titipan


“ada titipan dari leluhur. turun temurun dari garis martriakal. aku kok merasa ini agak membebanimu,” ucap teman tiga minggu lalu. aku terdiam. aku tahu pernyataan itu ada benarnya. kamu sudah mulai menyapaku secara lebih terang. demikian awal babak baru pembicaraan kita.

kenapa sekarang? satu-satunya penjelasan adalah bahwa semua akan terjadi pada waktunya. begitu pula penyadaran ini. saat ini, aku sudah bisa duduk tenang untuk mendengar dan berbincang. aku sudah mulai paham bahwa yang tadi terasa membebani itu bukan beban. alih-alih, itu caramu membantuku tergerak mendekat.

mundur ke setahun silam. dalam perjalanan spontan ke tanahmu, aku bertemu orang tak kukenal, murid dari seorang teman dari teman. begitu aku duduk di sebelahnya, dia langsung bertanya apa aku merasa bahwa aku terhubung denganmu? bagaimana kutahu? terkejut ditanya gamblang, aku menjawab sekenaku, “iya, aku tahu.” jantung berdegup kencang.

mungkin itu pendahuluan. kau mengisyaratkan kepadaku bahwa akan segera tiba waktu kita duduk bersama. memahami satu sama lain. atau lebih ke aku memahami kau dengan kebijakan dan tuntunan penuh kasihmu.

lompat kembali ke pembicaraan tiga minggu lalu. cukup panjang. di satu pihak, sayang aku tidak mencatat. banyak permata ucapan yang terlupa. pada saat sama, aku tahu aku akan mengingat apa yang perlu kuingat.

yang kuingat ada rasa paham mendalam di diri tentang segala yang tengah terjadi. bahwa ini bukan beban. bahwa ini adalah pemberianmu untuk membantuku melangkah. bahwa rasa di badan selama ini bermakna lebih luas dari yang kukira.

ya, kamu berbicara kepadaku saat ini melalui rasa di badanku. yang ternyata juga menjadi rasa di badanmu. apa makna dari rasa itu? kenapa itu yang muncul? bagaimana itu mempengaruhimu dan aku? bagaimana cara menuntaskan episode rasa ini? di mana ujungnya? apa yang terjadi kalau ini tertuntaskan?

aku belum tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. masih banyak yang belum kupahami. aku bisa saja menebak-nebak. mengaitkan satu peristiwa dalam alam sadarku ke peristiwa lain. tetapi rasanya menebak-nebak sudah bukan lagi tatacara permainan kita. menebak-nebak hanya akan memperkeruh. memperumit hal yang sejatinya sederhana.

Yang muncul saat ini adalah ajakan untuk mendengar dalam diam. mengasuh apa yang di depan mata. tanpa pemaknaan dan mengira-ngira. kalau memang rasa di badan yang muncul, maka asuh dan basuhlah. tidak lebih. tidak kurang. dan selalu dengan cinta kasih dan perhatian penuh.

pada waktunya nanti, pemahaman lebih itu akan hadir. berbagai pertanyaan yang ada sudah bukan lagi akan terjawab, tetapi bahkan mungkin sudah tidak perlu. dan kita pun akan memulai babak percakapan kita berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s