menyapa kehidupan

“apakah kamu berminat bertemu dengannya? mari,” ajakmu pada suatu pagi. mataku terpicing dan mulutku mengerucut. aku menimbang-nimbang ajakan tiba-tibamu. saat itu aku masih bermalas-malasan di sofa ruang tengah. namun, rasa ingin tahu terlalu menggelitikku. aku mengangguk. kamu tersenyum dikulum. aku tahu kamu tahu bahwa aku akan mengiyakanmu.

kita beranjak ke stasiun kereta kota kita saat itu. untukku, stasiun kereta di mana pun terasa sama. stasiun kereta adalah sebuah tempat asing sekaligus akrab; sebuah tempat antara, jarang destinasi; tempat yang memadankan antara keberangkatan dan kedatangan, kebahagiaan dan kesedihan, serta pertemuan dan perpisahan.

stasiun kereta adalah ajang people-spotting ideal. sungguh mengasyikkan bila kita dapat mengamati perilaku manusia dengan segala ketergesaan atau kebosanan, semangat, kebahagiaan atau kesedihan, kehebohan pengepakan berlebih atau kesantaian seadanya, serta penikmatan kebersamaan atau kesendirian. manusia memang menarik.

kami berdiri di depan pintu kedatangan bersama segelintir penyambut lain. “sebentar lagi,” ujarmu tersenyum. mungkin kau melihat aku sudah mulai gugup. mata kami menatap pintu yang berputar setiap kali pejalan melintas.

dua puluh menit berlalu. pintu berputar untuk kesejuta kali. seorang perempuan setengah baya muncul dari balik pintu. aku terhenyak. tubuhku seperti terpaku ke pusat bumi.

perempuan itu berambut lurus rapi, dikuncir satu dengan karet sederhana. dia beraut wajah alami berlapiskan bedak tipis. tubuhnya tampak bugar, sepertinya banyak bergerak. baju luar perempuan itu berwarna cerah dengan corak bunga abstrak. dia tampak mencolok, tetapi tetap patut dan berkelas.

rupanya dia paham aturan fesyen bahwa hanya perlu satu komponen pakaian yang ditonjolkan, sementara yang lain biasa saja. Selain baju luar berwarna-warni, lapisan baju di dalam, bawahan, dan alas kaki yang ia kenakan berwarna netral dan nyaris tanpa corak.

lebih dari itu, dia muncul dari balik pintu dengan riang gembira. entah kapan aku terakhir kali melihat orang sesumringah itu. dia seperti orang yang baru selesai berlibur dari surga tropis, atau mungkin orang empat musim yang baru tiba di negara tropis.

kamu melambaikan tangan padanya. dia menghampiri kami tanpa ragu dan lincah memelukmu. lantas dia memandang ke aku dengan senyum tulus dan cinta kasih. ada jeda sedetik-dua detik dalam pandangannya. mungkin dia menimbang-nimbang apakah baiknya memelukku atau sekadar berjabat tangan.

peluk, putusnya. dia merentangkan kedua tangannya dan memelukku erat dan lama. aku meleleh. kebahagiaan dan keutuhannya merambat ke diriku. sekejap aku dapat merasakan kediriannya.

mungkin seperti ini orang yang benar-benar hidup. aura gemilang memancar dari pusat diri. tak ragu untuk berlaku sesuai tuntunan hati. ceria sebagai ekspresi syukur dan perayaan atas kehidupan. bebas cemas. hadir utuh selalu. pada saat yang sama, geming, membumi. rendah hati, ringan, aman, cukup, simpel, respek, dan paham.  melihat, merasa, mendengar, bercakap, dan bertindak dengan kacapandang cinta kasih.

kami lalu mencari tempat untuk duduk berbincang santai. pilihan kami jatuh pada sebuah kedai tak jauh dari pintu keberangkatan, waktu kami tak banyak. sekadar mengisi waktu transit selama dua-tiga jam, sebelum dia melanjutkan perjalanan.

setelah berbincang ngalor-ngidul sebentar dan memesan minuman dan makanan, aku tak kuasa menahan penasaranku. kuminta dia bercerita tentang dirinya, bila berkenan. “boleh saja, kalau memang benar itu yang diinginkan,” katanya ringan. dia pun mulai menuturkan kisah hidupnya.

perempuan itu tinggal di sebuah lembah negeri empat musim, tanah air suaminya. mereka tinggal di sebuah rumah, dikelilingi kebun berbagai tanaman pangan dan hewan peliharaan (banyak pula yang (setengah) liar). beberapa warga sekitar pulang-pergi membantu merawat rumah dan kebun. ada pula pengunjung—teman lama dan baru—mampir untuk turut menikmati keberlimpahan ini.

sesekali perempuan itu berkelana. dia tidak bisa menolak bila ada ajakan mengampu kegiatan menarik. ya, baginya, “menarik” adalah satu-satunya kriteria untuk mengiyakan atau menolak sebuah ajakan. apalagi kalau ada mata acara berdansa—diiyakan saja dulu, rincian dipikirkan kemudian.

namun, semakin lama, semakin sering dia di rumah saja. toch, katanya, sudah banyak pengampu yang lebih mumpuni. toch, telah ada teknologi yang memboyong banyak kegiatan ke ranah daring. sambil tetap di rumah atau di mana pun kita berada, kita tetap bisa bercengkerama, tetap bisa berbincang, tetap bisa berpartisipasi, dan tetap bisa menari.

hal ini berkebalikan dengan sang suami, kata dia sambil memperlihatkan foto-foto di ponsel. aku melirik ingin tahu. sang suami yang dia bicarakan bentukannya macam indiana jones. tampak menyenangkan, cerdik, jenaka, mapan, simpel, dengan mata penuh hidup dan cinta kasih–serupa perempuan itu. sang suami lebih sering berkelana, karena pilihan profesi kemanusiaan yang mengharuskan dia ada di lokasi.

“tidak apa?” tanyaku, keluar begitu saja. “sama sekali tidak apa,” ujarnya. bahkan, menurut perempuan itu, hal ini adalah pengaturan hidup sempurna bagi mereka: berpasangan karena (sangat) menikmati berjalan bersama, dan, pada saat yang sama, tetap dengan kedirian masing-masing, saling mendukung, dan saling terpukau. lagipula, ada teknologi yang memungkinkan mereka bercakap setiap hari. mereka memilih video call (atau audio call kalau video tidak memungkinkan) ketimbang bertukar teks.

“jadi tawaran apa yang biasa kau iyakan?” tanyaku kembali, haus akan lebih. kali ini dia menghadapkan diri kepadaku. mungkin dia mendengar kesungguhan dalam pertanyaanku. dia menanggapi, “macam-macam. tergantung apa yang terasa di hatiku pada saat tawaran datang. kalau sreg, aku akan bilang iya, tanpa ba-bi-bu.”

“namun, kalau ditanya keinginanku,” lanjutnya setelah menyeruput tehnya, membeli waktu untuk menimbang apakah akan melanjutkan jawabannya, “aku ingin teman-teman melihat betapa indah dan penuh cintanya dunia kita. iya, itu. mari kita belajar melihat keindahan dan cinta. bukankah tuhan kita mahaindah dan mahacinta? siapa menurutmu dunia ini? siapa menurutmu kita—kamu dan aku—ini? btw, enak ya teh ini. boleh juga pilihan kedai kita.”

“bagaimana …,” ucapku perlahan, tetapi rupanya cukup lantang untuk terdengar. kali ini dia mengubah posisi duduknya. dia menyandarkan tubuhnya ke senderan kursi di belakangnya. matanya tak lepas dariku, walau alisnya sempat terangkat dan senyum mengembang–senang dengan senderan kursi yang ternyata empuk dan nyaman.

dia melanjutkan, “bagaimana dan kenapa adalah dua pertanyaan yang tricky dalam beperjalanan. hati-hati mengajukannya. alih-alih, dia bisa mempersempit wawasan jawaban kita. ingat bahwa pemahaman kita masih terbatas dan terwarnai oleh apa yang kita percayai dan masa lalu kita. apabila kita mengandalkan pemahaman itu untuk menjawab kenapa dan bagaimana, bisa jadi jawabannya akan parsial dan kurang membantu.”

“lagipula,” tambahnya, “kamu sudah tahu ‘bagaimana’. kamu bahkan sudah mulai menerapkannya. the usual lah. rileks. diam. menghadap. berserah. bertanya dan memohon. mengada pada pusat diri. tergerak. percaya. ya, percaya saja pada hidup dan sang mahahidup. semua sudah diatur. izinkan semesta untuk mengurus dan mengasuhmu. izinkan dirimu untuk disayang, untuk terpukau, untuk melihat begitu banyak cinta dan kebaikan dilimpahkan kepadamu dan mengalir darimu.”

“ah, buat apa aku bicara sepanjang ini? kamu khan sudah tahu,” tukasnya tiba-tiba, seperti tersadarkan oleh hal yang sebelumnya dia abai. aku merasa ucapannya mengalir begitu saja, bagai air mengarus melalui talang bersih. bahkan penyadaran yang membelokkan arah pembicaraan pun dia ucapkan. kita serasa dibawa dalam perjalanan batin, proses mengalirnya ide hingga menjadi ucapan dan tindakan dalam dirinya.

“izinkan dirimu berproses. kita masih hidup dalam dimensi waktu. jadi semua ini perlu waktu, perlu tahapan dalam takaran bobot dan waktu. sabar,” kembali dia berubah pikiran. sekarang dia memutuskan untuk melanjutkan. mungkin  kita memang perlu diingatkan walau sudah tahu. “ take care of your self. be gentle. be light. be in awe, easily. contentment is of course great, but so is joy. joy, to me, is one of the most profound expressions of gratitude. do you not see how much you are loved?

aku terdiam sejenak lalu bertanya (lagi), “jadi sebenarnya kamu itu ngapain aja kerjaannya?” entah apakah ini pertanyaan patut setelah segala yang dia tuturkan. aku sekadar belajar jujur mengikuti apa yang muncul di hatiku.

dia tersenyum. tak tampak kegusaran sama sekali. dia hanya menanggapi apa yang saat itu mengemuka, dengan senang hati. “gak tahu” ucapnya tergelak. “aku bukan siapa-siapa. kerjaku, kalau itu bisa disebut kerja, adalah happy-happy. diajak ke sana-ke sini hayuk, di rumah juga hayuk. mungkin bisa dikatakan, tugasku adalah menikmati hidup, menyaksikan keindahan dan cinta, lalu menyapanya. senantiasa menyapanya.”

“sudah waktumu untuk berangkat kembali,” tiba-tiba suaramu memotong pembicaraan, menyadarkan seperti selalu. stasiun kereta melakukan fungsinya. ada ketibaan, ada keberangkatan. ada pertemuan, ada perpisahan. kita pun mengucapkan salam perpisahan untuk sementara. seperti halnya segala dalam hidup perempuan itu, ucapan perpisahan berlangsung ringan. ada rasa syukur perjumpaan sudah terjadi.

perempuan itu pun berlalu. sesaat sebelum menghilang di balik pintu keberangkatan, dia menoleh, melambaikan tangan, dan menghembuskan kecupan melalui udara; tetap dengan senyum yang membahagiakan. bahkan dari jauh pun aku bisa merasakan tatapan matanya yang menembus sejuk hingga ke relung hati.

“kau tahu khan siapa perempuan itu?” ujarmu lamat-lamat.

iya, aku tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s