diam

beragam keresahan, ketidakpastian, dan pertanyaan muncul akhir-akhir ini. semua tertanggapi dengan sapaan tunggal: berdiamlah. bersimpuh dan menghadap kepadanya. lepas segala upaya, tanya, dan bahkan asa . diam. tenang. jatuhkan diri dalam cinta. jadikan keseluruhanmu pendengaran, seperti yang rumi sarankan. luruh bagai lilin saat terbakar utuh dan hanya meninggalkan api.

entah untuk apa aku sampaikan semua ini. kau sudah paham bagaimana berdiam. kau pernah mencicipinya berulang kali. kau tahu bagaimana kembali ke tempat itu. kau tahu kau bisa, kapan pun. yang perlu kau lakukan hanyalah mengingat. ingat untuk kembali dan kembali lagi. saat sadar kau terlupa, kembali lagi. ke tempat yang satu itu.

tempat itu selalu ada, selama kau ada. senantiasa terbuka untukmu kembali. (bahkan pada saat kau tiada, tempat itu saja yang mengada. sebuah babak lain yang tak perlu kauhiraukan untuk saat ini.)

nah, sekarang kau mulai ingat, seperti yang pernah tersampaikan, bahwa kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan untuk menapaki hidup. bahkan kau tahu segala yang perlu kau tahu.

berdiamlah. ingat. dengar.

luruh.

semoga lepas semua resah, ragu, takut, dan kabut. mewujud ekspresi luhung: resah menjadi tenang, ragu tahu, takut berani, dan kabut terang.

Lantas, dari geming, tergeraklah. dari hening, bersuaralah. pada waktunya. sehingga segalamu bening adanya. senantiasa tertuntun dan terselimuti cinta kasih. menjadi sinar bagi semesta layaknya hakikimu. dengan santun, riang dan ringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s