Tag Archives: indonesia

Makan bersama Ibu

 

Setiap mendengar tawaran, “Mau makan di mana kita hari ini, Ma?” wajah Ibu saya selalu mendadak sumringah. Makan bersama sahabat dan keluarga merupakan momen-momen yang menghangatkan hati baginya.

Setiap minggu, minimal sekali, saya selalu menyempatkan diri untuk mengajaknya makan ke luar. Atau membawakan buah tangan setiap pulang dari pergi, walau cuma sekedar dari pergi meeting sekalipun. 

Setiap kali saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menikmati masa-masa berharga ini.

Pada saat yang sama, saya tahu bahwa saya belum benar-benar paham betapa berharganya waktu yang masih bisa saya nikmati bersama Ibu saya. 

Dan saya sadar betul bahwa segala waktu dan perhatian yang saya curahkan untuknya ini tidak akan pernah bisa mengimbangi apa yang telah Ibu saya berikan kepada saya dan kakak-kakak saya.

Sssh, we want to read …

cropped-img_3610.jpgImagine walking into a simple porch in a small village in an island in eastern Indonesia, and seeing 60-70 children sitting and quietly reading their storybooks. Drowned in an imaginary world beyond what they had ever seen.

No one was running about. A few whispered quietly to one another. One or two read the books for the smaller children beside them. As they finished one book, they swiftly went to the bookshelf to get another. Then, again, they quietly sat and read.
Continue reading

250 juta orang lainnya

Siapa pun presiden kita nanti, kondisi pasti berubah. Semoga yang terbaik untuk Indonesia.

Bagi saya, yang lebih menarik bukan tentang satu orang Indonesia itu, tetapi sisanya yang berjumlah lebih dari 250 juta ini — mereka/kita/Anda/saya: Apa yang akan kita lakukan untuk berperan dalam memajukan bangsa dan negara?

Pemilu berlaku bagi diri kita masing-masing. Saatnya menentukan pilihan. Kita memilih untuk berkontribusi seperti apa? Menjadi apa? Atau apakah bahkan dalam hal ini pun terpikir memilih menjadi golput?

Untuk Indonesia yang lebih baik.

“Pasti cina ya?”

Badan saya mengkeret setiap kali mendengar ungkapan itu. Terasa sakit di hati. Rasa serupa juga melanda ketika kata-kata di atas muncul sebagai ide judul tulisan beberapa hari lalu. Saya bukan orang yang konfrontatif. Tidak suka mencetuskan hal-hal yang kontroversial. Namun, kata-kata tersebut menetap di benak, berkeras untuk terekspresikan.

Baru-baru ini Indonesia diingatkan oleh peristiwa bulan Mei 1998. Di media sosial, ramai dengan tagar #menolaklupa. Mengingatkan kita akan suatu periode gelap saat rasa marah dan frustasi kolektif bangsa ditumpahkan kepada satu etnis tertentu. Layaknya pucuk gunung es di tengah laut, periode luapan marah yang singkat itu mencerminkan perjalanan yang jauh lebih panjang. Bara dalam sekam bangsa yang mungkin hingga kini pun belum padam sepenuhnya.
Continue reading