Selamat ulang tahun ke-25 Bali Usada

Kata-kata di atas tercetus ketika seorang teman meminta saya menulis 75 kata untuk disertakan dalam tumpeng ulang tahun Bali Usada ke-25, yang dirayakan di Jakarta pada tanggal 2 September lalu.

Kalau dihitung, tepat 75 kata. Pastinya bukan pikiran saya yang secara sadar menyatakan itu. Terlalu pas. Entah dari kedalaman mana muncul pernyataan tersebut. Yang pasti, saya turut tersentuh ketika pertama mengucapkan – atau tepatnya, mendengar diri saya mengucapkannya.

Saya tidak ingat bagaimana saya bisa bertemu dengan Bali Usada. Saya juga tidak ingat kenapa saya memutuskan untuk mendaftar ke meditasi retreat Tapa Brata I Bali Usada di Baturiti, Bali. Yang saya ingat, saya tiba di sana tanpa ekspektasi tertentu, lempeng-lempeng saja. Ikut duduk bermeditasi berhari-hari.

Sampai pada hari keempat, saya termasuk yang dipanggil untuk menemui Bapak Merta Ada. Setelah berbincang singkat, beliau bertanya pada saya, “Apa ada yang ingin Eva tanyakan?” Saya katakan pada beliau seperti yang saya tulis dalam 75 kata tersebut, “Saya tidak punya pertanyaan apa-apa saat ini, Pak. Tapi saya ingin sampaikan ke Bapak, kalau saya ingin belajar terus dengan Bapak.” Kenapa? Saya juga kurang paham. Tapi saya menyadari bahwa saya mau.

Baru-baru ini seorang teman bertanya kepada saya, “Kalau ingin belajar spiritual, tentang kehidupan, siapa yang bisa loe sarankan sebagai guru?”

Pikiran saya menggelinding halus ke pelosok-pelosok memori kehidupan yang relatif baru. Beberapa kajian yang masih saya hadiri. Sosok-sosok guru dalam kehidupan saya – yang telah mendahului kita maupun yang masih hidup. Yang hadir dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk ajaran seperti dalam buku.

Satu-satunya yang saya temui sebagai sosok guru dalam alam fisik ini yang muncul dalam benak, hanyalah Pak Merta Ada. Wah, sebuah penyadaran baru bagi saya.

Tidak, saya tidak merasa mengagung-agungkan guru saya yang satu ini. Dia juga tidak ingin saya memuja-mujanya. Tetapi beberapa kualitas yang hadir pada dirinya, seperti kesederhanaan, komitmen, cinta kasih, kemanusiaan, rasa hormat terhadap sesama makhluk, keredahhatian, keinginan untuk terus berbakti, semangat untuk senantiasa belajar, kepercayaan kepada Sang Suci, merupakan pengingat kuat akan nilai-nilai yang terasa luhur dalam jiwa saya.

Tapi Pak Merta bukan satu-satunya guru saya di Bali Usada. Bahkan, bisa jadi Bali Usada itu sendiri yang menjadi guru bagi saya. Semua pengalaman yang saya dapati selama berinteraksi dengan Bali Usada, turut membentuk saya menjadi apa saya sekarang. Saya yang akan senantiasa berubah setiap saatnya. Anicca.

Belum ada ‘sekolah’ meditasi yang saya rasakan dapat memberikan kepada saya penjelasan dan bimbingan yang demikian mudah dicerna, lengkap, dan menyeluruh. Bali Usada berbicara soal kesehatan fisik, pikiran, dan memori, ketenangan batin, serta perbuatan baik. Hal-hal yang mudah dicerna oleh kita-kita yang awam ini, karena di keseharian kita, semua itu kita temui.

Siapa yang tidak pernah mengalami sakit fisik, lelah terbebani pikiran sendiri, dan memori yang lengket bukan main sehingga menciptakan trauma dan membentuk kebiasaan dan cara pandang kita? Siapa dari kita yang tidak mau sehat, batin tenang, dan berbuat baik? Semua ini kita kenal, dan kita inginkan.

Bali Usada juga menerapkan sebuah sistem langkah per langkah yang mudah diikuti. Sehingga mereka yang belum pernah sekalipun bermeditasi duduk diam bisa terbantu, mengikuti dan merasakan manfaatnya.

Keterlibatan sebagai instruktur atau asisten dalam beberapa kegiatan Bali Usada juga teramat memperkaya saya. Dari situ, saya belajar untuk tidak (terlalu) berasumsi tentang orang lain (atau diri saya sekalipun). Saya jadi sadar betapa kita tidak tahu cerita dari orang yang berhari-hari duduk diam di depan atau sebelah kita. Tidak tahu apa yang bergejolak dalam batinnya atau terjadi pada fisiknya – trauma dan penyakit apa yang sedang dialami, siapa bisa tahu.

Saya belajar bahwa walau disiplin dan prosedur memang perlu, tetapi cinta kasih dan fleksibilitas juga sama perlunya atau bahkan lebih penting lagi. Untuk santai dan melepaskan hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan bayangan.

Untuk percaya kepada rekan-rekan sesama instruktur atau pelatih ketika sudah berbagi tugas – atau lebih tepatnya, percaya bahwa apapun yang terjadi, semua sejatinya baik-baik saja. Mari melangkah ringan. Untuk memberikan ruang yang cukup bagi diri dan orang lain, karena kita semua sedang berproses, lebih dalam dari yang kita kira. Dan bahwa semua itu adalah agung.

Berada di tengah-tengah sahabat meditasi Bali Usada, membuat saya benar-benar merasa di tengah sahabat-sahabat. Semua berkumpul dengan niat berbuat baik. Semua ingin sehat, semua ingin tenang. Semua sedang belajar dan berproses. Semua semangat – ya ini yang paling saya suka – semua semangat untuk berbuat baik.

Baru-baru ini, ketika Lombok dilanda gempa, salah satu sahabat meditasi mengatakan bahwa ada daerah yang butuh baju hangat dan tenda karena daerahnya begitu dingin, sementara desa mereka luluh lantak.

Serentak teman-teman tergerak. Hari itu juga, satu orang mengajukan rumahnya untuk tempat mengumpulkan donasi, sahabat-sahabat lain mengumpulkan baju hangat di rumah tersebut, kemudian dua hari kemudian, langsung dikirimkan ke lokasi pengumpulan di Jakarta, untuk kemudian dikirim ke Lombok. Begitu juga teman-teman di Bali – dilakukan hal yang sama.

Ya – sebuah pengingat yang sangat penting bagi saya. Berada di tengah sahabat-sahabat yang tergerak dari hati, dan tergerak dengan penuh semangat tulus, selalu menghangatkan hati saya. Menyulut lentera hati hingga lebih berpendar, sehingga semakin terang ke mana saya sejatinya condong. Apa yang sebenarnya penting bagi saya, apa yang sejujurnya saya sukai.

Saya jadi ingat komik Buddha yang saya baca baru-baru ini, ketika Buddha disarankan untuk memilih pemimpin penerus yang cakap berorganisasi, beliau menjawab (dengan terjemahan bebas dari komik bebas), “Saya lebih suka memilih seorang pemimpin yang mendedikasikan dirinya untuk menolong manusia menemukan kedamaian dan kebahagiaan.”

Begitulah. Semua kecakapan yang saya pelajari sepanjang hidup akan menjadi tumpul dan salah-guna bila tidak ada apa yang disampaikan dari cerita di atas; bila tanpa disertai dengan cinta kasih dan keinginan tulus untuk menolong sesama makhluk menemukan kedamaian dan kebahagiaan, serta mewujudkan potensi diri sejati.

Sesuatu yang bermula sesederhana dari keinginan untuk sehat telah merekah menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dari perjalanan pembersihan diri. Untuk lebih bisa menjalani kehidupan secara lebih jujur – jujur dalam arti apa yang tercetus di dalam diri tercermin lebih jernih dalam ujaran, sikap, dan perilaku. Jujur juga dalam arti lebih mendekati kesejatian diri kita masing-masing.

Dua puluh lima tahun Bali Usada telah berjalan. Tidak terbayang bagaimana bagaimana seseorang seperti Pak Merta Ada dan para sahabat meditasi, terutama yang telah mendampingi sejak awal, bisa tekun berbagi tanpa menyerah. Sekitar 40an retreat meditasi per tahun, sekian banyak kelas reguler, bicara di sana sini, siaran bimbingan meditasi pakai mixlr setiap hari, mengerjakan kegiatan media sosial, memikirkan rencana jangka panjang, dan berbagai kegiatan lainnya. Suatu dedikasi terhadap kehidupan yang luar biasa.

Bagi saya pribadi, 10 tahun berjalan bersama Bali Usada, sama sekali tak terasa lama. Puji syukur dan terima kasih atas segalanya. Semoga masih diberikan kesempatan untuk terus berbuat baik dan belajar bersama Bali Usada.

Semoga semua hidup berbahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s