I am sorry.”

Menikmati sekitar. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati keberadaan diri. Menikmati versi diri ketika sedang bersama.

Mau ke mana setelah ini, mau makan apa – semua diputuskan dengan hati pada saat itu. Sedang ingin apa kita saat ini? Segala ‘keputusan’ terasa tepat. Terasa ringan. Terasa menyenangkan. Terasa sempurna.

Kita terhanyut dalam waktu. Hingga saat berpisah tiba. Walau kita sebenarnya tidak pernah benar-benar berpisah. Tinggal dicolek sedikit, kamu akan muncul kembali. Begitu pun dengan aku. Tentu ada keinginan untuk lebih. Belum berpisah pun aku sudah mulai merindu.

Tapi aku sadar ini porsiku saat ini. Gusti Pangeran selalu mengatur yang terbaik. Aku pegang kata-kata penyeliaku yang lain, “If it is true friendship, it will always return.” Berjuta terima kasih kepadamu. Syukur tak terhingga kepada-Nya atas segala karunia, termasuk atas kamu dalam hidupku.

Aku percaya Tuhan menciptakan beberapa manusia untuk memastikan bahwa aku ingat, dan bahwa aku mendengar dan mematuhi-Nya. Sekadar jaga-jaga. Karena Tuhan tahu ada kalanya aku keras kepala dan tenggelam dalam apa yang kuyakini. Aku menolak mendengar kata orang. Kecuali beberapa orang-orang tertentu. Mereka yang kalau berbicara, aku mendengar. Kalau berpendapat, aku iyakan. Kalau memberikan saran, aku patuhi. Kalau mereka ada, aku luruh. Kamu adalah salah satunya.

Bersamamu, aku diingatkan bahwa aku tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi bahagia. Tidak perlu menjadi orang lain yang bukan aku. Tidak perlu mengubah apa yang ada sekarang. Aku jadi paham apa yang dikatakan oleh penyeliaku – “If you ask me, the easiest thing to do is to fall in love”.

Adamu membuatku tersadar kembali bahwa kita tidak tidak akan dibiarkan menjalani kehidupan ini sendiri. Selalu ada manusia-manusia indah sepertimu yang menemaniku, sebagai tanda kehadiran-Nya yang senantiasa. Menopangku ketika aku lemah. Memelukku ketika aku sedih atau merindu. Bersenda gurau bersama. Tertawa riang dengan atau tanpa alasan. Berjalan ringan, duduk bersama, atau gegoleran tanpa juntrungan. Mengada mengalir bersama Semesta. Mempersilakanku terus berjalan walau kamu belum tentu paham. Berada di samping menggenggam hangat tangan dan hati.

Denganmu, aku jatuh dalam Cinta – atau lebih tepatnya: denganmu, aku sadar aku senantiasa tenggelam dalam Cinta dan segala implikasinya: kelembutan, keluasan, keleluasaan, rasa santai, rasa dicinta, rasa percaya dan dipercaya, spontanitas, mengikuti apa yang ada, kebersamaan, persahabatan, keindahan, rasa ringan, rasa terang, kuat dan rentan sekaligus, bersentuhan dengan jiwa dan semesta, menyadari, mendengar dan melihat dengan jernih, berekspresi tulus, penuh syukur dan suka ria. Masih banyak lagi.

Aku tahu bahwa Cinta adalah keniscayaan. Bahwa aku selalu lebih dari cukup apa adaku. Bahwa aku adalah salah satu wujud Dia yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Indah. Begitu pun kamu.

Dan kita sama-sama tahu bahwa ini bukan tentang kamu. Bukan tentang kita. Bahkan bukan tentang aku. Seperti yang aku pernah bilang. “I love you, but it is not you.” dan kamu mengangguk paham seraya tersenyum. Cinta adalah keniscayaan yang tak mungkin ditolak. Dan dia luas tak terdefinisikan. Beruntunglah kita yang mengalami dan mengakui keagungan-Nya. Terhidupkan oleh Dia Sang Maha Cinta.

Tulisan ini aku guratkan agar kamu tahu. Agar aku terus diingatkan. Agar Cinta senantiasa hadir terakui.

Aku akan menutup tulisan kali ini dengan kutipan dari sebuah novel yang kubaca baru-baru ini: “Sometimes you simply needed someone kind to sit with you while you dealt with things.” Dari novel Eleanor Oliphant is Completely Fine karya Gail Honeyman. God has sent me you. I owe Him big time.

Pelukku untukmu. Teriring hangat cinta dan doa. Selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s