tidak bekerja

ketika hari tidak bekerja sesuai rencana, tiba waktu untuk berhenti. mungkin ada pesan yang menuntut untuk didengar. baiknya kita berhenti sejenak, bernapas sadar, lantas menyimak: apa yang baru saja terjadi?

pagi ini seperti itu. beberapa hal secara beruntun tidak bekerja. rencana hari ini berantakan. sedih sempat membuncah. di tengah kegundahan hati dan pikiran nan mengelana, bagian diri lain bekerja. kaki tetap melangkah. tangan terus bergerak. mengambil alih praktis untuk memperbaiki keadaan. terus menggulirkan roda hidup.

what did I just say?” itu yang terucap begitu saja olehku. akupun kaget mendengar dirimu berucap. terlalu spontan untuk mengalir dari pikiran. entah bagian apa dari diri yang melontarkannya.

sesaat sebelum itu, aku sedang memindahkan beberapa benda, dari satu tas ke tas lain. tasbih yang selalu kubawa beberapa bulan belakangan kuambil dari kantong tas. Begitu kutarik, tasbih itu luluh lantak. terlepas ikatan benangnya. butir-butir kayu zaitun sontak menyebar di lantai. terserak beserta emosiku.

langsung sekali responmu, pikirku. baru saja aku bergumam, mungkin saatnya aku tidak terlalu banyak mengucap eksplisit namamu. beberapa kejadian baru-baru ini membuatku jengah. ketika namamu diumbar walau dengan niat dan konteks kebaikan. aku merasa lebih sreg ketika namamu tidak terucap, walau tetap keagunganmu terungkap. (maaf aku tidak bisa lebih eksplisit lagi dalam bertutur.)

dari situ, tadi pagi aku bergumam, mungkin aku tidak seperti itu lagi. aku bisa lebih universal dalam berekspresi. tidak perlu eksplisit mengucap namamu. pengucapan tentangmu hanya akan kulakukan pada lingkaran lebih pribadi. tidak lebih semenit kemudian, tasbih ambyar. terlontar ucapan, “what did I just say?”

terima kasih sudah mengingatkan. bahwa aku senantiasa perlu menyanjung namamu. tanpa ragu. tanpa ditutupi. sudah terlalu banyak yang menutupimu. membungkusmu sedemikian hingga menjadi implisit. padahal yang dimaksud tetap kamu.

karena, kata mereka, banyak yang alergi dengan namamu, atau apapun yang mengatasnamakanmu. jadi sebaiknya tidak tersebutkan.

lucunya, bukankah ini tepat apa yang kuprotes beberapa waktu lalu? kenapa sih orang begitu alergi dengan namamu? kenapa tidak bisa kita sebut dengan eksplisit? bahwa kamu yang melandasi semua ini. bahwa semua ini ekspresimu. sekarang malah aku bergumam untuk mengatakan aku bukan itu lagi.

pada saat sama, aku paham, kau lebih besar dari semua ini. tasbih itu, pengucapan namamu, atau mengatasnamakanmu, semua itu hanya ekspresimu, bukan dzat-mu. secara hakiki, semua ini tidak ada yang bukan ekspresimu, bagi mereka yang paham. kebesaranmu tak akan terusik oleh apapun yang terjadi di semesta. apalagi oleh apa yang (tidak) aku lakukan.

pembicaraan kita beranjak ke tahap selanjutnya. mewujud sebuah ajakan untuk mengambil satu langkah ke belakang. ternyata bukan urusanku apakah namamu terucap atau tidak. bukan pilihanku kapan saat pantas dan tidak. kembali ke niat.

lagi-lagi pesan itu muncul. kembalilah ke diam. dengar. pahami. apapun yang jernih muncul darinya, tergeraklah. keep it clean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s