teman

hari ini tepat untuk menulis tentang pertemanan, menurut semesta. didampingi tiga ibrahim, sang sahabat dekat tuhan (khalil allah), dalam hidupku.

tema ini mengular di kepalaku selama beberapa hari belakangan. bermula dari sapaan untuk mendengarkan semesta, dan mengikutinya. muncul kembali pertanyaan yang lama bersemayam dalam diri. mengusik dari waktu ke waktu:

aku semestinya melakukan apa? kayaknya ada yang lebih yang harus kulakukan. masa’ begini aja. mirip gumaman yang ditulis oleh hafiz dalam puisinya, “i should be doing a hell of a lot more with my life than I am, because i am so damn talented.”

hafiz bilang, boleh bicara seperti ini, tetapi semenit saja per hari. selebihnya, menurut hafiz, gunakan sisa hari untuk melihat diri seperti tuhan melihat kita, karena dia tahu “true royal nature” kita. penuh cahaya dan alunan musik indah.

pesan serupa disampaikan oleh halaman fusus yang terus terbaca olehku sebulan terakhir. buku itu mengajakku merenungi betapa tuhan tahu kita seperti apa sejatinya, kita siapa sesungguhnya: cerminan unik darinya. indah betul.

dari situ, pikiran–yang menurut osman fazli adalah pengunjung dari surga dengan misi mengasah pembeda (furqan) kita hingga lebih halus dalam memilih dan memilah baik/buruk—terus mengalir. mengajak berpetualang dari satu titik ke titik lain. menyaksikan pemandangan terhidang yang menakjubkan.

andaikan aku bisa melihatku dari matamu, pikirku. kamu yang begitu mencintaiku dan kucintai. kamu yang demikian indah, dan melihat hanya keindahan yang sejatinya tak lain dari dirimu. pikiran pun mewujud menjadi doa. permintaan kepadamu untuk meminjamkan penglihatan dan pendengaranmu. karena hanya kamu yang bisa.

lantas aku bisa merasakan sesak dan resahku. perlu diam untuk bisa, ujarmu. diam pun aku tak bisa. hanya kamu yang bisa membuatku terdiam. doa lain pun disuguhkan. izinkan aku berdiam dalam heningmu.

kamu tahu ada rasa dalam diri yang membuatku merasa tak pas: tak pas untuk berdiri di depan (kelas atau khalayak), tak pas untuk berbagi pemahaman dan pengalaman dalam lisan/tulisan resmi, tak pas untuk tegak di bawah sorotan lampu benderang, tak pas untuk meresepkan langkah (acak dalam hidupku) untuk diikuti oleh yang lain.

dulu pikirku itu karena aku belum bisa menyisihkan ego. tentu ini ada benarnya. mungkin suatu hari nanti akan hadir rasa pas dengan semua itu. tetap untuk saat ini, muncul pikiran baru. ketidakpasan itu bisa jadi karena itu memang bukan untukku (saat ini). dengan segala potensiku, segala asih asah dan asuhku, ada hal lain yang menjadi porsiku.

berbagai memori, sebentuk pikiran berbeda, bermunculan. beragam peristiwa yang terjadi dalam hidup. beragam kostum peran yang kukenakan. berbagai prefensi yang kupilih. berbagai rasa nyaman saat memilih yang pas dengan jujurnya diri. coba lihat, apa yang terus menjadi pola dari semua ini.

aku terhenyak.

bahkan sejak sekolah aku tidak pernah punya peran menonjol yang jelas.  ke sana ke mari, nongkrong dengan ini dan itu, ngobrol ketawa ketiwi. dalam pekerjaan pun, aku memilih menjadi konsultan, yang hampir tak pernah tampil; cenderung di belakang layar. cukup senang dengan melihat yang tampil berhasil.

sekarang pun demikian. kerja semakin di belakang layar. atau malah agak ke samping di belakang layar itu. mendampingi tanpa peran resmi. sekadar hadir. berbincang. bercanda. menitikkan air mata. atau (ter)diam. bergerak hanya bila terasa perlu. selebihnya mendengar, menyaksikan, dan menikmati kehadiran (kamu dan aku). atau bahkan, memberikan ruang bila perlu, sambil terus mendoakan.

memang ada beberapa hal yang agak di depan layar. di situ pun, aku tidak merasa (perlu) menawarkan sesuatu baru. sekadar menjalankan yang sudah ada. untuk apa, pikirku. selain ribet, toh yang ada sudah mencukupi. hanya perlu didampingi untuk menggelinding. mungkin sambil dirapikan sana sini sedikit biar semakin kinclong.

atau, yang kusuka, terlebih untuk beberapa orang tertentu, adalah memberikan ruang untuk berbagi rasa dan cerita. atau untuk menghempaskan diri seada-adanya. beberes rumah, di mana pun itu. menyediakan kudapan dan minuman. duduk berbincang maupun dalam diam. yang mana pun yang terasa pas. atau bahkan, memberi pojok untuk rebahan. mungkin lelah. atau jalan-jalan. kemanapun ingin.

lantas aku ingat pernah bicara kepadamu hai sang bijak, bahwa aku tidak ingin menjadi seorang rumi. (kalau boleh,) aku ingin menjadi seorang sham terhadap seorang rumi. tema itu lagi: teman. sahabat seperjalanan. ternyata sudah tersadari dari dulu.

sudah jelas peranku. untuk saat ini.

malahan sudah kujalankan peranku. dan sangat kunikmati. tidak perlu ditambah atau dikurangi. tidak perlu dipikir ataupun ditimbang-timbang. seperti kamu, sang maha tinggi, pernah bilang: “ini bukan perkara (menjaga) keseimbangan. ini perkara pemahaman.”

kini aku pun paham. benar, itu membuatku tenang. ah aku senang.

satu lagi yang aku kenang darimu. ketika kamu dulu suka tiba-tiba berubah fokus lantas ngeloyor pergi dariku, padahal kita sedang berbicara. aku sebal dan rasa itu aku sampaikan padamu. kamu, temanku, bilang: “bukankah pembicaraan kita sejatinya tidak pernah terputus? we are always in conversation.”

manis. terima kasih.

(ps: ketika aku klik publish, muncul pesan darimu. gembira bukan main. sampai terharu. is joy your name? you whose name is a reflection to my potentiality. honestly, these words arise again, spoken for the second time today: being loved is the most wonderful feeling in the world. thank you for being the bearer of love to me, dear friend. we are truly in converse for always.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s