Pertanyaan ulang tahun: Windy

Pada ulang tahun saya beberapa waktu lalu, saya meminta tiga orang teman mengajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan dibebaskan apa saja yang muncul dalam benak mereka. Tiga teman yang kebetulan semua berkecimpung di @writingtable, yaitu Hanny, Nia, dan Windy (berdasarkan urutan abjad).

Ada pertanyaan yang diajukan dalam Bahasa Inggris, ada yang dalam Bahasa Indonesia. Akan saya tanggapi sesuai bahasa pertanyaan. Semoga nantinya diberi waktu untuk menuliskan terjemahannya.

Pertanyaan Windy saya tanggapi dalam postingan ini. Pertanyaan Nia sudah saya tanggapi terlebih dahulu. Sementara pertanyaan Hanny masih berproses.

Pertanyaan Windy

1. Kapankah kamu merasa sangat tidak berdaya dan pasrah? Mengapa dan apa yang kamu lakukan?

Baru-baru ini, saya kehilangan hp di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta. Tidak hanya satu, melainkan dua sekaligus. Ketika pertama menyadarinya, saya merasakan rasa terkejut melanda sekujur tubuh. Ada kata tajam “kok bisa” yang saya tujukan pada diri. Saya mengajak diri untuk diam sejenak. Saya izinkan rasa terkejut itu berproses. Tidak ada pikiran yang menyertainya.

Setelah mereda, saya ajukan pertanyaan pada diri: Apa yang perlu saya lakukan? Saya merunut kembali langkah saya. Hingga ke tempat terakhir yang seingat saya saya masih menggunakan hp. Di rumah makan tempat saya membeli oleh-oleh makanan untuk ibu saya.

Saya tanyakan kepada pelayan rumah makan. Tidak ada. Saya tanya apa ada cctv. Tidak ada. Pelayan itu demikian baik. Dia meminta saya meninggalkan nomor hp dan telepon rumah. Dia akan usahakan menelepon, siapa tahu ada yang menjawab. (Catatan tambahan: Keesokan hari ketika saya sudah berganti hp dan mengaktifkan kembali nomor saya, saya menerima telepon darinya. Ternyata dia benar mencoba mencarikan. Terima kasih banyak ya, Mbak. Tuhan memberkati.)

Pertanyaan kembali muncul: Kemudian bagaimana sekarang? Sudah jelas hilang. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk menemukannya. Tanggapan yang muncul adalah: Ya teruskan saja niat awal ke mall ini. Membeli beberapa hal untuk perjalanan saya mendatang. Saya pun meneruskan belanja keperluan dalam daftar saya.

Setelah itu saya pulang. Saya melakukan apa yang perlu saya lakukan. Saya menelepon penyedia layanan selular untuk memblokir nomor kartu sim. Saya menghubungi teman yang akan saya temui keesokannya lewat medsos. Mbak pijat datang ke rumah – sudah janji. Saya bisa rasakan badan saya terus memroses kejadian ini.

Yang saya sadari adalah bahwa tidak ada rasa sedih yang menonjol. Yang saya sadari, aku tidak bisa melihat ini sebagai musibah. Tidak buruk. Yang terjadi adalah semata kejadian. Tuhan punya rencana dan Dia Maha Tahu yang terbaik untuk saya. Ada rasa percaya dan bahkan ingin tahu – apa rencana-Nya. Semua baik-baik saja.

Dari situ, timbul rasa syukur. Bersyukur ada rasa lapang ini. Bersyukur bisa terus berjalan. Bersyukur atas segala keberlimpahan. Bersyukur dengan ‘untung’-nya orang Jawa – untung hanya HP, untung ada HP pengganti, untuk bukan yang lain, dan berbagai untung lainnya. Bersyukur bahwa saya merasa bersyukur.

Saya juga memohon ampunan. Atas kelengahan ini. Utamanya kelengahan untuk tidak mengingat-Nya. Untuk tidak berjalan dengan nama-Nya. Padahal, ketika baru-baru ini saya diperjalankan untuk sebuah pekerjaan, ada satu lagu di audio mobil yang terus menempel dalam benak “Tak’kan kulangkahkan kakiku lagi. Tanpa bimbingan-Mu, Tuhan.” Saat itu saya berjanji. Kemudian lupa. Mungkin ini adalah pengingat.

Hidup berjalan terus. Mari menapakinya.

Saya merenung cukup lama untuk memutuskan apa saya akan melanjutkan tanggapan ini. Karena sebenarnya, paparan di atas adalah tanggapan baru.

Sebelum kejadian kehilangan hp, kepala saya sudah mulai menanggapi pertanyaan ini. Merenung cukup lama, karena tanggapan pertama yang muncul sangat pribadi dan telah tersimpan lama dalam diri. Mungkin sudah saatnya dituturkan.

Ketika pertanyaan ini pertama hadir, memori saya melayang ke kejadian saat saya remaja. Ketika itu, saya menyaksikan salah satu anggota keluarga dekat saya melakukan pelecehan seksual kepada pembantunya. Saya berjalan ke bagian belakang rumah. Tetiba saya melihat laki-laki itu menggerayangi dan menciumi penuh nafsu si pembantu, sementara sang pembantu berusaha keras menolak.

Saya membeku tak berdaya. Menuliskan ini pun saya masih merasakan emosi yang teramat kuat dan air mata meleleh. Saat itu, saya tak mampu berteriak ataupun bergerak. Saya tidak mampu. Beku begitu saja.

Oleh si laki-laki itu, sang pembantu didorong ke kamar. Saya masih terus geming. Sebentar dia kemudian keluar dari kamar si pembantu dan berjalan melewatiku. Matanya membelalak, mukanya merah, mulutnya basah oleh liur. Laki-laki itu berjalan melalui saya. Pandangan lurus dengan wajah kaku, seolah di matanya saya tak ada. Dia berlalu tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Demikian pula dengan saya. Ini pertama kali saya berbagi cerita tentang kejadian itu.

Lama saya tidak tahu mesti saya apakan pengalaman ini. Tidak saya tolak juga. Saya menyadari betapa berartinya pengalaman ini. Saya izinkan pengalaman tersebut bertengger dalam memori, beserta segala emosi yang rekat menggelutinya. Saya percaya, Saya akan memproses semua ini pada waktu-Nya.

Salah satu cara tubuh, pikiran, dan memori saya memproses ini adalah ketika saya pergi ke sebuah retreat meditasi. Tetiba setelah hari usai – sekitar jam 9.30 malam, entah hari ke berapa – emosi membuncah begitu hebat. Saya menangis tersedu-sedu. Melangkah cepat ke luar ruangan meditasi. Duduk di bawah rindangnya pohon besar di halaman. Terus saya menangis tersedu. Saya tahu ada satu teman sedang duduk di dekat saya – dia demikian baik untuk tidak berusaha membantu saya. Sekadar hadir duduk diam di seberang sana. Yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat singkat: “I am so sorry. I am so sorry.” Berulang kali.

Sepanjang hidup, saya menyaksikan (dan mengalami) berbagai pelecehan seksual dan perlakuan tidak penuh kasih terkait hubungan non-platonik. Saya tahu saya belum tuntas dengan segala pengalaman ini. Karena ada jarak yang tetap saya jaga dengan para pelaku yang masih bersinggungan dalam hidup. Karena masih kuat emosi yang menguak setiap mengingatnya. Karena masih keras reaksi saya apabila menyaksikan atau mengalami kejadian serupa. Saya serahkan pada Waktu untuk mengatur bagaimana baiknya.

Tangisan hebat adalah salah satu cara saya memprosesnya. Tulisan ini cara lain. Bertutur gamblang pada sahabat juga cara lain lagi. Saya yakin pengalaman ini beserta berbagai pengalaman lain telah dan terus terolah. Semua menjadi tunas tuntunan dan dorongan yang turut membentuk hidup, perjuangan, minat, tekad, dan kecintaan saya. Saya yakin Tuhan Maha Baik. Saya yakin Dia mengurus segalanya dengan sebaik-baiknya.

2. Mengapa Jakarta? Dan apa dari Jakarta yang mirip Eva?

Jawaban alam sadarku adalah karena ibuku ada di jakarta. Motivasi sederhana, mendasar, dan kuat yang ditanamkan Tuhan untuk membuatku terus berada di Jakarta.

Jawaban lain adalah Jakarta merupakan lahan subur bagi saya bertumbuh. Segala terasa dekat – keluarga, teman, Beshara, Bali Usada, Paramadina, pekerjaan, dan kenyamanan kehidupan modern. Semua dimudahkan dan dipenuhi. Jakarta juga merupakan lokasi penghubung yang baik bila ingin beperjalanan ke mana pun.

Selain itu, Jakarta bisa menajdi ladang amal yang cukup baik. Ada yang bisa saya tawarkan. Banyak yang saya rasa bisa saya bantu. Duh, saya merasa jumawa menjawab seperti ini. Semoga sesuai.

Pertanyaan paruh kedua dari pertanyaan kedua ini membuat saya terhenyak. Selama ini, saya terbiasa menjawab bagaimana saya melihat Jakarta; tapi tak pernah terpikir apa dari Jakarta yang mirip dengan saya. Jangan-jangan, tanggapan terhadap pertanyaan ini bisa menjadi indikasi kenapa saya di Jakarta.

Karena masih belum bisa menjawab apa yang mirip, izinkan saya untuk menanggapinya dengan pertanyaan yang lebih jamak saya dengar: bagaimana saya melihat Jakarta. Siapa tahu dari situ bisa lebih terbayang tanggapan untuk pertanyaan yang sebenarnya diajukan.

Aku melihat Jakarta sebagai melting pot. Dia seperti apa yang kau lihat; dia seperti apa yang kau pikirkan tentangnya. Ada yang melihatnya mewah sekali. Ada yang melihatnya ganas sekali. Ada yang melihatnya nyaman sekali. Ada yang melihatnya sama sekali tidak nyaman dan membuat gerah.

Apapun pandangannya, selalu jelas. Sangat A atau Sangat B. Jakarta tidak pernah setengah-setengah. Jakarta bahkan bukan saja sangat A atau sangat B. Dia bisa jadi sangat A dan sangat B – kedua-duanya sekaligus. Tergantung bagaimana kita memandangnya.

Saya meyakini bahwa kita bisa nyaman berada di Jakarta, bila kita buat nyaman. Tentu ada kondisi ekstrem yang membuat pernyataan ini terasa terlalu utopis. Tapi bagi kebanyakan kita, saya yakin kita bisa nyaman di jakarta, kalau kita buat nyaman. Bila kondisi eksternal tidak bisa dinyamankan, maka kondisi internal kita bisa. Seperti yang pernah saya dengar, “Circumstances don’t matter. Only state of being matters.

Jakarta mengikuti kehendak atau state of being penghuninya. Dia merupa wadah kosong. Seperti kanvas putih yang mewujud dan terwarnai sesuai perangai dan gerak penghuninya. Lukisan ini terus berubah. Masih banyak pojok potensi Jakarta yang bisa tersentuh. Kalau pojok-pojok ini disentuh dengan kearifan dan kebaikan, akan muncul warna indahnya.

Pada saat yang sama, wadah kosong tetap memiliki bentuk dasarnya yang siap menampung isi yang akan tertuang. Kanvas putih tetap memiliki karakteristik kanvas dan warna putih. Ada landasan “jiwa” Jakarta yang unik tak tergoyahkan. Jiwa yang demikian bijak dan luas. Melingkupi maskulin dan feminin. Gagah dan lemah lembut. Jalal dan jamal.

Demikian dengan penghuninya. Ada penghuni-penghuni Jakarta yang jiwanya pun luas tak tergoyahkan – di tengah gonjang-ganjing yang ada. Merekalah yang menjadi poros bagi kota ini untuk terus kokoh.

Sementara ini, Jakarta masih menjadi pusat pusaran pergerakan Nusantara. Ia tengah menggeliat, membersihkan semua yang ‘bukan Jakarta’ dengan caranya sendiri. Potensinya akan mewujud sempurna setelah semua jernih.

Jakarta berada di tanah Jawa; menurut guru saya, kata ‘jawa’ merujuk tidak sekadar pada lokasi fisik, tapi lebih kepada mereka yang tercerahkan. Tanah jawa adalah tanah bagi mereka yang tercerahkan.

Selain itu, kalau dilihat dari ulang tahun, Jakarta berzodiak Cancer. Saya Aries. Cancer selalu menjadi salah satu sahabat terbaik Aries – dalam hal ini, bukan kesamaan, tetapi komplementer. Saling mengisi.

Ibu adalah sekadar ‘alasan’ yang diberikan Tuhan agar saya tidak ragu untuk berada di kota ini.

Apakah ini menjawab?

3. Kalau Eva akan menulis sebuah buku, buku tentang apa yang akan kamu tulis? Dan mengapa?

Saya akan menulis apa yang saya lihat, apa yang saya alami, apa yang saya rasakan sejujur mungkin. Karena saya hanya bisa berbagi apa yang saya miliki. Dan yang saya miliki adalah itu. Pengalaman – yang saya lihat, yang saya dengar, yang saya ecap, yang saya rasakan, yang terucap dari mulut, yang muncul dalam benak, yang hadir dalam hati, yang menggerakkan diri.

Saya tidak tahu siapa yang akan membaca. Saya juga tidak paham siapa yang bisa mendengar saya. Mungkin itu bukan urusan saya – saya tidak perlu ambil pusing siapa yang akan membaca, siapa yang mendengar, atau bagaimana tanggapan mereka.

Peran saya adalah untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam diri sejujur yang saya bisa, tanpa ditambah atau dikurangi; bahkan tanpa berusaha menjelaskan atau memberi alasan. Ini adalah diri saya dan ini yang mendesak untuk terekspresikan oleh ‘diri’ saya saat ini.

Saya hanya berdoa, berharap, memohon tuntunan, agar apa yang saya sampaikan jernih semata. Tidak lebih. Tidak kurang. ‘Secukupnya’ yang lebih merupakan kecukupan atau bahkan keberlimpahan.

Kalau ditanya sementara ini apa yang saya lihat dan saya rasakan, maka tanggapan saya adalah kehadiran-Nya, dalam berbagai Nama Indah-Nya. Sapaan lembut dan dekat dari-Nya di setiap saat dalam hidup.

Tulisan saya adalah ajakan untuk berjalan bersama. Melihat apa yang saya lihat. Mendengar apa yang saya dengar. Merasakan apa yang saya rasakan. Menyaksikan yang saya saksikan. Kebajikan. Kasih Sayang. Keindahan. Cinta yang melebihi segala yang selama ini kita bayangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s