mas djarot dan melati di sisinya

IMG_5598namanya djarot. mas djarot – karena ketika pertama mengenal dia, dia masih dewasa muda. mas djarot tinggal di kerajaan sekitar gunung merapi. kira-kira masa pertengahan. ketika jawa masih benar-benar jawa.

mas djarot seakan hidup di dua dunia berbeda. dia bekerja sebagai kusir kereta kencana. dengan segala kegemilangan kehidupan istana. dia dipercaya sebagai kusir kereta raja. lalu saat putri raja beranjak dewasa, raja meminta mas djarot untuk menjadi kusir kereta sang putri.

bagi banyak warga, hal ini dilihat sebagai yang pada zaman sekarang disebut demosi, turun tingkat. namun tidak bagi mas djarot. dia memandang ini sebagai kepercayaan tiada tara dari sang raja. hanya dengan mas djarot, raja nyaman menitipkan putri tercinta saat berkelana di luar jangkauan pandangan raja.

putri pun senang mendapatkan mas djarot sebagai kusirnya. dia sudah lama mengenal mas djarot. mas djarot tuh orangnya enak diajak ngobrol dan curhat. dia pendengar yang baik, banyak senyum, dan pandai menyimpan rahasia. itu penting. plus mas djarot tekun merawat kereta dan kuda. dia juga sudah paham betul destinasi-destinasi favorit sang putri.

dunia kedua mas djarot adalah rumahnya. mas djarot sudah membentuk keluarga kecil: dia, istri, dan dua anak: sulung perempuan, bungsu laki-laki. bukan main sayangnya mas djarot pada keluarga kecilnya itu. rumah mereka sederhana, di kampung dekat istana. terbuat dari bambu dengan atap dedaunan kering, rumah mas djarot terpenuhi cinta, cerita, ilmu, kesahajaan, dan canda-tawa.

mas djarot juga disenangi oleh warga sekitar. setiap pergi dan pulang kerja, dia selalu menyapa dan disapa oleh siapapun yang berpapasan dengannya. “pendiam sih, tapi murah senyum. dan gampang banget kalau diminta membantu,” begitu komentar warga sekitar pada umumnya.

semua merasa mengenal mas djarot dengan baik. namun, tidak banyak yang tahu betapa malam-malam mas djarot diisi dengan sedikit saja tidur. dia hampir selalu terjaga duapertiga malam untuk menyesapi semesta, langit dan buwana. hening bersama suasana malam. terang di dalam segala kegelapan. paham yang muncul dari kegemingan. dalam keseharian pun, mas djarot sebenarnya mendengar dan melihat apa yang sejatinya terjadi. diam dan senyum adalah tanggapan yang dipilihnya. entah mengapa tidak lebih dari itu.

kehidupan berjalan aman, damai, dan tenteram. ideal rasanya. hingga suatu saat, alam memutuskan untuk menggeliat. gunung merapi yang tinggi menjulang di hadapan kerajaan jawa ini menggelegar menyemburkan asap, api, lahar, dan segala partikel lain. menggetarkan batin bahkan mereka yang paling ajeg sekalipun.

warga kerajaan yang berlokasi dalam jangkauan semburan itu panik berhamburan. rumah, jalan, dan bangunan lain dalam sejentik jari luluh lantak oleh kekuatan alam yang membahana. tak ada waktu mengemas harta benda, bahkan sehelai baju sekalipun. para warga lari menyelamatkan diri dengan membawa harta paling berharga: keluarga.

demikian dengan keluarga muda mas djarot. mas djarot bergegas menggendong sang bungsu, sementara istri menggandeng sang sulung. mereka berlari menjauh dari sang gunung perkasa yang seakan tengah murka.

perjalanan mulai menanjak, ke bukit yang selama ini enggan didekati warga. kelelahan menerpa. sang istri terpeleset. mas djarot memegangi tangannya lembut, dan mengajaknya berdiri kembali. mereka melanjutkan perjalanan. untuk kesekian kali, sang istri terpeleset. tangannya terlepas dari mas djarot. kali ini, sang istri terhuyung dan dengan tangkas melepaskan pegangannya ke sulung. sang istri jatuh bergulir bagai batu ke kaki bukit.

mas djarot dan kedua putri-putra hanya bisa terhenyak. insting dasar bergerak kala trauma melanda. dengan luka batin menohok, djarot tangkas menggandeng sang sulung, terus menggendong sang bungsu, dan melanjutkan perjalanan, ke atas bukit yang entah menuju ke mana. saat sang sulung sudah tak kuat, mas djarot pun menggendong sang sulung juga. tak tahu dari mana kekuatan itu dia dapatkan.

mas djarot baru berhenti ketika dia sudah tidak kuat lagi melangkah. kedua anaknya dia turunkan ke tanah; terisak, setengah pasrah, dan penuh kebingungan atas keadaan yang dihadapi.

baru setelah berhenti mas djarot menyempatkan diri untuk melemparkan pandangan ke sekitar. di manakah mereka? terasa asing. sebuah gerbang putih dengan tembok desa yang putih pula. herannya, suasana sunyi tetapi tidak mencekam. malahan ada rasa damai menyelinap dalam kalbu ketiga insan ini.

gerbang terbuka perlahan. tampak beberapa warga melangkah dari dalam, mendekati keluarga muda mas djarot. kedua anak digendong oleh warga, sementara mas djarot dipapah. mas djarot pasrah, anak-anak pun. rasanya tidak berbahaya. mereka dibawa masuk ke desa.

di dalam desa, semakin banyak warga yang tersenyum menyambut. di depan sebuah rumah, mereka berhenti. seorang eyang djanggut putih menatap penuh kasih. mas djarot dan anak-anak dipersilakan masuk. mereka dihidangkan makanan hangat, dipersilakan membersihkan diri, dan disediakan tempat beristirahat.

“di manakah ini? kenapa aku belum pernah mengenal tempat atau orang-orang ini? ke mana para warga kerajaan yang lain?” batin mas djarot. tetapi dia terlalu lelah dan terlalu bersyukur untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik hatinya. putri putranya sudah aman, itu satu-satunya yang penting.

waktu berlalu. putri putra pak djarot terus bertumbuh menjadi dewasa muda. keduanya cakap, pandai, dan berhati baik. segala ilmu telah warga desa bekali bagi mereka, mulai dari membuat segala bentuk kreasi (rumah, perangkat, alat musik, dsb), dan beragam ilmu seperti memasak, berkebun, menyembuhkan, berkuda, merawat hewan, hingga membela diri.

sementara pak djarot hidup seperti biasa. dia merasa tugasnya hanya menjaga kedua putri-putra. pak djarot tinggal di rumah sederhana dengan kebun kecil di sekitarnya. berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari; sesekali membantu tetangga melakukan kegiatan-kegiatan remeh. sesekali mengunjungi eyang djanggut putih yang sangat sayang kepada keluarga kecil pak djarot.

suatu hari yang tidak didahului oleh mimpi, wangsit, atau pertanda yang jelas, pak djarot seperti biasa berkunjung ke pondok eyang janggut putih. kebetulan singkong di kebunnya sedang panen melimpah ruah. oleh eyang djanggut putih singkong itu direbus, diparutkan kelapa, dan dinikmati bersama. tak lupa wedang teh herba ramuan sendiri turut melengkapi kudapan mereka.

di tengah obrolan bebas ini, eyang djanggut putih tetiba berkata, “djarot, sudah saatnya kamu kembali ke wargamu. mereka membutuhkanmu.” pak djarot tertegun. dia tidak berkata apa-apa. dia bisa merasakan bahwa kata-kata eyang adalah keniscayaan. bukan sesuatu yang bisa didiskusikan, apalagi dibantah.

pak djarot dan putri-putranya pun berbenah. mereka mengemas barang keperluan secukupnya untuk perjalanan. eyang djanggut putih memberikan petunjuk ke mana mereka harus berjalan dan pelukan hangat. beberapa warga desa mengantar sampai batas tertentu, sekitar dua-tiga hari perjalanan. ketika tetumbuhan dan hawa udara sudah mulai terasa berbeda, mereka berhenti dan berpisah. pak djarot dan putri putranya melanjutkan perjalanan, sesuai dengan arahan eyang.

perjalanan berlanjut hingga empat-lima hari. kembali tetumbuhan terasa berbeda. beberapa jam kemudian, djarot dan putri-putra dihadapkan pada hamparan padang rumput. di kejauhan, tampak kebun dan perkampungan. atmosfer terasa familiar.

“djarot? kamu djarot? kamu dari mana saja?” ujar para warga desa, ketika djarot dan kedua putri putra melangkah memasuki kampung. banyak wajah yang dikenal tetapi sudah lama tak dijumpai. mereka adalah yang dulu menjadi orang-orang kerajaan. kawan-kawan lama yang baru sekarang tersadari sangat dirindukannya.

desa tampak demikian asri dan resep. ke mana kerajaan, tanya pak djarot. sudah tidak ada, jawab para warga. begitu merapi mereda, warga berkumpul dan sepakat untuk membangun kembali apa yang telah luluh lantak. secara alami, ada kesepakatan bahwa mereka akan melalukan ini dengan kesetaraan. tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, walau tetap ada pembagian fungsi yang cukup cair. semua mengalir alami. saling bantu. saling mencukupi. bahkan sang putri pun sekarang hidup sebagai orang biasa, dan dia baik-baik saja dengan itu.

djarot dan putri-putra disediakan tanah untuk tinggal dan berkebun. rumah didirikan secara bergotong royong. karena sudah pada dewasa, putri-putra mendapatkan bagunan sederhananya sendiri dalam lahan yang sama. sesuai prinsip para warga desa sekarang yang demikian mengayomi dan mengayemi.

mbah djarot tua terus hidup dengan nyaman. dia berbahagia dikelilingi para keturunan dan sedulur sedaya. sebenarnya mbah djarot masih menyimpan duka, yaitu rasa kehilangan istri tercinta yang tak terobati. duka yang (pada akhirnya) dia akui telah menahan dirinya untuk dapat beperjalanan lebih jauh.

sesekali ketika mbah djarot sedang menyeruput wedang di pendapa mungil depan rumahnya, terngiang pesan eyang djanggut putih: “kemelekatan terhebat adalah kemelekatan yang tak dinyana sebagai kemelekatan. kemelekatan yang sering kita salah artikan sebagai cinta.”

eyang djanggut putih diam sejenak, beliau memungut bunga putih yang terjatuh dari pohon dan meletakkannya di sisi mas djarot muda. eyang djanggut putih melanjutkan, “bila tiba saatnya, lepaskan bahkan itu. lepaskan bahkan apa yang kita sebut cinta. sehingga ada ruang bagi cinta sejati untuk bersemayam. dari situ, mengadalah. jadilah ekspresi cinta paripurna.”

kala itu, mas djarot muda hanya manggut-manggut. bahkan saat ini pun mbah djarot tua masih manggut-manggut kalau mengingat kata-kata eyang djanggut putih. “mungkin pada kehidupan berikutnya,” pikir mbah djarot, seraya menghela napas panjang dan meletakkan bunga yang dia pungut dari bawah tanaman melati. “biarlah dalam kehidupan ini aku terus menyimpan memori dan luka ini, atas nama cinta. dalam kehidupan ini, cukuplah bagiku kamu dan anak-anak kita. mungkin pada kehidupan berikutnya.”

dan mungkin, kehidupan selanjutnya adalah kini. saat melepas telah menjelang. dengan terus menghayati kebersahajaan dan kepuasan batin akan apa yang menjadi porsi kita.