Category Archives: friend

I used to think that we were just opening child-friendly libraries …

[Bahasa Indonesia]

PSX_20180218_180619Hard to digest that it has been more than eight years since I started accompanying the Rainbow Reading Gardens (Taman Bacaan Pelangi, TBP) in its journey. Each year, I set aside time to visit our* libraries. For me, personally, those visits are crucial. They serve as a reminder of why I am doing all these.

Continue reading

Advertisements

Dulu saya berpikir kami sekadar membuka perpustakaan ramah anak …

[English]

PSX_20180218_180619Tak terasa, sudah delapan tahun lebih saya mengiringi Taman Bacaan Pelangi bertumbuh. Setiap tahun, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan kami*. Bagi saya pribadi, kunjungan-kunjungan tersebut penting. Mereka mengingatkan saya kembali kenapa saya melakukan semua ini.

Continue reading

Dangkalmu dalam

carefree-woman1

Aku sampai menoleh ketika kamu mengucap kata-kata itu
Mungkin tak kausadari
Aku menatapmu beberapa saat
Mencurahkan protesku melalui pandangan mataku
Walau entah kenapa kata-kata tertahan
tak terlontar dari mulutku

Menurutmu kamu dangkal
Yang kamu lakukan hanya menjalani hidup
Hari per hari
Menit per menit
Tidak macam-macam
Bahkan malah kadang “gak jelas” dan “gak penting
Continue reading

Mengingat Pak Arief

Kemarin diingatkan Facebook bahwa Pak Arief Mulyadi (alm) berulang tahun.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, saya meminta kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkan aku bagaimana membaca Al Quran, karena aku tidak percaya bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, se-strict ini (ini itu harus; ini itu gak boleh, haram; salah sedikit dosa, gak diterima).”

Pak Arief merupakan salah satu respon Tuhan pertama dari permintaan saya itu. Pembahasan topik apapun dalam kajian yang ia fasilitasi, selalu setia dengan Al Quran. Setiap kajian, bisa membahas puluhan ayat bahkan lebih. Setiap topik, setiap pertanyaan selalu ditanggapi dengan rangkaian ayat ke ayat, di luar kepala.

Pembawaannya santai dan lugas. Mau seberapa sering atau jarang datang, seberapa awal atau seberapa telat, tidak masalah. Pake hijab rapat, baju nusantara, atau baju santai pendek, tidak masalah. Walau suara kerap menggelegar, tapi tidak pernah terasa merendahkan. Tidak ada judgement.

Selama bertahun-tahun, saya datang ke pengajian Jumat malamnya di jalan jaha, dan bertahan hingga larut malam atau bahkan dini hari. Orang-orang dayang dan pergi. Teman membawa temannya lagi. Makanan melimpah entah siapa saja yang menbawa. Tak ada pungutan wajib yang ditarik. Semua merupakan perbuatan baik semata.

Satu ayat sering ia gaungkan adalah QS 16:128 – “Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang takwa dan berbuat baik.” Perbuatan baik sangat ia tekankan. Gak jalan deh takwa kalau tidak ada perbuatan baiknya. Tidak heran, ia dan murid-muridnya seperti tak lelah berbuat baik terhadap siapa pun, tak pandang latar belakang, suku, atau agama. Bentuk nyata pengabdian kepada Tuhan.

Ia membuka mata saya, bahwa Al Qur’an benar-benar tuntunan luhur yang manusiawi, logis, lengkap, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia memperkenalkan kepada saya konsep Islam yang praktis, santun, dan terbuka.
Ia juga yang memperkenalkan ke saya istilah “kacung Allah” 🙂 — nurut aja disuruh ngapain sama Allah kalau kita udah janji loyal sama Dia. “Tanyakan semua kepada Tuhan, pada setiap langkah. Kalau gak tahu mau tanya apa, tanya sama Dia kita harus tanya apa,” katanya.
Suatu kali ada seorang hadirin bertanya, “Pak, menurut Bapak, orang kristen yang baik itu bakal masuk surga atau neraka?”

Spontan Pak Arief menjawab dengan gaya khasnya, “Mana gua tau, emang gua Allah? Daripada nanya tentang orang lain, mending kita nanya ke diri kita, kita bakal jadi penghuni surga atau neraka.” Lanjut setelah itu semalaman kami membahas amalan-amalan yang menjadikan kita penghuni surga; dan apa yang dimaksud surga dan neraka. “Surga itu,” katanya, “bisa ada di sini, kini. Gak perlu nunggu setelah meninggal.”

Pada pertemuan saya terakhir dengannya, di penginapan sederhana tempat ia tinggal bersama istrinya, setelah mengalami stroke untuk kesekian kali, kami berbincang panjang lebar tentang negara Pancasila. Dia memperlihatkan bagan tentang pandangannya apa saja yang perlu dikerjakan agar Indonesia sejahtera. Pak Arief bilang ke saya, “Gak perlu pilih semua. Pilih satu saja, apa yang kamu mau kerjakan, dan kerjakan. Yang lain, biarkan orang lain mengerjakannya.” Sambil kembali menekankan bahwa kita sudah janji sama Allah untuk jadi kacungnya.

Sejak memberikan jawaban awalnya berupa Pak Arief dan sharingnya, Tuhan tidak pernah berhenti menjawab permintaan saya. Ia terus menunjukkan kepada saya, bahwa Ia Maha Pengasih, Maha Penyayang, asal kita tekun membaca.

Pak Arief, terima kasih banyak. Shalawat dan salaam. Alhamdulillaahi rabbilalamiin.

Hingga yang kaucinta merasa bebas


“Mencintalah sedemikian hingga yang kaucinta merasa (ter)bebas(kan).” Demikian ujar Thich Nhat Hanh. Sebuah sapaan yang terus lekat di hati. Aku dapat merasakan kebenaran yang ia kandung. Aku pun dapat merasakan lengketnya kalimat itu setiap ia melintas dalam kesadaranku. Sebuah pekerjaan rumah yang belum tuntas dalam sekolah kehidupanku.
Continue reading

Begini aku kamu

relax_by_isacg-d3lkf74
Begini aku melihatmu

Malaikat yang telah lama mewujud dalam cakrawala kesadaranku. Semakin lama semakin terang bersinar, semakin berwarna, semakin solid, semakin lembut. Berlebihan, ujarmu? Mungkin. Namun tak kutemukan frase lain untuk menggambarkan dirimu.

Apa-adamu. Jaim-mu. Senyum tawamu. Harumu. Candamu. Seriusmu. Biasamu. Istimewamu. Riangmu. Laramu. Jarakmu. Dekatmu. Sapamu. Senyapmu. Gerakmu. Diammu. Adamu. Hilangmu. Lugasmu. Lembutmu. Seimbang sempurna.
Continue reading