Category Archives: Quran

Mengingat Pak Arief

Kemarin diingatkan Facebook bahwa Pak Arief Mulyadi (alm) berulang tahun.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, saya meminta kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkan aku bagaimana membaca Al Quran, karena aku tidak percaya bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, se-strict ini (ini itu harus; ini itu gak boleh, haram; salah sedikit dosa, gak diterima).”

Pak Arief merupakan salah satu respon Tuhan pertama dari permintaan saya itu. Pembahasan topik apapun dalam kajian yang ia fasilitasi, selalu setia dengan Al Quran. Setiap kajian, bisa membahas puluhan ayat bahkan lebih. Setiap topik, setiap pertanyaan selalu ditanggapi dengan rangkaian ayat ke ayat, di luar kepala.

Pembawaannya santai dan lugas. Mau seberapa sering atau jarang datang, seberapa awal atau seberapa telat, tidak masalah. Pake hijab rapat, baju nusantara, atau baju santai pendek, tidak masalah. Walau suara kerap menggelegar, tapi tidak pernah terasa merendahkan. Tidak ada judgement.

Selama bertahun-tahun, saya datang ke pengajian Jumat malamnya di jalan jaha, dan bertahan hingga larut malam atau bahkan dini hari. Orang-orang dayang dan pergi. Teman membawa temannya lagi. Makanan melimpah entah siapa saja yang menbawa. Tak ada pungutan wajib yang ditarik. Semua merupakan perbuatan baik semata.

Satu ayat sering ia gaungkan adalah QS 16:128 – “Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang takwa dan berbuat baik.” Perbuatan baik sangat ia tekankan. Gak jalan deh takwa kalau tidak ada perbuatan baiknya. Tidak heran, ia dan murid-muridnya seperti tak lelah berbuat baik terhadap siapa pun, tak pandang latar belakang, suku, atau agama. Bentuk nyata pengabdian kepada Tuhan.

Ia membuka mata saya, bahwa Al Qur’an benar-benar tuntunan luhur yang manusiawi, logis, lengkap, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia memperkenalkan kepada saya konsep Islam yang praktis, santun, dan terbuka.
Ia juga yang memperkenalkan ke saya istilah “kacung Allah” 🙂 — nurut aja disuruh ngapain sama Allah kalau kita udah janji loyal sama Dia. “Tanyakan semua kepada Tuhan, pada setiap langkah. Kalau gak tahu mau tanya apa, tanya sama Dia kita harus tanya apa,” katanya.
Suatu kali ada seorang hadirin bertanya, “Pak, menurut Bapak, orang kristen yang baik itu bakal masuk surga atau neraka?”

Spontan Pak Arief menjawab dengan gaya khasnya, “Mana gua tau, emang gua Allah? Daripada nanya tentang orang lain, mending kita nanya ke diri kita, kita bakal jadi penghuni surga atau neraka.” Lanjut setelah itu semalaman kami membahas amalan-amalan yang menjadikan kita penghuni surga; dan apa yang dimaksud surga dan neraka. “Surga itu,” katanya, “bisa ada di sini, kini. Gak perlu nunggu setelah meninggal.”

Pada pertemuan saya terakhir dengannya, di penginapan sederhana tempat ia tinggal bersama istrinya, setelah mengalami stroke untuk kesekian kali, kami berbincang panjang lebar tentang negara Pancasila. Dia memperlihatkan bagan tentang pandangannya apa saja yang perlu dikerjakan agar Indonesia sejahtera. Pak Arief bilang ke saya, “Gak perlu pilih semua. Pilih satu saja, apa yang kamu mau kerjakan, dan kerjakan. Yang lain, biarkan orang lain mengerjakannya.” Sambil kembali menekankan bahwa kita sudah janji sama Allah untuk jadi kacungnya.

Sejak memberikan jawaban awalnya berupa Pak Arief dan sharingnya, Tuhan tidak pernah berhenti menjawab permintaan saya. Ia terus menunjukkan kepada saya, bahwa Ia Maha Pengasih, Maha Penyayang, asal kita tekun membaca.

Pak Arief, terima kasih banyak. Shalawat dan salaam. Alhamdulillaahi rabbilalamiin.

Advertisements

Giving birth to Peace

stillness

Stillness – http://bit.ly/1SdXeTw

2015’s Dec 24 is commemorated as the birth of Muhammad (PBUH), while the next day, Dec 25, is Christmas – originated from the words “Cristes moesse” or ‘the mass or festival of Christ’- a celebration of the birth of Christ.

The birth of two great individuals of all time, commemorated side by side. This sends a strong message to the Universe. And to me, the message is the (re)birth of Peace. Continue reading

Mengingat untuk menyelaraskan diri


“When you have finished your prayer, remember God – standing, and sitting, and lying down; and when you are once again secure, observe your prayers. Truly, for all the faithful prayer is a sacred duty joined to particular times.” QS 4:103, dari The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan sembahyang(mu), ingatlah Tuhan di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu kembali merasa aman, maka dirikanlah sembahyang itu. Sesungguhnya, bagi orang-orang yang percaya dan merasa nyaman dengan Tuhan, sembahyang merupakan suatu ketetapan luhur yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.” QS 4:103

Shalat (sembahyang) dan zikr (mengingat). Dua kata yang senantiasa menggelitik keingintahuan saya. Saat dua kata tersebut muncul dalam satu ayat dan seperti bergantian, saya mencoba memaknai ayat tersebut bagi saya pada saat ini. Yang saya tahu, pesan yang terkandung di dalamnya teramatlah penting.

Ayat ini merupakan sapaan yang demikian kuat untuk senantiasa menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu kita pada setiap saat. Untuk mengizinkan diri agar senantiasa tergerakkan dari lubuk hati yang terpenuhi oleh Tuhan.
Continue reading

Percaya dan nyaman


Let there be no compulsion in matters of faith
God is the Protector of those who have faith, leading them out of the depths of darkness into the light.
[QS 2: 256, 257]

Tidak ada paksaan dalam beragama (din) […]
Allah Pelindung (waliyy) orang-orang yang beriman; Dia menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya […]
[QS 2:256,257]


Dua penggalan ayat ini seakan merupakan untaian cerita bagi saya. Pada ayat pertama, kata Arab yang digunakan adalah “Laa” yang bermakna “tidak ada” sebagai suatu keniscayaan. Benar-benar tidak ada. 

Sementara kata beragama dalam hal ini mengacu ke kata Arab “din” — agama dalam artian cara mengada, jalan hidup, prinsip-prinsip pribadi yang tertanam kuat dalam diri kita dan tercermin dalam pikiran, ucapan, perbuatan dan perilaku kita. 

Terlepas apa yang kita akui sebagai agama kita, apa yang sebenarnya kita yakini sebagai nilai landasan hidup senantiasa tercermin dalam keseharian secara alami dan otomatis. Berlaku dua arah — pikiran, ucapan, tindakan, dan perilaku keseharian kita merupakan cerminan apa yang sebenarnya kita yakini dalam hidup. 

Continue reading

Janji Tuhan

Kembali saya membuka buku terjemahan beberapa ayat Al Quran dari Camille Helminski. Kali ini buku terbuka pada halaman bertuliskan ayat berikut:

The promise of God – never does God deviate from His promise;
but most people don’t understand.
They know only the external in the life of this world;
don’t they ever reflect within their own mind?
Only for just ends and for a determined time did God create the heavens and the earth and all between them;
Yet there are truly many among human kind who deny the meeting with their Sustainer!
Do they not travel through the earth and see what was the end of those before them?
They were superior to them in strength;
They tilled the soil and populated it more extensively than these have done;
There came to them their messengers with clear signs.
It was not God who wronged them but they who wronged their own souls.
[QS 30:6-9]

Continue reading

“… sebagaimana Tuhan telah berbuat baik padamu”

Bersama seorang sahabat, beberapa waktu lalu saya membolak-balik terjemahan beberapa ayat Al-Quran dalam buku The Light of Dawn: Daily Readings from the Holy Qur’an oleh Camille Adams Helminski dari The Threshold Society. Teramat menghangatkan hati.

Sahabat saya mengungkap betapa kita butuh diingatkan akan keindahan dan kelembutan makna Al Qur’an. Betapa Al Qur’an benar-benar suatu sapaan Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang yang mampu menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri masing-masing kita.

Saya merasa belum layak menjadi penerjemah Al Qur’an. Namun tentu tak salah bagi tiap-tiap insan pembaca Qur’an yang merasa tersentuh dengan tanda-tanda (ayat) yang indah ini, untuk berbagi rasa.

Pagi ini saya membuka kembali buku tersebut. Jemari saya membuka halaman dengan ayat berikut:

Qarun was doubless among the people of Moses; but he acted insolently towards them; such were the treasures We had bestowed on him that their very keys would have been a burden to a body of strong men. Witness, his people said to him: “Don’t gloat, for God does not love those who take pride in riches.

But with that which God has bestowed on you seek the Home of the Hereafter, yet do not forget your portion in this world—do good as God has been good to you and do not seek to do harm in the land; for God does not love those who act harmfully.” [28:76-77]

Continue reading