Category Archives: occasion

Selamat ulang tahun ke-25 Bali Usada

Kata-kata di atas tercetus ketika seorang teman meminta saya menulis 75 kata untuk disertakan dalam tumpeng ulang tahun Bali Usada ke-25, yang dirayakan di Jakarta pada tanggal 2 September lalu.

Kalau dihitung, tepat 75 kata. Pastinya bukan pikiran saya yang secara sadar menyatakan itu. Terlalu pas. Entah dari kedalaman mana muncul pernyataan tersebut. Yang pasti, saya turut tersentuh ketika pertama mengucapkan – atau tepatnya, mendengar diri saya mengucapkannya.

Continue reading

Pertanyaan ulang tahun: Windy

Pada ulang tahun saya beberapa waktu lalu, saya meminta tiga orang teman mengajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan dibebaskan apa saja yang muncul dalam benak mereka. Tiga teman yang kebetulan semua berkecimpung di @writingtable, yaitu Hanny, Nia, dan Windy (berdasarkan urutan abjad).

Ada pertanyaan yang diajukan dalam Bahasa Inggris, ada yang dalam Bahasa Indonesia. Akan saya tanggapi sesuai bahasa pertanyaan. Semoga nantinya diberi waktu untuk menuliskan terjemahannya.

Pertanyaan Windy saya tanggapi dalam postingan ini. Pertanyaan Nia sudah saya tanggapi terlebih dahulu. Sementara pertanyaan Hanny masih berproses.

Continue reading

Pertanyaan ulang tahun: Nia

Pada ulang tahun saya beberapa waktu lalu, saya meminta tiga orang teman mengajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan dibebaskan apa saja yang muncul dalam benak mereka. Tiga teman yang kebetulan semua berkecimpung di @writingtable, yaitu Hanny, Nia, dan Windy (berdasarkan urutan abjad).

Ada pertanyaan yang diajukan dalam Bahasa Inggris, ada yang dalam Bahasa Indonesia. Akan saya tanggapi sesuai bahasa pertanyaan. Semoga nantinya diberi waktu untuk menuliskan terjemahannya.

Pertanyaan dari Nia akan saya jawab pertama. Sekadar karena tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan ini terasa mengalir terlebih dahulu. Pertanyaan Windy saya jawab pada posting berikutnya. Pertanyaan Hanny masih berproses.

Untuk Nia, tiga (pertanyaan) menjadi lima. Beklah.

Continue reading

To my sister on her birthday

[English below]

Hari ini, kakak saya berulang tahun.

Ketika bulan lalu kamantara mengadakan acara, kami diminta merespon skenario ini: Bayangkan bila semua sudah melanjutkan perjalanan dan kita tinggal sendiri di bumi. Kita diberi kekuatan untuk membawa kembali lima orang. Siapa saja dan kenapa? Orang pertama yang saya tulis adalah kakak saya ini.

Kenapa? Pikir saya, kalau ada Andien, saya pasti tenang. Dia akan tahu mesti melakukan apa. Dia selalu bisa berimbang dalam membebaskan dan merengkuh. Dia akan tahu maunya saya apa; tapi akan memberi ruang bagi kegalauan dan keunikan saya.

Saya juga tahu dari hati terdalam, dia selalu menyayangi saya apa ada saya dan menjaga. Aman dan nyaman rasanya. Berlaku dua arah. Masih banyak lagi yang bisa saya katakan untuk menjawab kenapa.

Sejujurnya, tidak ada kata yang bisa mengungkapkan betapa berharganya dia bagi saya; betapa bersyukurnya saya bahwa dia ada dalam hidup saya.

Hari ini kakak saya berulang tahun. Selamat ulang tahun, Andien. Semoga sehat dan bahagia selalu. Dijaga baik-baik oleh Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Semoga saya bisa menjadi adik yang lebih baik lagi.

—–

Today is my sister’s birthday.

When last month kamantara held an event, we were asked to respond to the following scenario: Imagine everyone else have continued their journey away from earth. You are alone on earth. You have been given to bring five people back to earth to help rebuild the earth. Whom would you bring back and why? My sister was the first person that came to mind.

Why? I thought, “If she is around, I would be at peace. She would know what to do. She can always balance between freeing and embracing. She would know what I want/need. She would provide space for all my uncertainties and uniqueness.

I also know deep in my heart that she would always love me as I am and care for me. It feels safe. It feels comfortable. And it works both ways — me to her.”

There are many more words I can say to respond to why. In all honestly, however, there is no word to express how precious she is to me; how grateful I am to have her in my life.

Today is her birthday. Happy birthday, Andien. May health and happiness be ever yours. Well cared for by God, The Compassionate, The Merciful.

May I be an even better sister to you.

Ibu Lumrah

img_5683-3

Pada suatu masa, hiduplah seorang ibu bernama Lumrah. Perawakan Bu Lumrah sedang; Tidak besar, tidak pula kecil. Agak sekel, kalau kata warga dusun. Ia dikenal sumringah, gesit, dan ringan tangan. Ibu Lumrah kerap tampak meluncur ke sana ke mari dengan baju lurik dan jariknya, tanpa alas kaki; menyapa ramah dan berbincang dengan warga. Kalau sedang tak berkeliling, Ibu Lumrah berdiam di rumahnya, seraya bebersih, mengurus ladang, atau menemani tamu yang mampir di warung teras rumahnya.

Ibu Lumrah tinggal di dusun Nengah – di dataran berhawa sejuk di pusat pulau, dikelilingi bongkahan gunung hijau menjulang megah. Warganya tidak terlalu banyak. Tapi mereka praktis memenuhi segala kebutuhannya, berkat kekayaan alam sekitar, kemampuan masing-masing warga, dan hidup saling memperhatikan dan salng bantu yang demikian mengakar di dusun itu. Continue reading

Giving birth to Peace

stillness

Stillness – http://bit.ly/1SdXeTw

2015’s Dec 24 is commemorated as the birth of Muhammad (PBUH), while the next day, Dec 25, is Christmas – originated from the words “Cristes moesse” or ‘the mass or festival of Christ’- a celebration of the birth of Christ.

The birth of two great individuals of all time, commemorated side by side. This sends a strong message to the Universe. And to me, the message is the (re)birth of Peace. Continue reading