teman

hari ini tepat untuk menulis tentang pertemanan, menurut semesta. didampingi tiga ibrahim, sang sahabat dekat tuhan (khalil allah), dalam hidupku.

tema ini mengular di kepalaku selama beberapa hari belakangan. bermula dari sapaan untuk mendengarkan semesta, dan mengikutinya. muncul kembali pertanyaan yang lama bersemayam dalam diri. mengusik dari waktu ke waktu:

aku semestinya melakukan apa? kayaknya ada yang lebih yang harus kulakukan. masa’ begini aja. mirip gumaman yang ditulis oleh hafiz dalam puisinya, “i should be doing a hell of a lot more with my life than I am, because i am so damn talented.”
Continue reading

diam

beragam keresahan, ketidakpastian, dan pertanyaan muncul akhir-akhir ini. semua tertanggapi dengan sapaan tunggal: berdiamlah. bersimpuh dan menghadap kepadanya. lepas segala upaya, tanya, dan bahkan asa . diam. tenang. jatuhkan diri dalam cinta. jadikan keseluruhanmu pendengaran, seperti yang rumi sarankan. luruh bagai lilin saat terbakar utuh dan hanya meninggalkan api.

Continue reading

titipan


“ada titipan dari leluhur. turun temurun dari garis martriakal. aku kok merasa ini agak membebanimu,” ucap teman tiga minggu lalu. aku terdiam. aku tahu pernyataan itu ada benarnya. kamu sudah mulai menyapaku secara lebih terang. demikian awal babak baru pembicaraan kita.

kenapa sekarang? satu-satunya penjelasan adalah bahwa semua akan terjadi pada waktunya. begitu pula penyadaran ini. saat ini, aku sudah bisa duduk tenang untuk mendengar dan berbincang. aku sudah mulai paham bahwa yang tadi terasa membebani itu bukan beban. alih-alih, itu caramu membantuku tergerak mendekat.
Continue reading