Schools of the future

By BEN OKRI

In the future, centres of learning will teach at least one thing we do not teach today: the art of self-discovery. There is nothing more fundamental in education. We turn out students from our universities who know how to give answers, but not how to ask questions.

Our students do not come in contact with the centres of wisdom in our culture. They leave universities with skills for the workplace, but with no knowledge of how to live, or what living is for. They are not taught how to see. They are not taught how to listen. They are not taught the great art of obedience, and how it precedes self-mastery.
Continue reading

Dangkalmu dalam

carefree-woman1

Aku sampai menoleh ketika kamu mengucap kata-kata itu
Mungkin tak kausadari
Aku menatapmu beberapa saat
Mencurahkan protesku melalui pandangan mataku
Walau entah kenapa kata-kata tertahan
tak terlontar dari mulutku

Menurutmu kamu dangkal
Yang kamu lakukan hanya menjalani hidup
Hari per hari
Menit per menit
Tidak macam-macam
Bahkan malah kadang “gak jelas” dan “gak penting
Continue reading

Tak berbatas

734795_10151215592322379_198425505_n

Laut senantiasa menawarkan obrolan menarik.

Untuk kesekian kali, aku duduk bersamamu. Untuk kesekian kalinya pula aku merasa, ah, jarak pertemuan kita selalu terlalu besar. Terlalu jarang kita bertemu. Rindu yang membasahi mata dan menggetarkan jiwa selalu melanda tiap kita jumpa. Baru terasa saat kembali kita bersentuhan. Continue reading

Terang-Mu mengada

imageAda sebuah cerita yang lama terlupa
Tuturan tentang diri
Tertimbun oleh alur kisah yang terbentuk oleh sekitar
Walau tak menghentikan
Apa yang ingin terkuak mengemuka

Cukup dengan niat untuk duduk
Geming dalam hening
Barang sejenak

Pertanyaan hadir menuntun
“Apa yang menghambatmu menjadi apa adamu?
Duduklah aku dengannya dalam jenak Continue reading

Bebas bahagia

imageAku duduk mendengarkanmu
Satu permintaanmu lekat dalam benak
“Bayangkan kau yang ideal. Ceritakan padaku seperti apa itu.”

Seorang perempuan
Bertubuh bugar bergerak gesit
Rambut terikat ke belakang
Muka polos tak bermake up
Berbalut baju berbahan lembut dan berwarna cerah

Ia tengah berdiri sejenak
Menghirup pemandangan alam di hadapan
Hamparan hijau dibumbui aksen warna lain di sana-sini
Tampaknya sebuah desa atau perkebunan

“Seperti apa ia?”
Tanyamu kembali menyentakku dari lamunan Continue reading

Ditertawakan

qbp8rieBapak Ibu saya adalah orang Jawa. Sayangnya hingga kini saya belum bisa berbahasa Jawa dengan baik karena di rumah Bapak Ibu memutuskan untuk berbicara Bahasa Indonesia. Sudah lama saya ingin belajar. Saya sudah mulai sedikit-sedikit. Mencoba berbicara dan bertanya kepada Ibu atau saudara saya di rumah bagaimana mengatakan ini atau itu.

Suatu kali, saya menaruh tulisan di Facebook dalam Bahasa Jawa. Namanya belajar. Jadi ada yang belum sempurna. Alih-alih diberi masukan untuk perbaikan, beberapa respon menertawakan bahasa Jawa saya. Bahkan dikatakan sudahlah, kembali ke berbicara Bahasa Inggris saja sebagaimana biasa.

Sejenak saya tertegun. Ada rasa sakit ditertawakan seperti itu. Saya tanggapi, “Jangan ditertawakan donk. Bantu saya memperbaikinya”. Dengan baik hati, teman-teman membantu menyempurnakan kalimat yang saya tulis.

Kejadian ini telah lama berlalu. Yang menarik, rasa sakit yang sejenak muncul itu masih terasa di saya. Rupanya rasa sakit lama. Bukan semata karena Bahasa Jawa saya jauh dari sempurna. Tetapi karena rasa sakit akibat ditertawakan dan dicemooh secara umum, yang rupanya masih bersemayam dalam bawah sadar saya. Continue reading